Date Kamis, 31 July 2014 | 04:15 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Dilema Penambang Luar Sumbar di Sijunjung

Ahli Menambang, tapi tak Patuhi Adat Istiadat

Senin, 03-09-2012 | 13:53 WIB | 1059 klik
Ahli Menambang, tapi tak Patuhi Adat Istiadat

Batang Palangki, salah satu lokasi penambangan emas di Kabupaten Sijunjung.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Falsafah itu pula yang dilabrak para pekerja tambang emas dari luar Sumbar di Kabupaten Sijunjung. Mereka ahli melakukan pekerjaan berisiko tinggi, tapi membawa pengaruh buruk bagi pergaulan muda-mudi di daerah “Lansek Manih” ini.

Mereka didatangkan dari Kalimantan. Keahlian para “penambang impor” itu sangat dibutuhkan pengusaha tambang emas di Sijunjung. Terutama untuk pertambangan kapal dompeng. Dalam mencari emas, mereka nekat menyelam ke dalam lubang di dasar sungai dengan peralatan kompresor sebagai alat bantu pernapasan.

Selama ini, hanya pekerja asal Kalimantan ini yang mampu melakukan pekerjaan berisiko tersebut.

Keberanian mereka patut diacungi jempol. Bayangkan, mereka mampu menyelam di air keruh dan dalam. Mereka membawa sebuah selang untuk menghisap batu dan pasir yang mengandung emas tanpa sedikit pun penerangan.

Sedikit saja ceroboh, maut langsung menanti ditimbun longsoran tebing. Mereka juga rawan terisap selang penyedot material tanah di dasar sungai. Saking tingginya daya isap penyedot itu, bisa memutuskan pergelangan tangan.

Padang Ekspres menemui beberapa penambang emas itu pekan lalu. Di antaranya, Irmika, warga Ladangcengkeh, Nagari Tanjungampalu, Kecamatan Koto VII. Dia angkat tangan melihat keberanian pekerja tambang asal Kalimantan itu, menyelam di dasar sungai. Tak heran, banyak pengusaha tambang menggunakan tenaga mereka. “Pekerja lokal jarang yang berani,” ungkap Irmika.

Penghasilan tinggi menjadi daya tarik bagi mereka merantau ke Sijunjung. Jika sedang hoki, mereka bisa mendapat upah Rp 5 juta per minggu. Sebagai dampaknya, ekonomi masyarakat lokal bergairah.

Celakanya, keberadaan para “penambang impor” ini membawa mudarat bagi pergaulan generasi muda setempat. Salah satunya, pergaulan bebas dan asusila. Mereka tidak mengikuti adat istiadat setempat.

Agustar Malin Penghulu, Wali Nagari Limo Koto Kecamatan Koto VII Sijunjung mengungkapkan, sejak para penambang asal Kalimantan datang, marak kasus asusila di Sijunjung. “Ada kasus remaja yang dihamili dan ada juga anak dibawah umur yang dilarikan pekerja pendatang itu,” ujarnya.

Setelah menghamili anak gadis setempat, para penambang itu menghilang. Ada juga yang dinikahi, namun setelah punya satu anak, istrinya ditinggalkan. Selain perbuatan asusila, kasus kriminal lainnya juga marak terjadi.

Seperti pencurian di Nagari Padanglawas, Kecamatan Koto VII pada Ramadhan lalu.

Pelakunya babak belur dihajar warga karena tertangkap tangan membawa karpet penyaring yang berisi emas murni.

Lalu, salah seorang pekerja asal Kalimantan ditangkap warga Batugondang, Nagari Limokoto, Koto VII, karena melarikan remaja 14 tahun, anak salah satu guru SD di Sijunjung. Pelakunya dijebloskan ke penjara Polres Sijunjung.

Mawardi, salah seorang pekerja pendatang asal Kalimantan mengatakan, benturan itu terjadi karena perbedaan adat dan budaya antara mereka dengan pribumi. Pria yang sudah tujuh tahun hidup dan berkeluarga di Ladangcengkeh Nagari Tanjungampalu, itu menyebut mereka berasal dari Suku Melayu dan Dayak di Kalimantan. “Karena punya uang banyak, yang jadi korban pun mungkin tergiur, sehingga menurut saja,” beber Mawardi, ketika ditemui di Kantor Wali Nagari Limo Koto beberapa waktu lalu.

Saat ini, hampir seribu pekerja tambang asal Kalimantan di Sijunjung. Mereka tidak memiliki identitas jelas dan tidak didata wali jorong, wali nagari, maupun pengusaha tambang.

Walaupun begitu, tidak semua warga Sijunjung menilai buruk pada pekerja pendatang itu. Linda misalnya, pemilik kos yang ditempati warga Kalimantan di jalan raya Muarogambok. Menurutnya, warga Kalimantan yang menyewa tempat kosnya relatif sopan dan baik.

Menyikapi masalah ini, Agustar, Wali Nagari Limokoto, berencana mendata semua pendatang asal Kalimantan. Salah satunya mewajibkan setiap pendatang baru melapor ke wali nagari, berikut penanggung jawabnya.

“Kita berusaha mendata tempatnya bekerja dan tempat tinggalnya. Bagi pengusaha tambang sebagai penanggung jawab, harus betul-betul membina anggotanya,” jelas Agustar.

Selain aparat terkait, Agustar Malin Penghulu juga meminta polisi menjaga keamanan dan kenyamanan nagari. “Yang jelas, ini tugas bersama, baik pemuda, ninik mamak dan masyarakat lainnya. Peran ninik mamak dan orangtua serta masyarakat sangat besar dalam menjaga perilaku anak kemenakan,”tegas Malin Penghulu.

Anehnya lagi, jika di Dharmasraya dan Solok Selatan gencar dirazia pertambangan emas rakyat, di Sijunjung keberadaannya terkesan dilindungi. (mg19)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA