Date Senin, 28 July 2014 | 23:25 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Alam Dirusak Bencana Datang

Minggu, 04-03-2012 | 10:56 WIB | 1404 klik
Alam Dirusak Bencana Datang

(*)

Belum sembuh benar rasanya luka yang ditinggalkan banjir bandang yang melanda Pesisir Selatan awal November lalu. Awal tahun 2012, bencana bertubi-tubi kembali terjadi di Ranah Minang ini.


Kamis (23/2) lalu, dua kecamatan di Kabupaten Pasaman diterjang banjir bandang dan longsor. Berdasarkan data yang dihimpun Padang Ekspres kerusakan infrastruktur dan bangunan akibat banjir bandang meliputi rumah penduduk 134 unit, rumah ibadah 6 unit, jembatan 13 unit, sawah dan kebun seluas 221 ha, pasar/los 4 unit, puskesmas pembantu 1 unit, jalan kabupaten 500 meter, jalan negara 1.200 meter. Sedangkan jumlah warga yang diungsikan sekitar 1.500-an.


Total kerugian mencapai Rp 13 miliar. Tak hanya merusak ratusan rumah, banjir bandang juga memutuskan lalu lintas di jalan alternatif antara Pasaman Barat dengan Pasaman via Nagari Malampah, Kecamatan Tigonagari.


Belum usai penanganan korban banjir banding Pasaman, Minggu (26/2) sekitar pukul 22.00 WIB, giliran Nagari Padanglaweh, Batipuh Selatan, Tanahdatar mengalami peristiwa serupa.


Hujan deras yang mengguyur sepanjang hari di daerah Bukit Barisan ternyata membawa dampak buruk bagi masyarakat. Penduduk yang tengah asyik tidur nyenyak karena cuaca dingin tiba-tiba dibangunkan suara gemuruh dan suara aliran air yang sangat deras. Tak lama, luapan air itu langsung menghantam rumah warga. Banjir bandang itu datang dan merusak apa yang dihantamnya dalam sekejap mata.


Mujur tak ada korban jiwa, namun kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah. Dari data yang dihimpun Di Jorong Rumbaiateh, irigasi rusak parah sepanjang 20 meter, begitu juga jalan raya kabupaten dan sarana pamsimas.

Kerusakan terparah terjadi di Jorong Tangah Duopuluah dan Tanjungsawah. Di dua jorong ini, kerusakan sementara areal pertanian mencapai 73 hektare. Di Jorong Padanglaweh lebih banyak kerusakan irigasi seperti Sawahrawang 500 meter, Sawahpulau 300 meter, Bandapanjang 200 meter, Sawah Tukiak Malayo 50 meter, dan irigasi bantuan PNPM 2011 di Sawahkarasak rusak 20 meter.


Selain itu, jalan amblas sepanjang 1,2 Km di Sawahpulau, 3 titik tanggul penahan tanah (TPT) ambrol sekitar 1 Km, 3 kolam dan 15 ribu ikan nila tertimbun lumpur, termasuk dua kolam ikan di Taratakulu. “Sawah sekitar 0,75 hektare di Guguakkrasak juga rata dihondoh longsor. Padahal, sawah tersebut akan panen dengan perkiraan 500 sukek padi atau sekitar 1.000 gantang.


Dua bencana di atas bukanlah akhir dari rentetan bencana yang melanda Sumbar. Rabu (29/2) bencana banjir juga menghantam Padang, Pasaman Barat, dan Padang Pariaman, ribuan warga terpaksa mengungsi.


Rentetan bencana yang terjadi seakan mengukuhkan Sumbar sebagai daerah rawan bencana. Selain kerugian harta benda, bencana juga menghantam fisik dan psikologis masyarakat. Pascabanjir, masyarakat akan kesulitan air bersih, dan persediaan makanan pun menjadi menipis. Ditambah pula mereka tidak bisa bekerja seperti sedia kala dalam waktu yang cepat.


Keindahan alam yang dianugerahi kepada Sumbar, ternyata menyimpan bencana jika tidak dijaga dengan baik. Banyak pihak mensinyalir bahwa bencana disebabkan ulah tangan manusia. Misalnya bencana yang terjadi di Pasaman. Walaupun Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dan Bupati Pasaman Benny Utama membantah bahwa bencana itu disebabkan pembalakan liar, namun sejumlah fakta yang dirangkum Padang Ekspres, membuat dugaan itu hampir bisa dipastikan menjadi hal yang nyata.


Bencana di Pasaman terjadi diduga akibat banyaknya sisa penebangan yang menumpuk sepanjang aliran sungai. Ini mengakibatkan tidak lancarnya aliran Batang Air Malampah dan Batang Buluh. Banjir bandang di Pasaman ini sama dengan galodo yang menerjang Pessel November lalu, juga akibat maraknya pembabatan hutan.


Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar, Ade Edwar menjelaskan, secara fisik aliran air Batang Buluh tidak terlalu lebar. Namun, akibat aliran Batang Mambang di bagian hulu turut menghanyutkan material sisa penebangan, memicu tersumbatnya aliran di Nagari Simpang, Kecamatan Simpang Alahan Mati (daerah terparah korban bencana banjir bandang).


Dari penelusuran Padang Ekspres di kawasan hutan, hulu sungai telah dibuka menjadi lahan perkebunan. Material galodo berupa kayu-kayu besar, dipastikan berasal dari peladangan itu.


Sejumlah warga yang ditanya Padang Ekspres, membenarkan adanya pembukaan lahan perkebunan di hulu sungai. Mereka juga tidak menampik salah satu penyebab longsor dan banjir bandang akibat kerusakan hutan.


Aktivitas penebangan hutan itu diduga sudah berlangsung lama. Itu terlihat dari material kayu yang menumpuk di aliran sungai. “Mereka merambah hutan untuk berkebun. Kayu-kayu ditebang tanpa mempedulikan dampaknya,” kata Jon, 45, warga Nagari Malampah, Kecamatan Tigo Nagari.


Aksi pembukaan lahan tersebut, sudah lama meresahkan warga yang tinggal di kaki bukit. “Kami minta ketegasan pemkab menindak dan menangkap pelakunya. Aparat harus tegas, jangan pandang bulu mengungkap aksi pembalakan liar ini. Kini, masyarakat yang tidak berdosalah yang merasakan dampaknya,” keluh Jon.


Hal senada diungkapkan Adri, 40, warga lainnya. “Saya yakin, kayu-kayu besar itu sisa pembalakan liar.
Kini, masyarakatlah yang merasakan dampaknya. Pengawasan pemerintah lemah sekali. Jika masih dibiarkan, saya takut banjir bandang akan kembali terjadi,” terangnya.


Lain di daerah perbukitan, lain pula di perkotaan. Di Padang, selain belum memadainya drainase kota, banjir disebabkan ulah manusia yang tidak menjaga riol. “Lihatlah, jalan air menuju drainase ditembok oleh pemilik toko. Selain itu, halaman juga ditembok semuanya, akibatnya daerah resapan air jadi tidak ada,” ujar Adi, 27, warga Lubukbuaya ketika terjebak banjir di kawasan Lapai.


Kabid Pendayagunaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum Kota Padang, Herman membenarkan kondisi drainase tidak layak. Itu diperparah kurangnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan dan membuang sampah sembarangan.


“Sebagai solusi, pihaknya akan membongkar drainase tertutup coran. Kemudian drainase yang rendah akan dinaikkan sehingga air dapat mengalir lancar,” tutur Herman.


Misalnya drainase di sepanjang Jalan Jhoni Anwar dan Ratulangi. “Di dua lokasi itu, tersumbatnya drainase disebabkan tembok bangunan ruko warga di pinggir jalan tersebut. Jadi kita akan angkat sehingga tidak tersumbat lagi,” kata Herman seraya berharap warga menjaga kebersihan lingkungan.


Penanganan bencana di Sumbar terkesan reaktif. Semua baru ribut ketika bencana datang. Setelah “badai berlalu”, baik pemerintah maupun masyarakat kembali lupa seolah tak pernah ada kejadian.

Padahal, apa yang terjadi saat ini adalah akibat ulah oknum tidak bertanggungjawab tahun-tahun sebelumnya. Jika yang dahulu saja belum bisa diatasi, sekarang pengrusakan lingkungan terus berlangsung dan kesadaran masyarakat tidak ditingkatkan, kita tidak tahu bagaimana keadaan kita beberapa tahun yang akan datang. (hijrah adi sukrial)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA