Date Jumat, 1 August 2014 | 08:40 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Kasus Pembunuhan oleh Adik Kandung

Rekonstruksi Diwarnai Isak Tangis

Sabtu, 11-05-2013 | 10:31 WIB | 817 klik
Rekonstruksi Diwarnai Isak Tangis

Tersangka saat memperagakan aksi pembunuhan kakaknya dalam rekonstruksi, kemarin

Padangpariaman, Padek—Meski sempat diwarnai isak tangis dari keluarga korban, namun proses rekontruksi kasus pembunuhan yang menewaskan Nurbaini,56, warga Korong Lubuk Ipuah, Nagari Kurai Taji Kecamatan Nan Sabaris Padangpariaman Jumat kemarin berlangsung aman dan lancar.

Meski demikian, proses jalannya rekonstruksi tampak mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian, dipimpin Wakapolres Padangpariaman, Kompol Rosmawi Tanjung.

Juga hadir dalam proses rekontruksi kemarin, Kapolsek Pauh Kambar AKP Syafri N, Kasat Serse Polres Padangpariaman, AKP R Sihombing, Kasat Intel, AKP Yulinasril, Kanit Reskrim, Polsek Pauh Kambar, Aipda Johan dan sejumlah perwira lainnya.

Seperti diwartakan koran ini beberapa waktu yang lalu, korban Nurbaini tewas setelah dibunuh oleh adik kandungnya sendiri bernama Muhammad Yusuf,49, dengan sebilah sabit. Sebagaimana terungkap Jumat kemarin,kasus pembunuhan sadis tersebut diduga dipicu karena rasa sakit hati akibat kurang harmonisnya hubungan antara tersangka dengan korban sehingga memicu tersangka untuk menghabisi nyawa korban.

Seperti pantauan koran ini kemarin, kasus pembunuhan yang menewaskan Nurbaini berawal saat tersangka M Yusuf bermaksud hendak memancing ikan sekitar pukul 11.00 WIB malam. Karena itulah M Yusuf langsung mengambil sabit dan joran yang disimpan di dalam rumahnya.

Namun, karena tidak mendapatkan umpan untuk memancing, M Yusuf akhirnya kembali ke rumahnya dan langsung duduk di teras rumah. Saat itu ia sempat termenung sembari terkenang akan kisahnya dengan kakaknya. “Saat itulah ambo takana kisah jo kakak ambo, sahinggo ambo maraso sakik hati ka inyo,” ungkapnya.

Saat asyik dengan lamunannya, tiba-tiba tersangka merasa terusik oleh suara berisik yang berasal dari rumah adiknya, bernama Ema, sehingga tersangka langsung beranjak untuk manasehati adiknya tersebut. Namun, kedatangan tersangka ke rumah adiknya itu justru membuat adiknya marah.

Setelah itu, entah apa yang ada dalam fikiran tersangka, seketika tersangka langsung menuju rumah kakaknya Nurbaini dan langsung membuka pintu rumah kakaknya yang kebetulan tidak dikunci. Nubaini, sendiri saat itu sedang tidur di ruang tengah bersama dua anaknya, masing-masing Fitri dan Agustina. “Setelah manjagoan kakak, ambo langsung minta maaf ka inyo, dengan menyalami tangannyo, tapi kakak indak amuah maafkan ambo,” ungkapnya.

Diduga karena merasa sakit hati, tersangka langsung mengeluarkan sabit yang disimpan di balik pinggangnya dan seketika langsung membacokkannya ke arah perut korban. Mendapati kenyataan itu, Fitri anak korban langsung mendekap kedua tangan tersangka, dan tidak lama kemudian datang suami korban bernama Samsul dan berusaha mengamankan tersangka keluar rumah. Sesampai di depan rumah, datang saksi lainnya bernama Akhirudin yang juga adik korban yang juga ikut berusaha mengamankan korban. Bahkan saksi Akhiruddin sempat mengambil sabit dari tangan korban dan membuangnya ke halaman rumah.

Setelah mendapat laporan warga, petugas dari jajaran Polsek Pauh Kambar langsung turun ke lokasi. Petugas akhirnya berhasil mengamankan tersangka, meski sebelumnya sempat bersembunyi di belakang rumahnya.

Wakapolres Padangpariaman Kompol Rosmawi Tanjung dan Kapolsek Pauh Kambar AKP Syafri N, mengaku puas karena proses reskontruksi bisa berjalan aman dan lancar. “Namun demikian, kita tentunya berharap agar kasus seperti ini hendaknya agar bisa diantisipasi pada masa mendatang, apalagi kasus ini hanya dipicu oleh masalah konflik antar keluarga. Namun, karena dibiarkan berlarut-larut akhirnya bisa berakibat seperti ini,” terangnya.

Kenyataan itu juga diakui Wali Nagari Kurai Taji, Ir Zardi, menurutnya, pihaknya dari pemerintahan nagari telah mensosialisasikan kepada masyarakat, agar kalau ada permasalahan yang terjadi di tengah keluarga, sebaiknya diselesaikan secara baik baik, atau bisa juga dilaporkan kepada wali korong atau nagari sehingga nantinya bisa diselesaikan secara baik baik. “Kalau sekiranya masalah ini dilaporkan ke wali korong atau nagari tentu kejadiannya bisa diselesaikan secara baik-baik,” ungkapnya.

Kapolsek Nan Sabaris, AKP Syafri N mengaku berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran proses rekontruksi. Menurutnya, akibat kasus pembunuhan tersebut tersangka bisa dijerat dengan pasal 351 dan Pasal 338 dengan hukuman di atas 5 tahun penjara. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA