Date Jumat, 1 August 2014 | 02:36 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Layani Hand Job hingga Full Body

Geliat Panti Pijat Plus di Padang (1)

Kamis, 30-06-2011 | 13:13 WIB | 4796 klik

Kesibukan dan rutinitas membuat badan penat-penat, letih dan pikiran jadi tegang atau stres. Panti pijat adalah jawaban dari kebutuhan masyarakat untuk melepaskan penat, mengendurkan otot dan syarak, hingga menghilangkan stres. Ternyata, tidak semua panti pijat yang murni menawarkan jasa pijat. Di kota Padang juga tersedia panti pijat plus, seperti apa?

Pijat merupakan salah satu alternatif untuk pengobatan dan terapi untuk kesehatan. Bahkan, sebelum ilmu kedokteran berkembang dan merambah hingga ke pelosok, pijat adalah salah satu cara pengobatan alternatif yang banyak membantu masyarakat.


Pijat dipercaya bisa menghilangkan stres, nyeri, penat-penat dan ketegangan. Kekuatan dan kelenturan pikiran, tubuh, dan emosi bisa ditingkatkan. Tidur juga bisa lebih berkualitas. Bahkan banyak restrukturisasi tulang, otot, dan organ yang dilakukan dengan pijat. Hasilnya, konsentrasi dan ingatan dapat ditingkatkan, bahkan, rasa percaya diri dan harmoni bisa ditingkatkan.


Namun, dalam perkembangannya, panti pijat sekarang tidak lagi sekadar penjual jasa pijat. Selain pijat mereka juga memberikan pelayanan plus, yaitu plus esek-esek alias kenikmatan syahwat. Beberapa panti pijat di Padang, juga menyediakan pelayanan plus-plus ini.


Dari penelusuran Padang Ekspres, di Padang, panti pijat plus-plus beroperasi mengendap-endap. Jika datang bersama langganan atau bertanya ketika memijat, kita tidak akan mengetahui pelayanan plus yang mereka berikan.


Dari dua panti pijat yang ditelusuri, salah satunya berada di dekat kawasan Khatib Sulaiman. Dari jalan protokol ini, kita masuk ke sebuah simpang, dan mendapati rumah petak yang terbuat dari kayu. Jika dipandang sekilas, bangunan dari papan itu tidak mencolok dan terlihat seperti panti pijat kebanyakan. Tidak ada plang merek yang terpampang. Begitu masuk, kita akan menyaksikan pemandangan yang tidak mencurigakan, di dinding ruang tamu ada poster bagian tubuh manusia.


Kemudian, pelanggan akan dipersilakan masuk ke ruangan yang remang-remang, di sekat dengan triplek dan kain. Di ruangan remang ini konsumen akan dipijat. Sekilas, pijatan yang dilakukan oleh wanita asal luar Sumatera ini, rasanya bisa membuat tubuh jadi rileks. Mereka sepertinya terlatih melakoninya. Dengan pakaian dilepas, kemudian diganti dengan kain sarung, kita dipijit di atas dipan dengan memakai body lotion sebagai pelicin.


Tangan pemijat mulai memijat dari bagian kaki, dengan posisi pelanggan telungkup. Selanjutnya, posisi badan telentang. Dipijat dari ujung kaki hingga kepala. Pada saat itulah, si pemijat yang aduhai menggoda konsumen dengan layanan plus.


HI, 26, salah seorang pelanggan mengaku pijatan di sana membuatnya enjoy. Dia mengetahui panti pijat itu dari temannya yang sudah pernah ke sana. Awal pijat, dia tidak meminta pelayanan plus, walau dia sudah mengetahui kalau di sana tersedia pelayanan plus. Modusnya, setelah selesai memijat seluruh tubuh, si pemijat menawarkan untuk memijat bagian sensitif. “Yang itunya nggak dipijat mas,” ujar pemijat seperti ditirukan HI.


Menurut HI, tarif pijat di situ murah meriah, hanya Rp30 ribu. “Tergantung niat kita. Kalau dari rumah niatnya pijat, ya pijat. Tapi kalau dari rumah niatnya untuk mendapatkan pelayanan lebih, kita juga bisa mendapatkannya, tentu juga harus membayar lebih,” beber mahasiswa salah satu PTN di Padang.


Menurut HI, pelayanan plus yang bisa didapat di tempat ini hanyalah hand job (memijit bagian sensitif pria). Dia mengaku pernah mendapatkan pelayanan plus itu, untuk itu dia memberi tips Rp30 ribu. Walaupun begitu, pemijat tidak mau lebih dari itu, mereka cukup menjaga harga diri, tidak mau melakukan lebih dari itu.


Melati (bukan nama sebenarnya), salah satu pemijat yang mengaku berasal dari Solo, Jawa Tengah. Katanya, di panti pijat tempatnya bekerja, ada lima wanita pemijat yang juga dari Jawa. Dia sendiri sudah bersuami dan memiliki 4 orang anak. Namun, karena pendapatan yang menggiurkan, wanita 31 tahun ini pun memutuskan untuk merantau ke Ranah Minang.


Menurutnya, sehari dia bisa mendapatkan tiga hingga delapan pelanggan. Tempat dia bekerja buka dari jam sembilan pagi hingga jam delapan malam. Mereka tidak bersedia menerima pelanggan kalau lebih dari jam delapan. Mereka juga takut kalau tempat mereka bekerja adalah tempat esek-esek.


“Kita murni memijat mas, kalau lebih dari itu kita tidak mau. Dibayar berapa pun, apalagi melakukannya di rumah ini. Kami mencari nafkah di sini, jangan sampai kami digerebek warga karena melakukan hal yang tidak-tidak,” ujarnya.


Dia mengaku ada beberapa pelanggan yang meminta pelayanan lebih, dan mencoba menyentuh bagian sensitif tubuhnya. Namun, dia coba menghindar dengan cara sopan. Ketika ditanya tentang pelayanan hand job, dia hanya tersenyum. (bersambung)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA