Date Kamis, 31 July 2014 | 14:23 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Warga Berjuang untuk Naikkan Status Jorong

Melirik Jorong Kawai, Nagari Batubulek

Kamis, 14-07-2011 | 12:09 WIB | 262 klik

Jorong Kawai, Jorong Pato dan Jorong Lasuangbatu, tiga jorong berada dalam Kenagarian Batubulek, Kecamatan Lintau Buo Utara. Jarak ketiga jorong ini dari pusat pemerintahan Nagari Batubulek sekitar 8 Km. Kecuali Jorong Kawai masuk ke daerah pedalaman dari jalan utama Lintau Buo menuju Kota Batusangkar.


Sebelum dilebur ke dalam pemerintahan nagari, Jorong Kawai, Pato dan Lasuang Batu dulunya merupakan pemerintah desa. Bahkan Jorong Kawai dulunya jauh sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan merupakan anjuang (pemerintah nagari) yang berdiri sendiri sampai kembalinya nagari kepada pemerintah desa.


Namun setelah Pemkab Tanahdatar mencanangkan kembali pemerintah nagari dengan keluarnya Perda Nomor 17 tahun 2001, masyarakat Jorong Kawai mendeklarasikan daerah mereka menjadi Nagari Kawai. “Keinginan itupun sudah mendapat dukungan dari unsur masyarakat Kawai, terdiri KAN Kawai, bundo kanduang, PKK, P3N, BPRN dan para perantau,” ujar Ketua Lembaga Ninik Mamak Ampek Suku, Dt Indo Marajo didampingi sekretaris H Syafri Engku Bagindo Pakiah.


Kemudian setelah dikeluarkan lagi Perda tentang Nagari No 4 tahun 2008, keinginan masyarakat itu kembali diwujudkan dengan mengirim surat kembali kepada Wali Nagari Batubulek dengan tembusan kepada Bupati Tanahdatar, Ketua DPRD Tanahdatar, Camat Lintaubuo, Ketua BPRN dan Ketua KAN Batu Bulek pada 24 November 2011.


Keinginan tersebut juga dilatarbelakangi dengan jumlah penduduk sebagai salah satu persyaratan dan juga luas wilayah. Saat ini, sudah tiga jorong ikut bergabung melakukan pemekaran dengan nama pemerintah nagari Batu Bulek Utara. Yakni Jorong Kawai, Jorong Lasuang Batu dan Jorong Kawai dengan jumlah penduduk 3.569 jiwa (982 KK) dengan luas lahan 2.373 ha.


Terdiri sawah 550 ha, pertanian, tanah kering 520 ha, hutan 554 ha, perumahaan 225 ha, kebun 483 ha, dan lain-lain, 41 ha. Sedangkan dalam Perda No 4 tahun 2008 dalam pasal empat, menyebutkan nagari dibentuk atas prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal-usul nagari dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.


Pembentukan nagari harus memenuhi syarat, di antaranya jumlah penduduk 3.000 jiwa (600 KK) atau lebih luas wilayah paling sedikit 600 ha di samping faktor pendukung lainnya. Seperti persetujuan ninik mamak Ampek Suku Kawai, daftar SDM dan SDA ketiga jorong, daftar ninik mamak Ampek Suku Kawai dan peta wilayah.


”Namun sampai saat ini, harapan mereka belum mendapat respons dari pemerintah nagari Batu Bulek dan mereka masih berjuang nagarinya dimekarkan karena perda tentang pemerintah nagari membuka peluang untuk itu,” ujarnya. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA