Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 07:17:47 WIB
NASIONAL

Tak Pernah Juara Kelas, Mendadak Terkenal

Triawati Octavia, Peraih Nilai Unas SMA Tertinggi Se-Indonesia

Padang Ekspres • Minggu, 27/05/2012 08:45 WIB • DEDEN R UMAM -- Kuningan • 2082 klik

Triawati bersama kedua orangtuanya. Bahagia menjadi peraih UN tertinggi.

Prestasi akademiknya di SMAN 2 Kuningan, Jabar tergolong biasa saja. Bahkan, Triawati Octavia belum pernah juara kelas. Prestasi tertingginya adalah menembus 15 besar di kelas. Namun, saat hasil ujian nasional (UN) SMA diumumkan kemarin, dia berhasil menempati peringkat pertama nasional. Bagaimana keseharian Triawati?

 

TAK ada yang menyangka bahwa Triawati Octavia, siswa kelas XII IPA 5 SMAN 2 Ku­ni­ngan akan menjadi peraih nilai ter­tinggi UN se-Indonesia. Be­gitu juga halnya dengan Tria –sapaan akrab Triawati. Remaja yang tak suka menonton TV itu mengatakan sama sekali tidak pernah berpikir bisa meraih hasil UN sedemikian fe­no­me­nal. Hasil UN yang di luar du­ga­annya itu membuat namanya mendadak terkenal di seantero Kuningan, bahkan nasional.

 

Sepintas tidak ada yang is­ti­mewa dari diri Triawati. Jika dibandingkan dengan rekan-re­kannya yang selalu juara ke­las, prestasi Tria tak ada apa-apa­nya. Pihak sekolah sendiri me­ng­ang­gap prestasi akademik Tria biasa-biasa saja seperti kebanyakan siswa yang lain. Malah, tak pernah sekali pun Tria menembus posisi tiga besar di kelasnya. Tak meng­herankan jika pihak sekolah juga nyaris tidak percaya bahwa Tria bisa meraih hasil unas tertinggi se-Indonesia.

 

Mencari rumah Tria tak ter­la­lu sulit. Letaknya di pinggir jalan raya Kuningan–Cikijing. Tria tinggal di RT 05, RW 02, Dusun Cinangsi, Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kuningan. Dari pusat kota hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Rumah remaja berlesung pipit itu cukup sederhana.

 

Di rumah dua lantai bercat kuning itu, Tria tinggal bersama dua orang tuanya, Drs Syahrul Ari­fin dan Hj Uhintawati Am­Keb. Dua kakaknya sudah be­ker­ja sebagai PNS di DKI Jakarta. Di kamar depan rumahnya dijadikan tempat praktik sang ibu sebagai bidan.

 

Se­dangkan sang ayah, Syah­rul, adalah pegawai Ke­camatan Darma.

 

Tria yang kemarin diantar pulang oleh beberapa guru dan wali kelasnya langsung dipeluk sang ibunda, Uhintawati. Pe­rem­puan berjilbab itu terlihat bangga atas hasil spektakuler yang dicatatkan anak keti­ga­nya itu. Sepuluh menit ke­mu­dian Syahrul datang dan lang­sung memeluk putri kesa­yangannya tersebut. Suasana haru terjadi dalam sekejap.

 

”Saya sama sekali tak me­nya­ngka putri saya bisa meraih hasil yang sangat mem­ba­ng­gakan. Apalagi, selama ini prestasi di sekolahnya biasa-biasa saja. Saya awalnya hanya me­ngharapkan Tria lulus se­kolah dengan hasil me­muas­kan dan tak pernah ter­ba­ya­ng­kan bisa meraih nilai UN ter­tinggi se-Indonesia. Saya dan juga ibunya Tria benar-benar kaget begitu membaca koran Radar Cirebon yang memuat nama anak saya sebagai peraih nilai unas tertinggi se-Indonesia,’’ papar Syahrul dengan suara terbata-bata.

 

“Pagi-pagi saat berada di kantor, teman-teman bilang bahwa anak saya meraih nilai tertinggi UN. Saya lalu nyari beritanya. Ternyata benar, nama anak saya tercantum. Saya masih tak percaya. Ke­mu­dian, dari SMAN 2 Kuningan ngasih kabar bahwa anak saya memang meraih nilai unas tertinggi. Itu baru saya per­caya. Ini semua karunia dari Allah SWT,” sambung Syahrul.

 

Dia menceritakan ba­gai­mana keseharian keluarganya. Kepada anaknya, Syahrul dan Uhintawati bersikap tegas. Saat belajar, Tria dilarang menonton TV atau keluar ma­lam. Saking tegasnya, Syahrul melarang putri kesayangannya itu main facebook. Apalagi, saat pelaksanaan UN, dia dan is­trinya benar-benar me­nga­wasi putrinya belajar. Disiplin yang ketat, rupanya, mem­buahkan hasil. ”Mungkin saya dan istri saya terlalu tegas terhadap anak karena sangat ingin melihat dia (Tria, Red) lulus dari sekolahnya. Itu saja,” kata Syahrul.

 

Selain soal belajar, Syahrul selalu meminta anaknya salat Duha dan shalat malam. Sikap tegas dua orang tuanya itu diakui Tria. Remaja cantik tersebut mengatakan, dua orang tuanya sangat tegas. “Pa­pah dan Mamah sangat tegas. Ta­pi, saya mematuhi karena ingin meraih masa depan yang baik. Saya hanya berusaha belajar yang baik dan tak per­nah terpikirkan bisa meraih nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia,’’ tutur Tria yang memiliki obsesi menjadi dok­ter itu.  

 

Dari sisi ekonomi, Tria ter­masuk beruntung. Ke­luar­ga­nya tergolong mapan. Dua orang tuanya adalah PNS. Syah­rul menjabat Kasikesra di Kantor Kecamatan Darma dan ibunya bekerja di Puskesmas Darma. Satu unit mobil Kijang terparkir di garasi rumahnya. Meski ekonominya mapan, Syahrul dan Uhintawati memilih hidup sederhana. Tak ada barang mewah di dalam ru­mah­nya. Kursi di ruang tamu pun seperti kebanyakan milik warga di desanya. Bahkan, satu set kursi model lama tertata di ruang tengah keluarga har­monis tersebut.

 

Wali kelas XII IPA 5 SMAN 2 Kuningan Drs Raindra me­nye­butkan, prestasi Tria di kelas biasa-biasa saja. Di ke­las­nya tidak begitu menonjol dan bukan juara kelas. Dia hanya pernah masuk 15 besar di kelas.

 

Namun, Raindra me­ngu­ng­kapkan bahwa Tria me­mi­liki kelebihan. Terutama dari sisi ketekunan dan kerajinan belajar. Motivasi belajarnya tinggi serta menunjukkan si­kap yang sopan dan santun. “Mungkin karena dia merasa enjoy ketika mengerjakan soal unas. Didorong pula dengan rajin beribadah seperti puasa Senin-Kamis dan salat Duha,” tuturnya diamini Kepala SM­AN 2 Kuningan Drs Bam­bang Sri Sadono MPd.

Sebagai wali kelas se­ka­ligus guru kimia, Raindra tahu betul keseharian Tria. Setiap dirinya memberikan tugas, gadis kelahiran 28 Oktober 1993 tersebut mengerjakan dengan baik. Raindra pun menyatakan salut atas be­sarnya motivasi dua orang tua Tria. “Sewaktu unas, saya sempat menanyakan kepada Tria bagaimana dorongan orang tuanya. Dia menjawab, mamahnya rajin puasa selama unas dilangsungkan,” ujarnya.

 

Indra, sapaan akrab Rain­dra, menilai suasana keluarga Tria cukup kondusif dalam mendidik putrinya. Suasana  tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan be­lajar Triawati. Beban psi­ko­lo­gis yang ditanggung se­luruh peserta unas mampu die­m­paskan berkat dukungan orang tuanya.

 

Data yang diperoleh Radar Ci­rebon (Padang Ekspres Gro­up) menyebutkan, nilai enam mata pelajaran UN yang dida­pat Tria di atas 9. Bahkan, khusus mata pelajaran kimia, gadis yang berjilbab itu men­dapat nilai 10. Rata-rata nilai UN murni untuk enam mata pelajaran adalah 9,77.

 

Untuk mata pelajaran ba­hasa Indonesia, Tria mem­peroleh nilai 9,8. Nilai itu sama dengan mata pelajaran bahasa Inggris. Sedangkan untuk ma­te­matika, dia berhasil men­dapat nilai 9,75, sama dengan pelajaran fisika. Paling kecil nilai Tria adalah mata pela­jaran biologi, yakni 9,5. Jika ditotal, nilainya 58,60.

 

Kemarin Tria terlihat gem­bira, namun tetap tenang. Kepada Radar Cirebon, siswi yang aktif di OSIS dan palang merah remaja (PMR) itu tak lupa bersyukur kepada Allah SWT. Dia sangat berterima kasih kepada dua orang tua­nya, para guru, serta teman-teman yang berjuang bareng ketika menghadapi unas.

 

Tria mengaku sangat kaget. Sebab, di antara sekian banyak teman, banyak yang lebih pin­tar daripada dirinya. Bah­kan, dia kerap belajar dari teman-teman yang lebih pintar. “Aku kaget pas dengar kabar itu. Kayaknya enggak mungkin,” ucapnya.

 

Ditanya rencana selepas lulus SMA, Tria ingin me­ne­ruskan kuliah di UI (Universitas Indonesia). Fakultas yang diincarnya adalah ilmu kese­hatan masyarakat dengan ju­ru­san manajemen rumah sa­kit. Gadis kalem itu bercita-cita ingin menjadi manajer rumah sakit.

 

Sebetulnya saat ini dia sudah diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Namun, hal itu belum dipu­tuskan karena masih ada wak­tu registrasi hingga Juni men­datang. Berbicara tentang kiat belajar, Tria mengatakan sama dengan teman-teman yang lain. Intinya adalah berdoa dan berusaha. Kala menghadapi unas, dia mempunyai tips khusus, yakni memacu se­ma­ngat belajar dan tidak ber­leha-leha.

 

“Sebenarnya waktu mau unas aku deg-degan, kayak temen-temen lainnya. Tapi, alhamdulillah, waktu itu Pa­pah dan Mamah serta para guru yakinin aku sehingga mampu mengurangi rasa gu­sar,” tutur siswi yang menilai fisika sebagai mata pelajaran sulit tersebut. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!