Date Jumat, 25 July 2014 | 15:56 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Cucu Magek Dirih

Perubahan Sikap dan Peningkatan Derajat Kemusliman

H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Perubahan Sikap dan Peningkatan Derajat Kemusliman

SALAH sau trend dalam bulan Ramadhan adalah ”menjadi Islami” — mengislamkan apa saja. Bahkan dilakukan secara mencolok dan atau secara ekstrim. Katakan, mengislamkan penampilan, misalnya. Di luar bulan Puasa, penampilannnya relatif ”normal” saja. Misalnya, sebagian dari kaum perempuan yang berusia remaja/dewasa/setengah baya pun, pakaian mereka mungkin relatif membuka aurat. Kepala tidak ditutup karena hendak memperlihatkan rambutnya yang indah, leher indah kelihatan jenjang, dan belahan dada dan bagian atas kelihatan seperti menyembul dan mengambang. Leher dan dada itu semakin indah karena diberi asesosri. Lalu bahu, ketiak, dan lengan, kelihatan. Begitu pun kedua paha dan betis. Pakaian pun rada memperlihatkan lekuk tubuh karena mungkin menggunakan bahan dasar tipis. Dengan demikian, penampilannya dapat dikatakan modis, sexy, dan cantik menggairahkan. Apalagi gerik sengaja mendukung penampilannya yang cantik mengairahkan alias sexy — karena memang demikianlah maksud penampilan tersebut.

Secara ekstrim penampilan sexy dan cantik menggairahkan dengan lebih menonjolkan bagian dari tubuh dan menyesuaikan pakaian yang mendukung penampilan tubuh sexy tersebut lebih ditampilkan oleh sebagian dari artis, selebriti, kaum sosialita, dan apa pun sebutan pengelompokan sejenis. Kelompok dari artis, selebriti, dan sosialita, itu dirasakan lebih tampil secara ekstrim karena mareka menjadi pusat perhatian masyarakat — apalagi media makin menonjolkan mereka.

Penampilan dari artis, selebriti, dan sosialita tersebut, rupa-rupanya, sangat mempesona/membius sebagian masyarakat. Lalu, sebagian masyarakat berusaha mengidentifikasikan diri mereka dengan penampilan para artis/selebriti/sosialita tersebut. Hal itu dapat disebut sebagai kecenderungan yang umum. Sahabat senior Cucu Magek Dirih, (alm) Syu’bah Asa, menyebut artis/selebriti sebagai para dewa dan pengagum/penyanjung adalah para pengikut atau jamaah mereka.

Nah, pada bulan Ramadhan, sebagian kaum artis/selebriti perempuan dan sosialita tersebut, mengubah penampilan mereka secara drastis menjadi kelihatan Islami. Rambut yang indah ditutup jilbab, begitu pun telinga, leher, dan dada. Pakaian yang dipakai juga menutup seluruh tubuh. Tentu termasuk bahu, lengan, ketiak, kedua paha, dan kedua betis, yang biasanya tersingkap.

Yang menarik, tentu saja para artis/selebriti — termasuk para model perempuan, dan kaum sosialita, mampu menonjolkan diri tetap/malah semakin menarik perhatian. Secara umum, penapilan Islami mereka ditampilkan secara modis dan bahkan atraktif. Bahkan tidak kalah menarik perhatian dibandingkan penampilan merek yang semula lebih menonjolkan tubuh mereka. Gilanya, kecenderungan penampilan baru para artis/model/selebriti dan sosialita itu pun tetap mempesona/membius sebagian masyarakat. Masyarakat pun mengidentifikasikan diri sesuai penampilan artis/model/selebriti dan kaum sosialita yang mereka kagumi.

BEGITULAH, sebagian dari masyarakat beragama Islam — terutama kaum perempuan — mengubah penampilan menjadi lebh Islami pada/selama bulan Ramadhan. Antara lain dalam hal berpakaian/berbusana. Perubahan tersebut lebih sama bersifat luar/dilihat aura dipandang orang lain dan atau karena memang dorongan dari sikap kemusliman. Untuk para pengguna penampilan yang lebih Islami tersebut memberikan rasa kenyamanan dalam penampilannya dan atau dilihat/dipandang/diperhatikan oleh masyarakat.

Mungkin, bagi masyaraiat yang melihat/memandang/memperhatikan pula merasa senang-senang saja. Secara umum, penampilan berbusana yang lebih islami artis/model/selebriti dan kaum sosialita mungkin sekali memberikan dorongan luas sehingga sebagian masyarakat juga mengubah penampilannya dengan berbisana yang lebih muslimah.

Masalahnya, apakah penampilan/berbusana yang lebih islami tersebut hanya pada bulan Ramadlan saja atau akan terus berlanjut pascaramadan sebagai salah satu buah dari perbuatan baik selama bulan Puasa!? Salah satu nilai berpuasa/beramal shaleh dalam bulan Puasa adalah atau semestinya/seharusnya ada kelanjutan dan atau peningatan sikap kemusliman dalam berkehidupan, Dalam hal ini akan diuji, apakah penampilan yang lebih Islam dalam hal berbusana hanya sekadar penampilan luar yang tidak cukup didukukung sebagai sikap kemusliman yang benar? Atau, apa penampilan berbusana yang lebih Islami tersebut hanya dimaksudkan sebatas/untuk dilihat/dipandang/diperhatikan orang banyak dan atau perubahan penampilan mereka tidak merupakan perubahan sikap kemusliman!? Karena itu, selepas bulan Ramadlan, mereka kembali mengubah penampilan yang lebih Islami menjadi kembali sebagaimana sediakala!?

Idealnya, perubahan penampilan luar yang lebih Islami yang semula lebih bersifat luar/mode/kecenderungan sesaat, terus merasuk ke dalam hati sanubari sehingga diharapkan menjadi perubahan sikap kemusliman. Artinya, ada dorongan dalam diri yang bersangkutan menjadi momentum bulan Puasa sebagai mengubah penampilan luar menjadi lebih Islami. Lalu, didorong semangat berpuasa/amaliah selama Ramadlan, memang terjadi perubahan sikap kemusliman dalam diri masyarakat yang mengubah penampilan luar/berbusana lebih Islami. Artinya, penampilan luar/berbusana yang lebih Islami tersebut bukan lagi semata penampilan luar, tapi, karena didorong semangat sikap kemusliman yang benar. Insya Allah, penampilan luar/berbusana lebih islami tidak hanya selama Ramadhan, tapi, akan terus berlanjut seterusnya selepas Ramadlan.

SUNGGUHNYA, dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, Ramadhan diposisikan sebagai saat atau momentum baik. Artinya, bulan Ramadhan memberikan ”situasi memaksa” setiap muslim/muslimah untuk mengambil/mengisi/memanfaatkan Ramadhan sebagai momentum yan baik. ”Memaksa? setiap muslim dapat dugambarkan dari janji Allah bagi yang berpuasa/bagi yang mendirikan Ramadhan dengan benar. Mulai dari nilai amaliah baik yang dilipatgandakan, pengampunan dosa, setan dan iblis diamputasi/diikat sehingga tidak memiliki keleluasaan mempengaruhi umat Islam menunaikan puasa dan mengerjakan amaliah baik lainnya dalam bulan Ramadhan, dan sampai setiap yang berpuasa/mendirikan Ramadhan/meningkatkan amaliah baik mereka. Di bulan Syawal, setiap muslim dipandang meningkat derajat kemuslimannya.

Dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, setiap umat Islam yang menunaikan berpuasa di bulan Ramadhan/mendirikan Ramadhan dengan benar/mengerjakan amaliah baik selama Ramadhan, dikatakan akan kembali ke fitrah bukan dalam pengertian kertas putih!. Dalam perspektif menunaikan puasa kembali ke fitrah, berarti kembali ke fitrah dalam pengertian kertas putih sebagai buah dari pengapunan Allah atas dosa-dosa terdahulu. Lalu, bagaimana hal dengan nilai amaliah berpuasa/amaliah mendirikan Ramadhan/amaliah baik lainnnya yang dijanjikan Allah akan memperoleh nilai yang berlipatganda? Apakah menjadi bandingan habis terhadap pengampunan dosa yang terdahulu — bila kembali ke fitrah diartikan sebagai kertas putih? Jadi, arti fitrah dalam perspektif umat Islam yang menunaikan berpuasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/mengerjakan amaliah baik lainnya, bukan sebatas menjadi kertas putih, tapi, kembali ke fitrah dalam arti kertas putih hanya salah satu pengertian nilai berpuasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/mengerjakan amaliah baik lainnya.

Selain pembersihan/pengampunan Allah itu, setiap muslim/muslimah yang menunaikan puasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/mengerjakan amaliah baik lainnya, mendapatkan ganjaran yang berlipatganda dari Allah dalam perspektif Syawal atau peningkatan derajat. Jadi, setidaknya dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, nilai bagi setiap muslim/muslimah yang menunaikan ibadah berpuasa pada bulan Ramadhan/mendirikan Ramadhan/mengerjakan amaliah baik lainnya selama bulan Ramadhan akan memperoleh peningkatan derajat kemukminan/kemusliman berupa peningkatan ketaqwaan. Inilah nilai tertinggi yang diberikan Allah bagi setiap muslim/muslimah yang menunaikan ibadah berpuasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/mengerjakan amalah baik lainnya selam Ramadhan sehingga setiap muslim/muslimah yang merasakan peningkatan diri dalam hal kemukminan/kemusliman/ketaqwaan itu digambarkan dalam syair Arab sebagai tidak mau Ramadhan berkhir karena mungkin saja mereka tidak mempunyai kesempatan kembali menjalani Ramadhan tahun depan.

BEGITULAH seharusnya kita memandang/memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum terpenting sepanjang tahun kehidupan — termasuk yang mengubah penampilan luar atau berbusana mereka yang lebih Islami dengan harapan memang akan sampai pada perubahan sikap kemusliman yang bersangkutan. Lebih dari itu, yang terpenting bahwa menunaikan ibadah puasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/mengerjakan amaliah baik lainnya adalah terjadi peningkatan kemukminan/kemusliman/ketaqwaan dalam seyoap diri muslim/musliman — betapa pun ada perbedaan tingkatan peningkatan sesuai penilian Allah atas ibadah puasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/mengerjakan amaliah baik lainnya. Sebaliknya, alangkah merugi mulim/muslimah yang berpuasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/mengerjakan amaliah baik lain ternyata tidak kembali ke fitrah dan tidak meraih peningkatan derajah kemukminan/kemusliman/ketaqwaan.

Astaghafirulllah.

Cucu Magek Dirih selalu menjadi orang yang merasa merugi karena termasuk orang yang tidak akan mendapatkan nilai yang maksimal dari menunaikan ibadah berpuasa Ramadlan/mendirikan Ramadhan/menunaikan amaliah baik lain selama Ramadhan. Dan, merasa sangat takut usianya tidak memberi kesempatan untuk menjalani Ramadhan tahun depan. Ya wailani...***

H. Sutan Zaili Asril

Cucu Magek Dirih lainnya

Komentar