Date Selasa, 29 July 2014 | 19:44 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Opini

Padang Kota Kata

Esha Tegar Putra

Dublin adalah salah satu kota impian kesusastraan dunia. Ibu kota Republik Irlandia tersebut hadir, dimunculkan, dan ditasbihkan untuk menjadi salah satu tujuan berkunjung bagi peminat kesusastraan. Beberapa penulis karya sastra besar seperti Oscar Wilde, James Joyce, dan Jonathan Swift sengaja ditera menjadi ikon kota tersebut. Setidaknya hingga kini empat hadiah Nobel Sastra dari Akademi Swedia diterima oleh beberapa penulis diaspora atau berhubungan langsung dengan Dublin, Irlandia secara umum: George Bernard Shaw, WB Yeats dan Seamus Heaney, dan Samuel Beckett.

Tak ayal, Dublin dinobatkan sebagai Kota Sastra (City of Literature) oleh UNESCO pada tahun 2010 setelah kota Edinburgh (Skotlandia) pada 2004, Melbourne (Australia) pada 2008, Iowa (Amerika Serikat) pada 2008, dan menyusul setelahnya Reykjavik (Islandia) pada 2011dan terakhir Norwich (Inggris) pada 2012.

Dalam situs resminya Dublin City of Literature membanggakan kota tersebut mempunyai iven kesusastraan bergengsi di dunia, yakni IMPAC Dublin Literary Award. Sebuah ajang pemberian penghargaan bagi penulis dari negara manapun di dunia.Ajang bergengsi tersebut diorganisir oleh perpustakaan-perpustakaan di Kota Dublin dan didukung penuh oleh dewan kota mereka. Terakhir (2013) salah seorang penulis berdarah Irlandia, Kevin Barry melalui novelnya City of Bohane, meraih award tersebut sebesar 100.000 Euro (Rp1,5 miliar). Penulis tersohor Orhan Pamuk asal Turki,yang pernah mendapat penghargaan Nobel Sastra 2006 melalui novelnya My Name is Red, sebelumnya juga pernah mendapat penghargaan dari IMPAC Dublin Literary Award melalui novel yang sama tiga tahun sebelumnya.

Dublin dengan bangga menyebutkan bahwa kota mereka adalah rumah bagi beragam lembaga kebudayaan, termasuk Perpustakaan Nasional, Galeri Nasional, Teater Nasional, Musium Penulis Dublin. Kota tersebut benar-benar berusaha membuat warga dunia yang berkunjung bisa meresapi warisan sastra mereka.

Untuk memacu gairah kepenulisan di Dublin, dewan kota mengambil kebijakan penghapusan pajak bagi karya-karya penulis yang terbit, memberikan beasiswa, lembaga semisaldewan kesenian memberikan anuitas (pembayaran tetap) selama lima tahun bagi penulis mereka yang ingin terusmelakukan riset dalam berkarya. Media cetak dan komisi penyiaran mereka aktif dalam mempromosikan kehidupan sastra dan budaya mereka.

Universitas Dublin selaku istitusi pendidikan negeri ikut menyemarakkan penerbitan-penerbitan buku, mengkoneksikan antara pelaku dan lembaga budaya di segala tingkat, melakukan riset terhadap perkembangan sastra-seni-dan budaya kontemporer, dan dengan itu mereka memunculkan citraan kuat sebagai kota sastra dunia. Satu hal lain yang dibanggakan Dublin, tiga jembatan dibangun di atas sungai yang membentang di kota tersebut mereka terakan nama tigasastrawan tersohor dunia kelahiran atau diaspora Dublin: Jembatan James Joyce, Jembatan Sean O’Casey, dan Jembatan Samuel Beckett.

Kebanggaan Dublin atas pembukaan akses ruang publik untuk tujuan kesusastraan tersebut juga dengan gagah digaungkan kota Edinburgh (Skotlandia).Dalam situs resminya sebagai Kota Sastra, mereka menulis: “Kami sangat berbahagia, kini taman di sekitaran St Andrew Square telah dibuka bagi masyarakat umum untuk pertama kalinya setelah kurun waktu kurang-lebih 230 tahun. Ruang ini sedang dikembangkan sebagai ruang publik untuk merayakan puisi di Kota Sastra… serta untuk Hari Puisi Nasional.”

Kampanye Literarsi

Referensi tentang Dublin, Edinburgh, Melbourne, Iowa, Reykjavik, dan Norwich yang tergabung dalam jaringan City of Literature UNESCO adalah catatan pembuka tentang kampanye literasi Padang Kota Kata. Wacana ini muncul dari ide beberapa orang akademisi, sastrawan, seniman dan budayawan di Kota Padang. Pembaca tentu akan menyangkal bahwa kota-kota besar sastra tersebut hanya Utopia belaka jika dibandingkan dengan Kota Padang.

Tapi ini bukan soal membandingkan, lebih pada strategi penduduk kota yang peduli terhadap keberlanjutan kota melalui misi kebudayaan: kota yang mempunyai tujuan. Strategi ini mungkin akan jadi acuan bagi pemangku dan dewan kota dalam upaya memunculkan karakteristik kota. Termasuk membaca persoalan kota lewat jalur kebudayaan.

Ide Padang Kota Kata tersebut sempat dibacakan Sudarmoko, akademisi dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, saat agenda Sahur Puisi—perayaan Hari Puisi—di Ladang Nan Jombang beberapa waktu lalu. Padang Kota Kata tak jauh berbeda dengan kampanye literasi yang diwacanakan di kota-kota yang tergabung dalam City of Literature. Padang Kota Kata, sebut Sudarmoko, secara garis besar adalah kampanye literasi dan seni budaya, menuju Kota Padang yang memiliki sejarah panjang kesusasteraan. Usaha untuk mengumpulkan karya-karya sastra yang pernah ditulis oleh para pengarang Sumatera Barat secara luas. Menumbuhkan apresiasi dan gerakan sastra sehingga menjadikan Kota Padang sebagai tempat yang nyaman untuk proses kreatif dan kajian-kajian sastra.

Termasuk mengadakan berbagai peristiwa sastra, mengajak masyarakat untuk mencintai sastra. Mencipta lingkungan serta pasar-pasar sastra melalui bentuk-bentuk yang diinginkan masyarakat.

Bahkan tidak mungkin kampanye literasi ini akan bermuara pada penawaran atau pengajuan agar Padang dapat terhubung terhubung dalam jejaring City of Literaturedi negera lain. Secara spesifik, UNESCO, selaku bagian lembaga PBB yang berkonsentrasi terhadap dukungan perdamaian dan keamanan dengan mempromosikan kerjasama antar negara melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, serta budaya, telah membuat ketentuan karakteristik bagi kota-kota dunia yang tertarik bergabung dalam City of Literature.

Karakteristik tersebut meliputi (1) kualitas dan kuantitas dari keberagaman inisiatif editorial serta lembaga-lembaga atau rumah-rumah penerbitan; (2) kualitas dan kuantitas program kependidikan yang fokus pada kesusastraan daerah (lokal) atau asing (internasional) mulai dari sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi; (3) lingkungan perkotaan dimana penulisan karya sastra, pertunjukan drama (teater), serta pembacaan-pembacaan puisi memainkan peran secara integral; (4) berpengalaman sebagai tuan rumah menyelenggaraan festival nasional dan internasional dengan tujuan mempromosikan karya-karya sastra nasional dan dunia; (5) perpustakaan, toko-toko buku, dan pusat-pusat lembaga kebudayaan umum serta pribadi didedikasikan untuk pelestarian, promosi dan penyebaran karya-karya sastra nasional dan dunia; (6) uapaya aktif dari sektor penerbitan dalam melakukan penerjemahan terhadap karya-karya sastra nasional (daerah) dan karya-karya sastra dunia; (7) keterlibatan aktif media-media, baik media baru dalam mempromosikan karya sastra dan kegiatan kesusastraan serta memperkuat pasar untuk produk-produk kesusastraan.

Jika merujuk pada ketentuan UNESCO, tentu beberapa poin penting sudah dimiliki oleh Kota Padang, dengan kesejarahan kesusastraan yang cukup panjang. Terlebih, Padang selaku pusat dari wilayah administrasi pemerintahan provinsi Sumatera Barat, yang notabenenya didomininasi oleh puak Minangkabau adalah masyarakat yang tumbuh dan besar dari rahim kata-kata. Merujuk istilah Jane Drakard, peneliti sejarah budaya dan politik Melayu (Sumatera) dari Monash University, Minangkabau merupakanA Kingdom of Word—Minangkabau sebagai sebuah kelompok masyarakat dalam kesejarahannya mampu melakukan pertahanan politik dan budaya melalui ‘kata-kata’.

Budayawan Sumbar, Nasrul Azwar, mengatakan bahwa sesungguhnya Kota Padang mampu untuk memunculkan karakteristik ini ke depannya. Kampanye literasi Padang Kota Kata menurutnya harus menjadi tawaran baru bagi pemangku kota dan dewan kota; Padang dengan perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah atau secara independen di berisikan buku-buku karya penulis dari beragam penjuru dunia; Padang dengan menyemarakkan kegiatan penerjemahan karya-karya penulis daerah ke berbagai bahasa dan sebaliknya; Padang dengan iven-iven kesusastraan nasional dan internasional yang dikelola dengan baik dan bukan sekedar pelepas tanya; Padang dengan ketersediaan ruang-ruang publik dimana diskusi dan pembacaan karya sastra diselenggarakan dengan bahagian oleh warga kota; Dan tentu, Padang dengan penghadiran karya-karya kreatif berbasis sastra yang dapat diambil kebaikannya melalui pengembanganannya melalui pasar-pasar ekonomi kreatif.

Barangkali pembaca akan mengira penulis hibuk dengan kota utopia belaka. Setidaknya Padang sudah mempunyai bekal untuk mejadikan utopia itu nyata.

Padang (atau Sumbar) terus melahirkan seniman dan sastrawan, komunitas-komunitas sastra dan teater terus berkembang, ruang publik cukup, bahkan beberapa entrepreneur muda di Padang mulai mengembangkan pasar-pasar ekonomi kreatif dengan basis kesusastraan—sebut saja beberapa distro dan clothing pakaian dengan bangga menajak puisi-puisi serta prosa dalam karya kreatif mereka.

Saya membayangkan, nantinya, kita juga dengan bangga menyebutkan: “Di Padang, kami punya Jalan Marah Rusli, Jalan Tulis Sutan Sati, Jalan AA Navis (perpustakaannya ada di Unand), Jalan Wisran Hadi, Jembatan Rusli Marzuki Saria, Darman Moenir Convention Hall, M. Ibrahim Ilyas Theater, Yusrizal KW Library, Taman Khairul Jasmi, dan kami punya iven sastra internasional seperti Sutan Zaili Literary Awar, dst.”Dan semua itu hidup dalam diri masyarakat, tidak cuma fisiknya, tapi gairah hidup berkebudayaan. (*)

Opini lainnya

Komentar