Date Kamis, 24 July 2014 | 03:21 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Potensi Kreatif yang Menjanjikan

Pameran Seni Rupa SMK 4 dan SMK 8 Padang

Minggu, 23-10-2011 | 10:27 WIB | 661 klik
Pameran Seni Rupa SMK 4 dan SMK 8 Padang

Pameran: Kepala Taman Budaya Sumbar, Efiyarti bersama Kadisdik Padang, Dian Wija

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 dan 8 Padang memamerkan sejumlah karya seni rupa di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumbar. Karya-karya mereka menawarkan kekuatan tersendiri. Berbagai kalangan, menyambut positif kehadiran karya-karya perupa sekolahan ini. Diharapkan, ini kelak juga bakal menjadi bagian dari penguatan industri kreatif.


Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Dian Wijaya, seusai membuka pameran ini secara resmi, mengatakan, potensi dua sekolah ini patut dihargai. Karya-karya mereka, patut mendapat apresiasi. Bahkan, setelah melihat karya-karya siswa, Dian justru mengharapkan, tahun depan sekolah ini bisa menyuplai batik untuk seragam sekolah.

Jika beberapa sekolah terpenuhi kebutuhan seragam batiknya oleh SMK 8 (dulu Sekolah Menengah Industri dan Kerajinan), ini artinya, sudah berkontribusi secara kreatif. Begitu juga halnya, di sisi lain, karya-karya dari SMK 4, seperti karya lukis dan patung, siap menjawab tantangan dunia industri.


Di Galeri Seni Rupa Taman Budaya, 17-23 Oktober 2011, dipamerkan sejumlah karya-karya dari dua sekolah tersebut. Di ruang pameran, terdapat karya-karya berupa sketsa, lukisan, patung, keramik, disain grafis, seni logam, kayu dan batik. Menurut Efiyarti, Kepala Taman Budaya Sumatra Barat, pameran ini bagian dari pembinaan seni dan budaya. Sejauh mana, lembaga pendidikan formal, berkontribusi, menuangkan ide dan karya kreatif untuk bisa diapresiasi.


Guru di SMK tersebut dan juga pelukis, Dra Minda Sari MPd, pameran ini menampilkan karya-karya terbaik siswa, dan beberapa karya guru. Menurut Minda, pameran ini diharapkan akan menambah khasanah serta pengalaman siswa dalam menampilkan karya-karyanya ke tengah masyarakat. Di sisi lain untuk meningkatkan motivasi dan menghasilkan karya terbaik di masa datang.


Karya tanpa Nama
Memasuki ruang pameran, kemudian mengamati karya-karya yang dipajang, penikmat karya seni, sesungguhnya relatif mendapatkan suasana. Ada karya-karya sketsa dengan goresan yang lentur dan pasti, objek yang hidup, cukup menunjukkan potensi sekolah ini memang patut diapresiasi. Hal ini tentu diberikan juga atas pengalaman menikmati lukisan, desain grafis, desain komunikasi visual, tekstil, logam kayu dan keramik serta lainnya. Secara umum, pameran ini cukup menarik.

Karya-karya yang dihadirkan, memang telah melalui proses kurasi sekolah, yang intinya, yang terpilih yang ditampilkan ke khalayak. Secara tersirat, sekolah ini tempat remaja pelajar mengembangkan potensi seni dan kreatifitasnya.


Namun, sangat disayangkan, umumnya karya yang ditampilkan atau dipajang, tidak diberi judul dan nama perupa. Padahal, sebagaimana celetukan seorang pengunjung, Rizal, warga Gurun Laweh, Nanggalo, Padang, seorang seniman, kreator atau perupa, memerlukan apresiasi dan penghargaan. Penghargaan itu, dengan mencantumkan nama pada karya.

Celakanya, kata Rizal, pada katalog pun tidak terdapat judul karya, nama yang punya karya serta spesifikasi karya. Padahal, mestinya, pihak sekolah, katakanlah penyelenggara, mesti arif dan bijaksana dalam hal demikian. Payah-payah mereka berkarya, susah payah diseleksi, toh pengakuan terhadap identitas, eksistensi mereka, nyaris tercederai oleh nila yang setitik itu. Pengunjung pameran pun bingung, membedakan, mana yang karya guru dan karya siswa.


Tentu, kecerobohan ini—jika bisa dikatakan kecerobohan—menimbulkan asumsi negatif, dimana penyebutan nama sebagai sebuah pengakuan kreatif, terabaikan.


Kontribusi Estetik
Bicara dunia seni rupa, khusus SMK 4 (dulu SSRI/SMSR) Padang, sekolah ini cukup memberi kontribusi estetik di tanah air. Jebolan sekolah ini, banyak menjadi perupa terkemuka, dan merupakan nama penting dalam seni rupa Indonesia, bahkan Asia.


Pameran ini, juga merupakan cermin, produk kreatif sebagai sebuah karya seni cukup menjanjikan. Apalagi saat ini, karya seni bisa menjadi produk dari industri kreatif, yang pengelolaannya dengan semangat kewirausahaan.

Sebagaimana dikatakan Dian Wijaya yang juga kolektor lukisan, karya-karya seni saat ini sudah punya pasar yang bagus. Tentu, tetap menghadapi persaingan yang mengandalkan mutu dan manajemen yang baik. Setidaknya, dua sekolah ini, bisa mempelopori selalu lahirnya karya-karya seni bermutu, produk-produk industri yang kreatif dan memiliki daya pikat tersendiri. (*)


BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA