Date Rabu, 30 July 2014 | 18:06 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Peristiwa

Ibu 11 Anak Pingsan, Pemohon Bawa Massa

Pengosongan Lahan Nyaris Ricuh

Selasa, 06-03-2012 | 14:08 WIB | 645 klik
Pengosongan Lahan Nyaris Ricuh

TEGANG: Pemilik lahan Lili Suryani yang mendadak pingsan saat eksekusi pengosong

Payakumbuh, Padek—Eksekusi pengosongan lahan beserta ruko tiga pintu dan sawmill di Jalan Profesor Hamka atau Jalan SMP 3 Tarok Nomor 46 C, Kelurahan Tarok, Payakumbuh Utara oleh Juru Sita Pengadilan Negeri Payakumbuh, Senin (5/5) siang, diwarnai ketegangan.


Tidak hanya tegang dan memakan waktu selama hampir 6 jam, eksekusi yang dilakukan berdasarkan surat Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Payakumbuh No 01/Pen.Pdt/2012/PN.PYK tanggal 8 Februari 2012 tersebut, juga nyaris berlangsung ricuh.


Ini terjadi karena pemilik lahan dan bangunan enggan melaksanakan perintah eksekusi.Sedangkan pihak pemohon eksekusi yang hadir bersama juru sita, terkesan ngotot untuk melakukan eksekusi, bahkan membawa sekitar 20 pria untuk mengosongkan lahan.


Pemilik lahan seluas 1.260 meter persegi beserta ruko tiga pintu dan sawmill, yakni pasangan suami-istri Nasir dan Lili Suryani beralasan, mereka masih mengajukan bantahan atau keberatan atas eksekusi maupun lelang yang dilakukan Bank Rakyat Indonesia.


“Kami masih mengajukan bantahan atau keberatan atas lelang lahan dan bangunan kami oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Bukittinggi atas permintaan BRI. Seharusnya, pengadilan berpegang kepada bantahan yang kami ajukan,” ujar Irfan, salah seorang putra Nasir dan Lili Suryani.


Irfan juga meminta juru sita dan panitera yang dikawal puluhan polisi berpakaian dinas maupun sipil, memberi mereka waktu sampai selesai proses bantahan atau keberatan. Namun, juru sita dan pihak pemohon atas nama Iradi Rahman, tetap ngotot eksekusi dilaksankan.


Kondisi ini membuat ibu Irfan bernama Lili Suryani sempat pingsan. Tiga adik-adik Irfan yang masih usia sekolah juga menangis sesugukan. Sementara, ayah mereka Nasir, entah kemana. “Indak talok dek Ama doh nak, sakik kapalo Ama,” ucap Lili saat dipeluk anak-anaknya.


Tidak lama kemudian, sejumlah pemuda yang didatangkan pemohon, mencoba mengangkat karung berisi cirik (kotoran) ayam yang ada di depan ruko. Aksi ini mendapat perlawanan dari Irfan. “Jan diangkek dulu da, alun salasai masalah ko lai,” ucapnya.


Aksi main angkat cirik ayam itu berlangsung selama dua kali dan dua-duanya gagal. Baru setelah masuk waktu sholat Zuhur, setelah puluhan polisi dan juru sita makan siang bersama, cirik ayam itu diangkat. Begitupula dengan besi, tanki minyak dan batu yang ada di depan ruko.


”Biarlah kami mundur dulu, sementara. Silahkan saja dikosongkan hari ini, kami akan tetap mengajukan bantahan,” ujar Irfan saat ditanya Padang Ekspres. Sebelumnya, Irfan terlihat beberpa kali bernegoisasi dengan juru sita dan panitera Pengadilan Negeri Payakumbuh.


Proses negoisasi itu juga dikawal Kabag Ops Polres Payakumbuh Kompol Yoserizal, Kasat Samapta AKP Rumzi Piliang, Kapolsekta Kompol Efrizal, Kasat Intelkam AKP Zulman Efendi. “Kami hanya mengamankan eksekusi atas permintaan pengadilan,” kata Kompol Yoserizal kepada keluarga termohon.


Sebelumnya, panitera dan juru sita Pengadilan Negeri Payakumbuh mengatakan, surat permohonan eksekusi pengosongan dari Iradi Rahman masuk sejak tanggal 19 Juli 2011. Eksekusi pengosongan tanah seluas 1.260 meter persegi berikut banguan di atasnya itu dilakukan berdasarkan Acara Lelang No.168/2010 tanggal 22 Desember 2010. (frv)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA