Date Sabtu, 26 July 2014 | 08:04 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Sopir Kejar Setoran, Penumpang Jantungan

Menikmati Angkot di Padang

Rabu, 28-09-2011 | 09:36 WIB | 597 klik
Menikmati Angkot di Padang

Warna-warni: Beragam mobil angkot yang penuh dengan gambar. Meski dilarang, angk

Namanya boleh saja angkot. Jika didandani tak kalah dengan mirip mobil sport. Kacanya film. Pelat racing. Speaker, subwoofer keluaran terbaru. Di dindingnya beragam garis dengan warna mencolok saling melintas menarik padangan mata. Begitu juga dengan perangai pengemudinya. Tak kalah dengan solekan di mobilnya.


Padang Ekspres mencoba menaiki sebuah angkot jurusan Pasar Raya-Batas Kota. Jam belum menunjukkan pukul 12 siang. Belum melambaikan tangan untuk menyetop angkot, dengan sigap sopir angkot menikung cepat dan berhenti pas di pintu masuk.


Di bangku sopir, duduk seorang remaja tanggung. Usianya belum sampai 17 tahun; limit umur untuk mendapatkan izin mengemudi. Begitu duduk, bau berbagai merek parfum berseliweran di hidung.


Saat melengoskan kepala, beberapa gadis dengan dandanan tertata menduduki deret bangku lain. Jika tak naik angkot, tak tahu banyak “kewangian” ada dalam angkot. Tapi, bagaimana saat malam menjelang? Jika terjadi kejahatan dalam angkot ini, adakah orang yang tahu.


Angkot mulai berjalan. Knalpot racingnya menderum seperti mobil F1 melakukan start. Musik berjenis techno berdentum sampai ke jantung. Di atas speaker minuman keras bermerek terkenal menjadi pajangan. Ada yang juga bergelantungan bagian atap bagian belakang. Ada juga bersusun rapi di bawah tempat duduk penumpang.


Beberapa penumpang terlihat menikmati. Ada yang menggoyangkan kaki dan kepala. Bahkan, ada yang coba mengiringi lirik dari musik ini. Sopir yang paling bersemangat. Kepalanya mengangguk-angguk menyesuaikan dengan irama. Matanya tetap jelalatan, mengintai penumpang yang akan naik.


Ada juga yang melengahkan wajahnya berusaha menghindari suara berfrekwensi tinggi melintasi gendang telinga. Jika menerima telepon, dijamin tidak kedengaran.


Tak lama, angkot kembali menepi tanpa aba-aba. Sopir membunyikan klakson, memanggil seorang penumpang yang berada dipinggir jalan. Penumpang menggeleng, lalu sopir menekan pedal gas dalam-dalam. Beberapa penumpang tersentak. Ada yang bergeser duduknya.


Tak sekali dua sopir melakukan itu. Tiap berhenti menaikkan atau menurunkan penumpang, selalu mendadak. Kasar dan sembarangan. Tak ada perhitungan, siapa atau berapa umur penumpang yang menaiki angkotnya.


Sudah jadi rahasia umum, sopir-sopir angkot ini dimonopoli anak-anak muda. Apalagi di jam siang. Saat sopir utamanya istirahat makan, sang “sopir tembak” (begitu mereka disebut) akan naik pangkat jadi sopir satu.


Meski sudah sering dirazia, kondisi angkot seperti ini tetap ada. Entah apa maksudnya. Bertanya pun tak bisa karena musik yang diputar sangatlah keras. Aura yang mengelilingi angkot jelas memancing niat buruk. Mungkin sopir tak menyadarinya (atau mungkin sudah bekerja sama), tapi situasi ini membuat kesempatan tercipta.


Mira, penumpang dalam angkot bukan tak menyadari. Diakuinya, dia memang sering agak takut menaiki angkot yang memiliki kaca film tebal, melumpuhkan pandangan seseorang dari luar. Apalagi saat “terperangkap” naik angkot sendirian. Adrenalin ketakutannya berlipat-lipat. Anehnya, gadis 23 tahun ini, justru suka dengan angkot yang sudah dimodif. Bersama teman-temannya, apabila menunggu angkot, sering pilih-pilih angkot. Yang lebih genjreng, pasti akan dinaiki.


Beda dengan Vera. Kadang dia merasa tidak nyaman berada di dalam angkot. “Kondisi angkot sempit. Jika ada anak bola yang mau melakukan aksinya, mungkin penumpang tidak merasakannya,” alasannya.
***


Ketika ditanya ke sopir, ternyata kaca film yang mereka pasang justru untuk melindungi penumpang. Seorang sopir yang ditemui di depan Masjid Taqwa Muhammadiyah Pasar Raya, menginginkan setiap penumpang yang naik ke mobilnya tidak kepanasan. Untuk dandanan, juga ditujukan ke penumpang. “Kalau tak gaul, sedikit yang naik. Kita kan harus kejar setoran,” alasannya.


Berkat dandanan itu, angkotnya sering dilirik mahasiswa dan ABG. Diakuinya, memang ada anak bola yang biasa melakukan aksinya di angkot. “Tapi mereka tidak sempat melakukan aksinya, karena penumpang angkot saya tidak penuh,” ujarnya. Para sopir hoyak alias tembak itu, diragukan memiliki SIM A umum. Dari penelusuran Padang Ekspres, satu dua anak-anak muda itu hanya memiliki SIM A biasa. Bahkan, kadang ada juga yang tidak memiliki SIM.


Melihat cara anak-anak muda itu mengendarai angkot, wajar penumpang meragukan SIM yang dimiliki para sopir hoyak itu. Perilaku mereka membawa mobil, sedikit pun tidak mencerminkan layak mendapatkan SIM.


Ugal-ugalan membawa angkot, adalah persoalan lama yang tak pernah serius ditangani segenap pemangku kepentingan. Pemilik aangkot, pengurus Organda, Dishub hingga polisi seakan menganggap biasa. Kalaupun ada razia, hanya sekadar show of force. Tidak ada efek jera.


Konsumen angkot, yang umumnya kalangan menengah ke bawah, tidak memiliki pilihan lain selain “menikmati” aksi zig zag angkot. Hak warga mendapatkan pelayanan transportasi yang aman dan nyaman di kota ini, terenggut. Tak ada pilihan bagi penumpang, tetap waspada dalam angkot.


Pilihan sulit sebenarnya. Tidak mendandani, tak ada penumpang. Didandani, Dishub yang datang. Yang penting, mungkin, taat aturan saja. (mg10)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA