Date Selasa, 22 July 2014 | 20:22 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Menyikapi Perbedaan Penetapan Awal Ramadhan

Chairuddin

Ketua MUI Padangpariaman

Menyikapi Perbedaan  Penetapan Awal Ramadhan

Berdasarkan berita pers penetapan awal Ramadhan tahun 1433 H (2012 M) ini dapat diyakini tidak akan sama dan berbeda sekitar 4-5 hari. Kelompok Naqsabandiyah di Padang telah mulai puasa hari Rabu 18 Juli 2012, Muhammadiyah Jumat tanggal 20 Juli 2012, pengikut Syattariah maniliak bulan tanggal 20 Juli 2012, kemungkinan mulai puasa hari Sabtu atau Minggu, sedangkan pemerintah/kementerian agama menetapkan berpuasa mulai Sabtu 21 Juli 2012.

Selama 7 tahun terakhir ini, telah terjadi beberapa kali beda pendapat antara Muhammadiyah dan pemerintah mengenai Lebaran 1 Syawal, antara lain tahun 2006, 2007, 2008 dan 2011, untuk tahun 2012 insya Allah diharapkan pada hari yang sama, yakni Minggu 19 Agustus 2012. Perbedaan ini timbul karena berbedanya pandangan masing-masing tentang posisi bulan pada 29 Sya’ban (19 Juli 2012), ketinggian bulan 01-27 derajat di saat matahari terbenam hari itu.

Pertama, Muhammadiyah yang memakai metode wujudul hilal (hisab hakiki) menetapkan awal Ramadhan hari Jumat tanggal 20 Juli 2012. Alasannya, bulan (hilal) sudah wujud (ada) di atas ufuk waktu matahari terbenam Kamis tanggal 19 Juli 2012, meskipun tidak bisa dilihat dengan teleskop sekalipun, lantaran dekatnya bulan dengan matahari, sehingga cahaya matahari yang begitu kuat (terang) menghilangkan rupa/wujud bulan. Metode ini telah ditetapkan Muhammadiyah pusat periode Jarnawi tahun 1969. Ketetapan ini diperkuat lagi dalam musyawarah nasional tarjih Muhammadiyah tahun 2005 di Padang, dan disokong Persatuan Islam (Persis).

Persis merupakan ormas Islam dengan tokoh terkenal A Hasan (Hasan Bandung) yang tidak terikat pada salah satu mazhab sebagaimana Muhammadiyah dan Al-Irsyad. Salah satu tokohnya ialah alm Moh Natsir. Uniknya lagi, dalam menetapan Idul Fitri tahun 2007 Persis berlebaran tanggal 13 Oktober sama dengan pemerintah, sedangkan Muhammadiyah Lebarannya tanggal 12 Oktober 2007 (berita Padang Ekspres, 9 Oktober 2007).

Kedua, pemerintah dan MUI menetapkan awal bulan Qamariah dengan menggabungkan hisab dan rukyah, disebut dengan imkanurrukyah. Artinya, MUI juga mempedomani posisi bulan tanggal 29 Sya’ban yang dipakai Muhammadiyah (wujud hillal), ditambah satu syarat lagi, yakni wujud hilal itu ada kemungkinan dapat dilihat, minimal tingginya 2 derajat, jarak waktu antara ijtimak akhir Sya’ban dengan terbenam matahari 8 jam. Menurut MUI, hisab bukanlah dalil yang mandiri, tapi sebagai sarana ilmiah untuk mengetahui adanya kemungkinan rukyah (bulan bisa dilihat), tidak pernah dengan li wujudih (karena bulan sudah wujud).

Keputusan MUI di atas ditetapkan dalam fatwa MUI No 02 Tahun 2004 tanggal 24 Januari 2004 bahwa penetapan awal bulan didasarkan pada metode hisab dan rukyah, dilakukan pemerintah c.q Departemen Agama dan berlaku secara nasional. Konferensi Islam di Istambul tahun 1978 yang dihadiri 18 negara Islam/muslim termasuk Indonesia, memutuskan persyaratan yang lebih tinggi, yakni ketinggian bulan minimal 5 derajat (MUI hanya 2 derajat). Bandingkan dengan ketinggian bulan Kamis 19 Juli 2012, hanya 01 derajat.

Pandangan penulis, pertama, perbedaan satu hari antara Muhammadiyah dengan pemerintah masih dipandang wajar. Tapi, jika perbedaan itu sampai 4 atau 5 hari memang memprihatinkan di tengah-tengah kemajuan teknologi dan ilmu astronomi di zaman canggih ini. Perbedaan menyolok itu timbul karena; pertama, adanya prinsip rukyah yang kaku; kedua, ada pula hisab yang hanya berdasarkan angka dan rumus-rumus tertentu yang tidak jelas sumbernya dan tidak pula ada kaitannya sama sekali dengan ilmu astronomi/falakiah. Ketiga, perbedaan awal Ramadhan lebih ringan dari perbedaan 1 Syawal, karena bagaimanapun juga, syiar agama di hari Lebaran lebih kentara dari hari memulai puasa.

Perbedaan yang menyolok pernah pula terjadi pada Idul Adha 2007/1428 H. Muhammadiyah dan pemerintah menetapkan hari yang sama (Kamis, 20 Desember), sedangkan majelis Mujahidin, Hizbut Tahrir dan Dewan Dakwah Islam (DDII) melaksanakannya hari Rabu tanggal 19, yang didasarkan pada hari wuquf di Arafah (Arab Saudi) Selasa tanggal 18. Penetapan awal bulan berdasarkan penanggalan di negeri Arab merupakan pendapat yang syaaz (mengganjil).

Imbauan penulis: Perbedaan pendapat tentang awal Ramadhan dan Syawal janganlah menjadi sumber konflik. Lebih-lebih menuduh pihak lain berbuat haram. Umpamanya, si A yang mulai puasa hari Jumat menuding si B yang mulai puasa hari Sabtu, sebagai fasik karena masih makan dan minum di 1 Ramadhan. Sebaliknya, bila si A nantinya berbuka (Lebaran) lebih dahulu dari si B, si B akan menuding si A berbuat haram karena makan dan minum di siang hari yang masih dalam bulan Ramadhan.

Yang benar menurut penulis adalah, haram berpuasa bagi orang mempercayai bahwa hari itu sudah memasuki 1 Syawal, dan haram pula makan dan minum bagi orang yang mempercayai hari itu awal Ramadhan. Prisipnya; “Jan disorongan kupiah awak ka kapalo urang lain, alun tantu sasuai doh”. Akhirul kalam:

“Burung si antiang-antiang Cino

Hinggok di ujuang-ujuang dahan

Karano Ramadhan alah tibo

Ridho jo maaf ambo mohonkan

“Lawan pendapat adalah lawan berpikir”. Terima kasih. Wassalam. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar