Date Rabu, 30 July 2014 | 03:52 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Berharap pada Kurikulum 2013

Indang dewata

Kadisdik Kota Padang

Berharap pada Kurikulum 2013

Jika kita menginginkan pendidikan bermutu, perubahan kurikulum mutlak dilakukan pemerintah. Perubahan pengembangan kurikulum itu didasari oleh tuntutan perkembangan zaman begitu cepat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memandang penting terobosan peningkatan mutu yang terukur dalam menentukan kompetensi minimal harus dicapai peserta didik pada satuan pendidikan. Demikian pernyataan Wamendikbud, Musliar Kasim dan Fasli Jalal, tokoh pendidikan urang awak ini di Universitas Andalas pada 27 Januari 2013.

Di tengah ribuan guru dan praktisi pendidikan Fasli Jalal menyampaikan pandangannya di bawah tajuk, ”Tantangan dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa di Indonesia.”

Ditegaskan bahwa guru patut memberi mimpi kemajuan peserta didik yang siap bersaing melanjutkan pendidikan kesatuan menpendidikan lebih tinggi, dan pada sisi lain lulusannya diterima di dunia kerja dan industri. Hal ini tak lepas dari peran guru sebagai fasilitator dan kesungguhan berbagai pihak mewujudkan percepatan pengembangan bakat minat, dan potensi peserta didik.

Kurikulum 2006 memang telah memberikan kemajuan berarti. Namun, untuk mendapatkan pendidikan bermutu masih banyak hal patut disempurnakan di sana-sini. Ada beberapa celah patut disempurnakan. Rendahnya tingkat berpikir peserta didik yang hanya sekadar menghafal pelajaran tanpa paham aplikasi konteksnya masih tertinggal dibandingkan lulusan sekolah di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura

Di negara maju, sangat banyak kemampuan guru yang telah mencarikan solusi hambatan pembelajaran peserta didik. Guru menuangkan pengalamannya dalam bentuk best praktis. Guru belum maksimal melakukan adopsi dan adaptasi model-model pembelajaran yang memberi pembiasaan peserta didik berpikir kreatif dan inovatif. Sementara, kita berharap banyak agar mutu peserta didik meningkat. Pendidikan kita ke depan akan melahirkan siswa cerdas dan kreatif. Hanya orang kreatiflah memiliki inovasi dan kreasi, sehingga menghasilkan generasi bangsa yang berguna.

Wamendiknas Musliar Kasim dalam sosialisasi kurikulum 2013 itu mengaku, pendidikan Indonesia masih tertinggal dari berbagai negara bila diukur dari asosiasi di bawah naungan PBB, seperti WTO, ASEAN, APEC, CAFTA. Misalnya, nilai matematika dan sains Indonesia dinilai jauh tertinggal. Makanya, untuk menutup kekurangan kurikulum 2006 perlu penajaman pada beberapa hal.

Perubahan dan penyempurnaan kurikulum itu tidak hanya dari pusat belajar yang masih bertumpu pada guru. Namun, guru harus membelajarkan peserta didiknya aktif dan kreatif, berpusat pada siswa. Materi kurikulum 2006 ada overlap, dan banyak waktu belajar peserta didik dalam PBM. Peserta didik belum mampu mengkomunikasikan pendidikan yang telah diperolehnya secara lisan dan tulisan mulai dari pendidikan dasar sampai kepada pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Padahal, keterampilan berbicara dan menulis membutuhkan pemahaman untuk memperoleh hasil pembelajaran.

Penyempurnaan kurikulum ini, selain isi kurikulum terlalu padat ditandai beratnya beban peserta didik harus membawa banyak buku juga merujuk pada materi yang melampuai usia peserta didik. Karakter peserta didik harus di atas segalanya. Metodologi pembelajaran aktif harus dimaksimalkan dengan keseimbangan soft skills dan hard skills. Kurikulum 2006 belum peka menanggapi perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, dan global. Melalui kurikulum baru ini pemerintah ”sudah dan sedang” menyiapkan ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (baca: PP 19 Tahun 2005).

Kurikulum 2013 dilaksanakan bulan Juli 2013 ini. Tingkat SD dimulai dari kelas 1 dan kelas IV. Untuk tingkat SLTP dan tingkat SLTA sederajat dimulai dari kelas X. Guru dan kepala sekolah dijadikan motor penggerak pelaksanaan kurikulum ini dengan sebutan guru master. Penajamannya adalah mewujudkan peserta didik yang berakhlak mulia. Peserta didik harus memiliki keterampilan relevan. Materi yang diberikan dalam silabus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Sifat pembelajarannya kontekstual. Alasan perubahan kurikulum ini, agar peserta didik mampu menjadi bagian masyarakat global. Kemajuan teknologi dan informasi dijadikannya sebagai wadah pengembangan bakat, minat, dan kompetensinya. Dengan demikian, akan lahir warga negara beretika, toleransi, dan bertanggung jawab.

Sosialisasi terus dilakukan kepada berbagai pihak. Pemerintah melibatkan dosen, widyaiswara, pengambil kebijakan, guru, dan lainnya. Pemerintah tidak hanya memberikan silabus, rancangan program pembelajaran (RPP), tetapi juga menyediakan buku pegangan guru dan buku pegangan peserta didik. Hal ini ditujukan agar peserta didik memiliki standar kompetensi lulusan minimal dan berkualitas, baik dari pengetahuan, sikap, maupun keterampilan dalam pengembangan IPTEK dan IMTAQ –nya.

Filosofi perubahan kurikulum pendidikan ini berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Perubahannya bertumpu pada metodologi pembelajaran. Melalui metodologi itulah tujuan pembelajaran berproses, sehingga menjadi ilmu yang dapat diuji kebenarannya berdasarkan indikator.

Indikator juga harus dimaknai guru sebagai pendorong peningkatan mutu belajar. Indikator yang telah ditetapkan dijadikan penanda pencapaian kompetensi dasar (KD) ditandai perubahan perilaku yang dapat diukur mencakupi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan memahami standar isi, guru memahami ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi, kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Wamendiknas menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik harus diwujudkan. Penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa. Elemen perubahan dinyatakannya bahwa untuk tingkat SD dikembangkan kompetensi tematik integratif dalam semua mata pelajaran. Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan sains. Jumlah pelajaran dari 10 menjadi 6 mata pelajaran. Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib. Selain itu, ada juga ektrakurikuler UKS, PMR, dan bahasa Inggris.

Pada tingkat SLTP dikembangkan kompetensi mata pelajaran. Pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan ekstrakurikuler. Pelajaran IPA dan IPS diajarkan secara terpadu. Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib. Selain itu, juga ada kegiatan ektrakurikuler OSIS, PMR, UKS. Pada tingkat SLTA adanya mata pelajaran wajib dan pilihan. Penjurusan telah ada seja kelas X, terjadi pengurangan mata pelajaran yang diikuti peserta didik. Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib. Selain itu, juga ada ektrakurikuler OSIS, PMR, UKS. Juga, mengacu kepada 10 bidang OSIS pembinaan kesiswaan. Satuan pendidikan SMK dikembangkan melalui kompentensi mata pelajaran wajib, pilihan, dan vokasi. Penyesuaian keahlian berdasarkan spektrum kebutuhan saat ini.

Inti kurikulum 2013 menjadikan peserta didik produktif, kreatif, inovatif, dan efektif di dalam mengaplikasikan sikap, memiliki keterampilan, menambah dan mengembangkan kemampuannya. Jelasnya, rancangan tujuan perubahan kurikulum akan bermakna di tangan guru. Bukankah guru yang hebat melahirkan peserta didik yang hebat? Bukankah hakikat guru profesional itu memiliki empat kompetensi dasar yang memberi layanan lebih dalam mendidik, mengajar, melatih, dan membiasakan siswa ke arah yang lebih baik?. Semoga. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar