Date Jumat, 1 August 2014 | 08:40 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Soal Disimpan di Sekolah, Pekan Depan Murid Diuji

UN SD tak Perlu Diawasi Polisi

Senin, 30-04-2012 | 10:30 WIB | 492 klik
UN SD tak Perlu Diawasi Polisi

TETAP BELAJAR: Murid SDN 20 Sungaisapiah tetap mengikuti proses belajar mengajar

Tan Malaka, Padek—Ujian Nasional (UN) tingkat SMA dan SMP telah usai. Senin (7/5) mendatang giliran 15.361 murid SD/MI di Kota Padang mengikuti ujian kelulusan itu. Pelaksanaan ujian berlangsung tiga hari dengan mata pelajaran yang diuji; Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). UN ini tak perlu diawasi polisi karena akan mengganggu konsentrasi murid.


Untuk UN tingkat SD/MI, pengawasan ujian sedikit longgar. Ini setidaknya bisa dilihat dari penyimpanan soal yang sebelumnya di kantor polisi (Polsek), sekarang hanya disimpan di setiap sekolah penyelenggara ujian. Ini dilakukan mempertimbangkan keberadaan sekolah kebanyakan jauh dari kantor polisi. Dinas Pendidikan mengklaim pola ini aman dan tidak membuat soal dibocorkan oleh petinggi sekolah.


”Jika disimpan di Polsek, tentu proses penjemputan akan mengalami kesulitan, karena masih banyak SD jauh dari Polsek. Meski demikian, kami menjamin kerahasiaan naskah ujian,” kata Kabid TK dan SD Dinas Pendidikan Padang, Musdek kepada Padang Ekspres, kemarin.


Musdek mengatakan naskah ujian ini disimpan di lemari yang dinilai layak, lalu diberi lima kunci pengaman. Setiap kunci pengaman disimpan kepala dan pengawas sekolah. ”Saat ujian polisi dengan pakaian dinas lengkap tidak dibenarkan berada di lokasi ujian.

Ini mengingat akan menganggu konsentrasi murid saat ujian,” kata Musdek. Musdek menambahkan tidak seluruh sekolah menjadi penyelengara ujian. Sebanyak 411 SD/MI, hanya 117 sekolah yang dijadikan penyelenggara ujian dan dibagi menjadi 838 lokal ujian.

”Untuk SD kompleks, misalnya, di SD Alanglaweh dan Tan Malaka dijadikan satu penyelengara dan setiap kepala sekolah memegang kunci pengaman penyimpanan naskah ujian,” ungkap Musdek.


Tidak hanya sekolah di kompleks, kata Musdek, sekolah berdekatan juga digabung pelaksanaan UN. Apalagi sekolah yang masih rusak dan sedang dalam pembangunan, murid ujian di SD terdekat yang ditunjuk oleh Disdik.


”Untuk jumlah pengawas, seluruhnya 1.664 pengawas dengan sistem silang. Jadi pengawas berasal dari sekolah berbeda atau dari lain kompleks sekolah lain,” ucapnya.


Setelah ujian, lembar jawaban dibawa ke Posko UN SD di kantor Disdik Padang. ”Di posko akan dilakukan pemindaian lembar jawaban oleh tim. Kemudian hasil pemindaian itu diantarkan ke Pusat Komputer (Puskom) Disdik Sumbar pada hari sama,” ujarnya seraya mengatakan untuk nilai, juga menerapkan sistem 60 persen nilai UN dan 40 persen nilai sekolah.


Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Padang Mukhaiyar menilai naskah soal UN SD yang tidak disimpan di Polsek dekat sekolah tidak perlu menjadi permasalahan. ”Dengan adanya pengamanan dari kepala sekolah dan pengawas, sudah cukup memberikan jaminan keamanan naskah UN tersebut,” katanya.


Menurut Direktur Pascasarjana UNP ini, untuk pengawasan UN dari kepolisian berpakaian lengkap juga tak perlu dilakukan. ”Keberadaan polisi itu akan mengganggu konsentrasi murid SD ujian. Jika ingin patroli cukup menggunakan pakaian sipil saja,” saran Mukhaiyar. (e)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA