Date Rabu, 30 July 2014 | 01:47 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Status Waspada, 80 Ribu Warga Terancam

Marapi Meletus

Kamis, 04-08-2011 | 10:14 WIB | 501 klik
Marapi Meletus

Marapi Meletus

Padang, Padek—Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM sejak pukul 11.00 WIB kemarin (3/8), menaikkan status Gunung Marapi dari normal menjadi waspada (level II). Peningkatan status dilakukan menyusul kian meningkatnya aktivitas vulkanik gunung yang terletak di Kabupaten Agam dan Tanahdatar itu.


Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Marapi PVMBG Bukittinggi, Warseno menyebutkan, gunung tipe stratovolcano dengan ketinggian 2.891 meter dari permukaan laut (mdpl) itu, kemarin mengeluarkan 8 kali letusan. Pada pukul 08.31 WIB terjadi sekali gempa letusan dengan amplituda maksimum 40 mm dan lama gempa 67 detik.


Getaran tremor juga muncul pada pukul 08.54 WIB dengan amplituda maksimum 1.5 - 3.5 mm, 4 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplituda maksimum 1 - 4 mm dan lama gempa 8.5 - 22.5 detik dan 2 kali gempa tektonik lokal.


Sedangkan aktivitas visual, cuaca cerah tapi asap berwarna kelabu tebal terlihat mencapai ketinggi 300 hingga 1.000 meter dari atas puncak gunung yang pernah erupsi magma pada tahun 1975 itu. Diperkirakan abu vulkaniknya ditiup angin hingga menyebar radius 25 kilometer.


Sementara itu, sejak pukul 11.00 hingga pukul 21.30 tadi malam, kata Warseno, masih terjadi letusan susulan dari kawah gunung sebanyak 10 kali. ”Tapi, aktivitas vulkaniknya tidak terlalu tinggi lagi,” katanya.


Meskipun begitu, masyarakat di sekitar Gunung Marapi atau pengunjung agar tidak mendekati gunung dalam radius 3 km dari kawah/puncak. Mengingat kawah sebagai pusat letusan dan sumber keluarnya gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan bagi kehidupan. Ancaman bahayanya adalah terjadinya letusan abu disertai lontaran material bebatuan dan pasir yang berpotensi melanda wilayah itu.


Agar tidak terhirup abu vulkanik, masyarakat yang berada dalam jarak jangkauan abu vulkanik letusan letusan Gunung Marapi yang tersebar dari Kotobaru, Padangpanjang, Silaiang hingga Sicincin Padangpariaman diharapkan agar memakai masker. ”Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kira berharap agar masyarakat memakai masker jika ke luar rumah,” harap Warseno kepada koran ini di ruang kerjanya, Belakang Balok Bukittinggi, kemarin (27/7).


Masyarakat sekitar gunung pun diimbau agar tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu tentang letusan Gunung Marapi. Warseno menjelaskan, pihaknya tetap memantau perkembangan aktivitasnya. Kemungkinan terburuk terjadi letusan yang lebih besar, tentunya bisa saja terjadi. Namun, awan panas sepertinya tidak akan terjadi karena tipe gunung api ini berbeda dengan tipe yang ada di Pulau Jawa.


Jadi Tontonan

Di Bukittinggi dan Agam, ”menggeliatnya” Marapi menjadi tontonan menarik sebagian masyarakat. Mereka menyaksikan langsung gumpalan asap hitam bercampur cokelat menyembur dari puncak Gunung Marapi yang sering dijadikan objek wisata petualangan bagi kawula muda setiap akhir pekan.


Sedangkan warga yang tinggal di kaki gunung seperti Kotobaru dan sekitarnya, berlarian ke dalam rumah, untuk menghindari abu vulkanik gunung karena khawatir terserang ISPA.


Debu Menempel di Mobil

Abu vulkanik Gunung Marapi yang terbawa tiupan angin juga menyebar sampai ke Kota Padangpanjang. Debu tipis tampak menempel di sejumlah kaca mobil yang sedang parkir di sejumlah ruas jalan di kota itu, sejak pagi kemarin.


Namun, pada pukul 13.00 intensitasnya menunjukkan penurunan. Untuk itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Sosial Politik Padangpanjang, Bustami Narda mengimbau warga kota berhawa dingin itu untuk tetap waspada, tapi tidak panik. Meski begitu, dia menyebutkan, belum perlu mengeluarkan imbauan agar masyarakat memakai masker. Pasalnya, kuantitas api yang sampai ke Padangpanjang dinilai belum akan mengganggu saluran pernapasan.


”Penggunaan masker secara massal sepertinya belum kita perlukan. Sebab, seperti yang saya lihat intensitas dan kuantitas abu vulkanik di Padangpanjang tidak separah daerah Koto Baru dan sekitarnya,” kata Bustami.


Abu sampai Padangpariaman
Hujan abu vulkanik juga melanda rumah maupun perkampungan masyarakat Padangpariaman dan Kota Pariaman. Situasi terparah terjadi di sekitar kawasan Gunung Tandikek, Kecamatan Patamuan. Bahkan sempat beredar kabar keluar lahar dingin dari kawasan Gunung Tandikek. ”Makanya kita bersama pihak BMKG, langsung meninjau ke lapangan.

Hasil sementara ini hujan abu itu dari letusan Gunung Marapi. Sedangkan kabar adanya lahar dingin di sekitar Gunung Tandikek, tidak terbukti kebenarannya,” ungkap Sekretaris BPBD Padangpariaman Ali Mustafa, kemarin.


Namun demikian, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, maka masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Tandikek diimbau tetap waspada, karena status gunung itu masih dalam kondisi waspada.


Sementara itu, masyarakat sekitar kawasan gunung itu kini telah meminta masker. Pasalnya, abu vulkanik yang menghujani kawasan mereka telah cukup parah.


Wali Nagari Tandikek Kecamatan Patamuan, Zahidin menyebutkan, secara umum aktivitas masyarakat di sekitar Gunung Tandikek masih tetap normal. Meski demikian, warga tetap waspada menyikapi hujan abu yang melanda daerah mereka. ”Hujan abu yang terjadi Rabu kemarin memang tergolong luar biasa, bahkan sempat membuat atap rumah warga menjadi hitam. Beruntung, tidak lama kemudian hujan turun dengan deras,” ungkapnya.


Kearifan Lokal
Manager Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Ade Edward bersama sejumlah personelnya telah melihat langsung lokasi yang terkena dampak abu vulkanik. Selain itu, BPBD telah berkoordinasi dengan BPBD Agam, Bukittinggi, Padangpanjang dan Tanahdatar agar mulai mempersiapkan kebutuhan, jika terjadi kemungkinan terburuk.


”Kita telah informasikan BPBD tersebut untuk mempersiapkan segala sesuatunya, seperti masker, obat-obatan atau alat-alatnya. Kita juga telah berkoordinasi dengan PMI agar mulai mempersiapkan peralatannya,” ungkap Ade Edward.


Masyarakat di sekitar kaki gunung juga diharapkan menggunakan kearifan lokal, terkait bagaimana proses penyelamatan jika terjadi kondisi terburuk bersama Wali Nagari dan Wali Jorong di daerahnya masing-masing.


Ade Edward menyebutkan, jika terjadi kondisi terburuk seperti letusan yang mengeluarkan pasir dan awan panas, semburannya bisa mencapai radius 7,5 kilometer dari puncak gunung. Di dalam radius ada sekitar 80 ribu nyawa warga yang tinggal di empat kecamatan di Agam dan enam kecamatan di Tanahdatar, terancam. ”Namun, kita berharap itu tidak terjadi. Meskipun begitu, kami (BPBD) terus berkoordinasi dan siaga 24 jam untuk antisipasi kemungkinan terburuk,” ujarnya usai mengunjungi kawasan kaki Gunung Marapi, kemarin.
Belum Diungsikan
Kepala BPPD Tanahdatar Altri Suandi menyebutkan, pihaknya membentuk posko di kabupaten untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi ke depan. Namun, pantauan Padang Ekspres hingga tadi malam, warga yang tinggal di kaki Gunung Marapi seperti Kecamatan X Koto, Batipuh, Pariangan, tidak diungsikan atau tetap beraktivitas seperti melaksanakan Shalat Tarawih.


Mak Panjang, Warga Tabu Baraie X Koto yang tinggal di kaki Gunung Marapi, mengaku tidak khawatir dengan meletusnya gunung tersebut. Menurutnya, justru sangat baik jika Gunung Marapi meletus sekali-kali seperti itu karena diyakini bisa membawa pengaruh positif terhadap peningkatan hasil pertanian masyarakat yang terkena abu vulkanik. ”Masyarakat juga sudah biasa melihat gumpalan abu itu,” katanya.


Wali Nagari Pandai Sikek Alfian Dt Tunaro juga menyebutkan, letusan gunung itu bagi masyarakat sekitar kaki gunung sesuatu hal yang biasa, walaupun abu yang ke luar dari gunung cukup banyak menghujani rumah penduduk dan tanaman seperti sayur-mayur. ”Untunglah jelang berbuka hujan turun sehingga tanaman palawija dan sayur-mayur akan tumbuh subur nantinya. Jika tidak turun hujan, biasanya tanaman akan menguning,” katanya.


Sebarkan Masker
Sementara itu, PMI Sumbar mendapatkan informasi ada lima daerah yang terkena dampak abu vulkanik Marapi yakni Padangpariaman, Pariaman, Bukittinggi, Tanahdatar dan Agam.


Kepala Markas PMI Sumbar Hidayatul Irwan menyebutkan, untuk lima daerah itu telah disiapkan masker 10.000 masker. Masker tersebut akan dibagikan 75 relawan PMI.

”Kami bersama tim segera turun langsung meninjau lokasi dan sekaligus membawa 10 ribu masker yang sudah siap untuk dibagikan apabila debu vulkanik Gunung Marapi benar-benar mengganggu lingkungan masyarakat,” katanya didampingi Eko Suhadi, Staf Humas dan Komunikasi PMI Sumbar. (esg/edi/wr/fd/ris/zl/mal)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA