Date Sabtu, 26 July 2014 | 06:03 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Kurikulum Baru Berlaku 15 Juli 2013

Rabu, 03-04-2013 | 11:24 WIB | 3471 klik
Kurikulum Baru Berlaku 15 Juli 2013

-

Jakarta, Padek—Setelah melalui berbagai pro dan kontra, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberi lampu hijau atas pelaksanaan kurikulum 2013. Secara resmi, kurikulum baru tersebut mulai diberlakukan pada 15 Juli mendatang atau untuk mulai ajaran 2013/2014.

“Pada prinsipnya Pak Presiden memberikan arahan, kurikulum 2013 tetap jalan Juli nanti untuk 2013/2014,” kata Mendikbud Mohammad Nuh usai rapat terbatas di Kantor Presiden, kemarin (2/4). Menurut Nuh, presiden telah menyetujui konsep dasar, metodologi, hingga materi kurikulum 2013.

Namun, SBY meminta persiapan menjelang pemberlakuan kurikulum baru tersebut dilakukan dengan lebih matang.

Persiapan tersebut menyangkut pelatihan guru, penyiapan buku, monitoring, hingga evaluasi. Presiden juga berpesan agar pelaksanaan kurikulum baru tidak membenani masyarakat. “Artinya buku ini dibagikan secara cuma-cuma, gratis kepada siswa,” ungkap Nuh.

Mantan Menkominfo itu melanjutkan, kurikulum baru tersebut tidak lantas diberlakukan secara serentak di seluruh daerah di Indonesia. Pelaksanaan kurikulum tetap bertahap dan terbatas. “Bertahap itu maknanya, tidak kelas 1-6 SD, lalu SMP dan SMK tidak. Tapi, dimulai SD kelas 1-4. SMP dimulai kelas 1, MTs kelas 1, SMA juga kelas 1. Itu bertahap,” kata Nuh.

Presiden juga menginstruksikan Kemendikbud untuk menghitung dengan cermat jumlah guru yang akan mengikuti pelatihan terkait implementasi kurikulum tersebut. Sebab, hal tersebut lebih krusial dibanding menghitung jumlah buku. “Untuk buku seribu atau dua ribu cetaknya, itu persiapannya sama. Makanya beliau (presiden) meminta berapa pelatihan untuk guru itu. SD saja 148 ribu, sehingga 10 persennya saja sudah 15 ribu, memang size-nya,” urainya.

Setiba di kantor Kemendikbud, Nuh langsung menggelar rapat pimpinan tentang pematangan persiapan implementasi kurikulum bersama jajaran pejabat eselon 1 terkait. Usai rapim, Nuh mengatakan, masih ada kalangan anggota DPR yang keberatan terhadap implementasi kurikulum. “Terutama yang diberatkan itu anggaran untuk pelatihan guru dan pengadaan buku,” katanya.

Meskipun begitu Nuh tetap berpegang dengan hasil rapat bersama DPR akhir Desember lalu. “Tidak ada alasan sekarang menahan anggaran kurikulum. Karena Komisi X DPR sudah mengesahkan anggaran Kemendikbud di APBN 2013,” katanya. Dalam anggaran yang mencapai Rp 73 triliun itu, sebagian dialokasikan untuk kepentingan kurikulum. Dia menegaskan, ada atau tidak ada program kurikulum baru, pengadaan buku dan pelatihan guru mesti tetap ada. “Sekarang kalau kurikulumnya baru, masa buku lama yang dicetak,” tandasnya.

Anggota Komisi X Herlini Amran tidak sependapat dengan pernyataan Nuh itu. Dia mengatakan, selama pembahasan APBN 2013 bersama Komisi X, Kemendikbud sama sekali tidak pernah menyinggung urusan kurikulum baru.

Politisi PKS itu menyebutkan bahwa buku baru yang akan dicetak Kemendikbud berjumlah 72,8 juta eksemplar dengan anggaran Rp 1,2 triliun. “Kalau benar program buku itu rutin setiap tahun, kita tidak pernah menerima laporannya. Kami menuding kurikulum baru ini permainan proyek,” tandasnya.

Percetakan pemenang tender pengadaan buku baru, nantinya akan diuntungkan dengan kebijakan ini. Sementara percetakan buku-buku yang sudah telanjur mencetak buku-buku kurikulum lama dalam jumlah besar, bakal merugi.

Wamendikbud Musliar Kasim mengatakan, inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum tersebut disiapkan untuk mencetak generasi yang siap dalam menghadapi masa depan.

Karena itu, kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik beratnya, mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran.

Tematik-integratif artinya, materi ajar tidak disampaikan berdasarkan mata pelajaran tertentu, melainkan dalam bentuk tema-tema yang mengintegrasikan seluruh mata pelajaran. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran.

Pembelajaran tematik menyediakan keleluasaan dan kedalaman implementasi kurikulum, serta menawarkan kesempatan sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan.

Adapun obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik.

Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.(ken/wan/sof/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA