Date Rabu, 30 July 2014 | 05:53 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Hanya Jual Mentah, tak Bisa Mengolah

Buah Bengkuang yang Butuh Sentuhan

Sabtu, 29-10-2011 | 12:25 WIB | 729 klik
Buah Bengkuang yang Butuh Sentuhan

BUAT OLEH-OLEH: Seorang penjual bengkuang melayani pembeli di kawasan Aiatawa. H

Tiga pekerja kebun tengah sibuk menyiangi tanaman bengkuang yang berumur kurang lebih satu bulan di kawasan Kelok, Kuranji, Padang. Bengkuang yang telah disiangi mulai tampak dari impitan semak-semak liar. Alur tanaman bengkuang semakin jelas di lahan seluas 20x 25 meter itu.


Satu dari tiga yang sedang bekerja di kebun itu, Kahar, 50, pemilik kebun bengkuang di kawasan Kelok, Kuranji. Meskipun sebagai pemilik kebun, dia tetap tekun bekerja bersama dua wanita yang membantunya.


Sejak tahun 1985, Kahar telah bercocok tanam bengkuang di kawasan yang tak jauh dari Pasar Belimbing itu. Dari tahun ke tahun, tanaman sejenis umbi-umbian dan terkenal dengan ‘buah dari Padang’, kebun Kahar menghasilkan bengkuang.


“Tanaman bengkuang ini belum berisi, karena usianya baru sebulan. Nanti sekitar umur tiga bulan setengah atau lebih, baru dapat dipanen. Mudah-mudahan di saat panen nanti, harga bengkuang beranjak naik, karena saat ini harganya murah,” ujar Kahar, kepada Padang Ekspres, Kamis (27/10).


Menurut Kahar, saat ini harga bengkuang hanya berkisar Rp 100 ribu per karung. Harga tertinggi umumnya menjelang puasa hingga Lebaran dengan kisaran Rp 300 sampai Rp 350 ribu.


Meski demikian, tambah Kahar, para petani bengkuang tak pernah mengolah hasil tanaman menjadi komoditi yang memiliki nilai lebih. Misalnya dari bahan utama bengkuang menjadi makanan lainnya, seperti kerupuk bengkuang atau menjadi komoditi lainnya.


Umumnya, petani langsung menjual saja bengkuang kepada pengumpul yang datang ke lahan perkebunan. Petani tidak memiliki keahlian dalam mengolah bengkuang agar memiliki nilai tambah. Meski sudah lama disuarakan petani dan berbagai pihak, pengolahan bengkuang menjadi berbagai produk makanan dan kosmetik, belum juga terealisasi.


Hingga kini, para petani bengkuang mengaku tidak pernah mendapat pembekalan dari pemerintah kota, terkait pengolahan buah khas bengkuang itu. Minimnya sentuhan keterampilan pada petani, tak heran hingga kini mereka hanya menjual bengkuang dalam bentuk mentah.


“Hasil panen bengkuang kami, saya jual langsung kepada pembeli di Pasar Siteba. Dengan cara itu, pendapatan dari perkebunan bengkuang naik menjadi 100 persen,” ujar Hasanah warga RT06/RK03, Gunungsariak, Kuranji.


Menurut Hasanah yang telah bertanam bengkuang sejak 20 tahun lalu, setengah karung bengkuang harganya hanya Rp 100 ribu.
Sama halnya dengan Kahar, Hasanah juga tidak memahami cara meningkatkan “rupiah” dengan mengolah bengkuang tersebut. “Baa caro ee, mambuek karipik Bingkuang tu, ambo indak pernah tahu,” ujar Hasanah heran.


Kahar, Hasanah dan petani bengkuang lainnnya di Padang, sangatlah ingin mengolah bengkuang menjadi berbagai aneka produk kuliner dan kosmetik. Sayangnya, harapan itu tidak kunjung menjadi kenyataan. Pemko Padang hanya sibuk berwacana, sehingga lupa kerja nyata.


Guru Besar Pertanian Unand, Prof Helmi mengatakan, secara akademik telah sering dilakukan penelitian atau riset tentang buah bengkuang. Misalnya khasiat dari sari buah bengkuang, bisa untuk perawatan kulit atau kosmetik. Selain itu, bengkuang juga bisa dijadikan makanan olahan, menjadi keripik. Namun, lanjut Helmi, hasil riset itu tidak pernah dikomersilkan untuk menambah nilai jual dari buah bengkuang.


“Soal tidak tahunya petani dengan nilai tambah dari buah bengkuang tidak penting. Tapi yang harus dirangkul, para pengusaha yang mau mengembangkan buah bengkuang menjadi bahan olahan,” ujar Pembantu Rektor IV Unand tersebut.


Dengan adanya industri-industri yang memanfaatkan bahan utama dari buah bengkuang, akan membuka peluang pasar yang lebih besar lagi. Secara otomatis, standar harga bengkuang juga akan merangkak naik.


Tidak berbeda jauh dengan komentar Helmi, Menteri Negara Riset dan Teknologi, juga mengeluarkan rilis tentang buah bengkuang yang bisa dijadikan kosmetik dan kecantikan. Keripik adalah irisan buah atau umbi yang digoreng sampai kering dan garing. Keripik mempunyai kadar air terendah sehingga dapat disimpan lama. Meskipun cara pembuatannya sederhana dan cukup mudah, namun keripik bengkuang belum dikenal oleh masyarakat dan tidak tersedia di pasaran.


Untuk mendapatkan hasil terbaik, penggoreng vakum merupakan alternatif pengganti kompor. Alat ini menghasilkan panas, sekaligus menurunkan tekanan udara pada saat penggorengan. Dengan alat ini, suhu penggorengan labih rendah dan stabil serta waktu penggorengan yang lebih singkat.


Kalau tidak tersedia penggoreng vakum, bengkuang dapat digoreng dengan menggunakan wajan. Akan tetapi, mutu keripiknya kurang bagus dibanding yang digoreng dengan penggoreng vakum.


Untuk lebih memahami cara pembuatan keripik bengkuang, petani bisa langsung konsultasi dengan Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat, Jl Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Telp 0751 40040.


Jika Kota Malang dengan buah apel yang menjadi maskot kotanya mampu menghasilkan aneka oleh-oleh dari apel, kenapa Padang dengan bengkuangnya tidak bisa? (mg13)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA