Date Kamis, 24 July 2014 | 22:21 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Firwan Tan: Harus Dikelola Profesional

Tiga Perusda Diusulkan Merger

Selasa, 23-10-2012 | 10:53 WIB | 390 klik
Tiga Perusda Diusulkan Merger

Salah satu unit usaha PT Dinamika, tempat pencucian kendaraan

Padang, Padek—Ketua Komisi II DPRD Sumbar, Zulkenedi Said menyarankan agar ketiga perusahaan daerah (perusda) yang sakit, yakni PT Grafika, PT Andalas Tuah Sakato (ATS) dan PT Dinamika digabungkan (merger).

“Ini perlu dipertimbangkan juga oleh pemerintah daerah, tidak perlu tiga perusdalah. Jadikan satu saja, yang lainnya jadi unit usaha saja. Itu lebih efisien dan efektif. Kalau sekarang, tiga perusahaan ada enam direksi, enam pula kantornya dan akan banyak karyawannya. Kalau jadi satu perusahaan, hanya dua direksi dan dua pula kantornya,” kata Zulkenedi kepada Padang Ekspres, kemarin (22/10).

Menurutnya, biarlah manajemenya kecil, tapi usahanya besar. Lalu, operasional kecil, untungnya besar. Tidak seperti saat ini, di mana operasional besar tapi untungnya sedikit. Pada hakekatnya perusda didirikan untuk memberikan pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemprov Sumbar. “Bukan untuk membiayai dan menguras APBD,” celetuknya.

Di sisi lain, Komisi II menyerahkan sepenuhnya kepada Pemprov Sumbar terkait langkah yang akan diambil terhadap ketiga perusda. “Kita masih tunggu apa tindak lanjut dari pemerintah daerah hingga pembahasan KUA-PPAS APBD 2013 tanggal 24 Oktober ini,” terangnya.

Namun, dia memaparkan beberapa hal yang penting soal keberadaan dari ketiga perusda tersebut, berkaitan dengan penyusunan KUA-PPAS APBD 2013. Zulkenedi menyebutkan, ketiga perusda mempunyai masalah berbeda.

Pada 18 Oktober lalu, ketiga perusda diundang dalam rapat kerja dengan Komisi II. Dua hari sebelumnya, 16 Oktober lalu, Komisi II melakukan kunjungan ketiga perusda. “Kami lihat kondisi mereka dan sumber daya mereka dan apa yang terjadi di kantor masing-masing. Dari kunjungan ke lapangan dan hasil rapat kami, ada beberapa hal yang telah kami sampaikan dan termasuk yang kami simpulkan,” ungkap Zulkenedi.

Kesimpulan pertama untuk PT ATS, kata Zulkenedi, Komisi II telah memberi pandangan pada Pemprov Sumbar agar keberadaan PT ATS dikaji ulang. Pasalnya, modal Rp 500 juta yang dianggarkan APBD tahun 2012, mereka dapati tidak dipergunakan dengan baik. Dana itu malah dipinjamkan manajemen PT ATS dalam bentuk mudharrabah dalam jangka waktu 1 bulan.

“Waktu rapat hal itu kita pertanyakan. Mereka punya uang, tapi tidak bisa melakukan apa-apa, disuruh orang pinjam uang dan diterima saja bunga, itu kerja apa?” cetus Zulkenedi.

Sementara itu, dengan kondisi demikian, PT ATS meminta penambahan modal. “Untuk penambahan modal, kami belum pada kesimpulan untuk memberikan tambahan modal. Kami hanya minta itu dilakukan evaluasi. Kalau itu tidak dilakukan, perlu dilakukan likuidasi, karena kami lihat tidak ada arah yang lebih baik,” tegas Zulkenedi.

Sedangkan PT Dinamika, kata Zulkenedi, sudah ada beberapa langkah perbaikan yang dilakukan manajemen, seperti revitalisasi usaha perbengkelan. Tapi bersamaan dengan itu, usaha SPBU malah ditutup. Ditambah lagi direktur utamanya mengundurkan diri.

“Kami menduga, ada yang salah di internal perusda di samping masalah cash flow dan banyak piutang yang tidak bisa ditagih. Dari sekian banyak komplikasi itu, kami juga meminta pemerintah daerah memperbaiki itu. Untuk permintaan penambahan modal, kami belum sampai kepada hal itu karena masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah daerah,” imbuhnya.

Sedangkan PT Grafika, diakuinya secara program sudah ada perbaikan oleh manajemen. Seperti revitalisasi pegawai. Hanya, keuntungan perusahaan di bidang percetakan ini habis untuk membayar utang perusahaan.

“Kesimpulan kami ketiga perusda ini adalah perusahaan sakit, kondisi sakitnya berbeda-beda. Yang sakit itu harus diperbaiki oleh manajemennya. Kami beri waktu pemerintah terkait penambahan dana dari ketiga perusda ini hingga KUA PPAS APBD tahun 2013, agar mengevaluasi secara komprehensif apakah perusda ini perlu ditambah atau tidak. Alasannya yang jelas. Kita minta laporan dari Pemprov,” tukasnya.

DPRD meminta komitmen Pemprov agar jangan setengah-setengah membenahi perusda ini. “Contoh Dinamika saja. Banyak piutang pemerintah daerah yang lama penagihannya kepada Dinamika. Ini indikasi pemerintah daerah setengah-setengah komitmennya,” pungkasnya.

Harus Profesional

Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Firwan Tan mengatakan, jika ada BUMD yang amburadul berarti ada kesalahan yang harus segera diperbaiki. Kesalahan pertama, pemilihan direktur atau the man behind the gun (aktor utama) yang menjalankan BUMD tersebut. “Perlu dilakukan terobosan dengan mengganti dan mencari orang yang profesional. Kalau perlu disewa konsultan untuk memilih direkturnya,” ujarnya.

Kesalahan kedua, terletak pada tugas pokok dan fungsi (tupoksi), juklak dan juknis serta rencana bisnis (business plan). “Setelah dipimpin oleh orang yang profesional, perlu diorganisir kembali sistem manajemen usahanya sedemikian rupa sehingga sudah cukup merepresentasikan pola manajemen modern,” sebutnya.

Kesalahan ketiga, perlu komitmen politis dari DPRD untuk mendukung agar BUMD tersebut tumbuh dan berkembang. “Sebuah perusahaan yang baru mulai, perlu dibina dan dibimbing. Perusahaan itu butuh anggaran. Tapi, DPRD harus membuat komitmen politiknya juga, berapa lama tenggat waktunya. Anggaran yang diberikan itu dapat berbentuk budget start-up (memulai) dan restart-up, jadi tidak selama-lamanya,” jelasnya. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA