Date Kamis, 31 July 2014 | 18:25 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Nasional

Lima Polisi -Dua Anggota Sultan Sulu Tewas

Perang di Sabah makin Berdarah

Senin, 04-03-2013 | 11:13 WIB | 5830 klik
Perang di Sabah makin Berdarah

Polisi Malaysia memperketat pemeriksaan terhadap warga negara asing di sepanjang

Sabah, Padek—Baku tembak antara aparat keamanan Malaysia dengan kelompok bersenjata Kesultanan Sulu yang konon berasal dari Minangkabau, terus makan korban. Dalam pertempuran sengit yang terjadi Sabtu malam lalu (2/3), tujuh orang dilaporkan tewas diterjang peluru. Lima orang tewas adalah polisi Malaysia, sedangkan dua lagi anggota bersenjata yang menyebut dirinya sebagai tentara Kesultanan Sulu.

Kepala Polisi Malaysia Inspektur Jenderal Tan Sri Ismail Omar mengatakan, baku tembak itu terjadi di wilayah Semporna, Negara Bagian Sabah. Daerah itu terletak 300 km dari lokasi bentrokan pertama yang terjadi di Lahad Datu, Sabah, pada Jumat lalu (1/3). Dalam baku tembak di Lahad Datu, 12 orang kelompok Sulu yang semuanya warga negara Filipina tewas, sedangkan dari Malaysia dua nyawa polisi melayang.

Ismail mengatakan, baku tembak bermula saat polisi dikirim ke sebuah desa di daerah Semporna setelah mendengar laporan ada kelompok bersenjata Sulu di wilayah tersebut. Saat tiba ke desa itu, polisi Malaysia disambut tembakan. Dor, dor, dor. ”Lima polisi dan dua orang bersenjata Sulu dilaporkan tewas,” kata Ismail seperti dikutip The Star, kemarin.

Menurut Ismail, ada tiga daerah yang menjadi tempat pertempuran antara pasukan Malaysia dengan tentara Sulu di wilayah Sabah. Yaitu Lahad Datu, Semporna, dan Kunak.

Kini polisi Malaysia terus memburu orang-orang Sulu bersenjata yang diperkirakan berjumlah 300-an di wilayah pantai timur Sabah tersebut.

“Kami memburu orang-orang bersenjata yang terlihat mengenakan perlengkapan militer,” tuturnya. Sabtu lalu, lanjut Ismail, pihaknya telah menangkap tiga orang yang mencoba menerobos blokade keamanan di wilayah Lahad Datu. Namun mereka tak bersenjata api, hanya membawa pisau.

Kejadian di Sabah kontan membuat rakyatnya resah. Sejumlah pejabat lokal melaporkan penduduk setempat terlihat memborong berbagai kebutuhan sehari-hari sebagai persediaan bila terjadi perang. Apalagi di wilayah Sabah banyak dihuni imigran Filipina baik yang legal maupun yang ilegal. Karena itu, Ismail mengimbau masyarakat di Sabah tetap tenang, tidak terpancing dengan isu apa pun. “Situasi di ketiga wilayah sudah terkendali,” tambah Ismail.

Dari Taguig City, Filipina, Sultan Sulu Jamalul Kiram III mengatakan pihaknya telah menangkap empat orang warga Malaysia pascabaku tembak di Semporna. Empat orang tawanan itu terdiri atas seorang perwira polisi, dua orang tentara, dan seorang pejabat pemerintah lokal. “Kami instruksikan kepada anggota untuk menghormati hak-hak tawanan,” ujar Sultan Kiram seperti dilansir News TV Live.

Presiden Filipina Benigno Aquino sendiri telah menyerukan kelompok bersenjata Sulu untuk menyerah tanpa syarat secepatnya. “Saya minta mereka yang terlibat di sana segera menyerah tanpa syarat,” tutur Aquino dalam pernyataannya di Manila.

Tapi Abraham Idjirani, juru bicara Sultan Kiram, menegaskan tentara Kesultanan Sulu tak akan menyerah dan akan bertahan sampai titik darah penghabisan. Menurut dia, saat ini Sultan Kiram berharap Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi sengketa atas Sabah itu. Sebagai negara yang ikut mengontrol Filipina pada 1900-an, Washington dinilai tahu betul sejarah kepemilikan Kesultanan Sulu atas Sabah. “Malaysia ingin menyembunyikan kebenaran bahwa mereka sebenarnya tidak berhak atas Sabah. Itu (Sabah) milik kita,” timpal Abraham. Kedutaan AS di Manila hingga kini belum memberikan pernyataan tentang hal itu.

Merujuk catatan sejarah, Sabah yang kini menjadi bagian Malaysia merupakan wilayah Kesultanan Sulu yang disewakan kepada pemerintah kolonial Inggris. Setelah Perang Dunia II, Inggris berniat mengembalikan Sabah ke Kesultanan Sulu. Lalu dilakukan pemungutan suara untuk menentukan apakah rakyat Sabah memilih bergabung dengan Malaysia atau kembali ke Kesultanan Sulu. Hasilnya, rakyat Sabah memilih bergabung dengan Malaysia. Sabah sendiri punya kekayaan alam yang melimpah. Berdasar catatan 2011, wilayah Sabah punya cadangan gas alam 11 triliun kaki kubik dan cadangan minyak 1,5 miliar barel.

Aksi penyusupan berlangsung setelah Kesultanan Sulu merasa dirugikan dengan kesepakatan damai antara pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Kepulauan Mindanao. Kesepakatan yang dimediasi Malaysia pada Oktober 2012 itu menyebut Mindanao “termasuk Sulu” sebagai wilayah otonomi dan memberikan sebagian besar wilayah untuk dikelola secara independen.

Kesepakatan tersebut menyebabkan Kesultanan Sulu yang terletak di Filipina bagian selatan tidak mendapat lahan lagi dan berniat merebut wilayah mereka di tempat lain, yaitu Sabah.

Itulah sebabnya aksi pendudukan orang Sulu ini merupakan masalah yang pelik bagi pemerintah Malaysia dan Filipina. Tentara Sulu sendiri sudah terbiasa melakukan perang gerilya di daerah Filipina Selatan yang selama ini menjadi basis pejuang Moro dan kelompok Abu Sayyaf.

Dari dalam negeri, Kemenlu langsung memberikan perhatian khusus pada konflik yang terjadi di wilayah Sabah. Saat ini tercatat ada sekitar 10 ribu WNI berdomisili di sekitar wilayah konflik. Direktur Informasi dan Media Kemlu PLE Priatna atas nama pemerintah RI meminta perhatian serius dari Malaysia dan Filipina agar menjaga konflik tidak meluas hingga mengakibatkan korban dari warga negara lain.

Menurut dia, dari 10 ribu WNI di daerah itu mayoritas bekerja di perkebunan kelapa sawit. “Mereka pada umumnya membawa keluarganya ke sana. Tapi sejauh informasi yang kami dapat mereka tidak berada tepat di tempat yang disengketakan,” terangnya kepada JPNN, kemarin.

Meski begitu, kekhawatiran pemerintah tetap ada sehingga akan dilakukan pemetaan seandainya ada banyak WNI yang berdomisili terlalu dekat dengan daerah konflik. “Lahad Datu (basis pasukan Sulu) posisi persisnya di mana akan kita pelajari. Tetapi sejauh ini Malaysia dan Filipina sudah berusaha agar konflik tidak meluas,” sambung Priatna.

Priatna memperoleh kabar bahwa sejak konflik bergulir semua aktivitas di sekitar lokasi diliburkan. Kebijakan itu dinilai cukup melindungi bagi warga yang tidak terlibat konflik termasuk WNI di sekitar daerah tersebut.

Asal Minangkabau

Sumber Ensiklopedia menyebutkan, pada tahun 1380, seorang ulama keturunan Arab, Karim ul-Makdum memperkenalkan Islam di Kepulauan Sulu. Kemudian tahun 1390, Raja Bagindo yang berasal dari Minangkabau melanjutkan penyebaran Islam di wilayah ini. Hingga akhir hayatnya Raja Bagindo telah mengislamkan masyarakat Sulu sampai ke Pulau Sibutu.

Sekitar tahun 1450, seorang Arab dari Johor yaitu Shari’ful Hashem Syed Abu Bakr tiba di Sulu. Ia kemudian menikah dengan Paramisuli, putri Raja Bagindo. Setelah kematian Raja Bagindo, Abu Bakr melanjutkan pengislaman di wilayah ini.

Pada tahun 1457, ia memproklamirkan berdirinya Kesultanan Sulu dan memakai gelar Paduka Maulana Mahasari Sharif Sultan Hashem Abu Bakr. (gen/oki/jpnn)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA