8 Alasan Mengapa Hasil Video Explainer Untuk Marketing Kurang Optimal

Dunia digital yang terus berkembang dan jumlah pengguna aktif internet yang terus meninggal setiap tahunnya menuntut perubahan strategi pemasaran dalam bisnis.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Breadnbeyond, 86% bisnis menggunakan video sebagai alat pemasaran mereka termasuk di dalamnya ialah video explainer.

Bukan tanpa alasan, faktanya bisnis yang menggunakan video dalam strategi pemasaran mendapat peningkatan pendapatan sebanyak 49% lebih cepat dibandingkan yang tidak memakai video.

Namun, tidak 100% bisnis yang menggunakan video explainer berhasil mendapat hasil maksimal. Setelah dilakukan identifikasi, ada beberapa kesalahan yang menyebabkan video explainer tak memberikan hasil optimal. Berikut adalah ulasan lengkapnya.

1. Perencanaan yang kurang matang

Membuat video explainer bukan hanya untuk sekedar ikut-ikutan tren yang ada. Diperlukan perencanaan yang matang. Setidaknya ada alasan mengapa video explainer harus dibuat, apa tujuannya, apa pesan yang ingin disampaikan dan apa yang ingin dicapai setelah mempublikasikan video tersebut.

Tanpa perencanaan tersebut, konsep video explainer kemungkinan tidak akan optimal. Padahal video yang efektif harus autentik dan unik.

Hanya menjelaskan tentang keunggulan dari sebuah produk tidaklah cukup untuk menarik perhatian audiens. Harus ada pembeda dengan brand lain yang mungkin juga menawarkan produk serupa.

Mereka mungkin akan menjelaskan tentang hal yang sama yakni masalah yang bisa diatasi dengan produk mereka. Dibutuhkan konsep yang lebih unik dan berbeda sehingga sebuah video explainer dapat lebih membekas dan mengguguhan audiens.

2. Durasi video yang terlalu panjang

Video explainer dibuat untuk menyampaikan ide yang kompleks secara lebih atraktif dan mudah dipahami. Jadi, durasi sebaiknya tidak terlalu panjang. Terlebih lagi pengguna internet hanya akan meluangkan waktu yang singkat untuk menonton sebuah video.

Sepuluh detik pertama akan menjadi momen penentu apakah penonton akan melanjutkan video hingga akhir atau meninggalkannya untuk konten lain yang lebih menarik.

Image via Single Grain

Dalam kasus video explainer, baik yang berbentuk live action maupun video animasi, durasi terlalu panjang cenderung kurang diminati oleh penonton. Sedangkan, video yang durasinya dua menit sukses mendapatkan engagement yang tertinggi.

Jika durasinya singkat dengan informasi yang padat, orang cenderung menontonya hingga akhir. Hanya ada 25% orang yang mengaku mau menonton video sampai selesai ketika durasinya 20 menit atau lebih.

3. Tidak fokus pada satu pesan utama

Agar informasi dan pesan dapat dipahami oleh audiens secara optimal, sebaiknya fokus pada satu pesan saja. Sebuah video explainer yang membahas tentang banyak hal kompleks justru akan membuat penonton tidak mendapatkan informasi apa pun.

Sebagai contoh, hindari menyampaikan informasi terkait produk baru yang dikemas menjadi satu dengan lokasi baru toko. Jika ada topik lain yang penting untuk disampaikan, akan lebih efektif jika dibuat dalam video yang berbeda.

Nah, di sinilah perencanaan di awal menjadi hal yang krusial. Jika pesan dan tujuan sudah ditentukan sejak awal, proses pembuatan akan lebih mudah karena sudah ada acuan dasar. Fokus juga tak mudah terpecah.

Selain itu, terlalu banyak detail yang diberikan juga akan membuat audiens lebih cepat lupa dengan poin utama dan kelebihan produk.

Jika diperhatikan, perusahaan-perusahaan besar yang sukses dengan video explainer biasanya hanya memasukkan satu atau dua keunggulan utama dari produk yang ditawarkan. Misalnya saja, Volvo fokus pada keamanan sedangkan BMW lebih menjual pengalaman dalam berkendara.

Sebagai tips tambahan, penonton lebih tertarik dengan manfaat dan keuntungan dari produk daripada penjelasan tentang fitur produk.

4. Target audiens yang tidak jelas

Faktor lain yang sering kali menjadi penyebab gagalnya video explainer dalam marketing ialah sasaran yang kurang jelas. Seperti sedang memanah, melepaskan sebuah video explainer ke hadapan publik juga harus memiliki target audiens yang jelas.

Dengan begitu, dapat diketahui bahasa seperti apa yang cocok digunakan agar komunikasi terasa lebih natural, topik apa yang akan disukai, kemasan seperti apa yang cocok, dan lain sebagainya.

Dengan mengetahui siapa yang ‘diajak bicara’, akan lebih mudah juga membangun komunikasi. Hal ini tetap berlaku meski produk yang ditawarkan sebenarnya bisa digunakan oleh siapa saja.

5. Call-to-action yang kurang jelas atau bahkan tidak ada

Setelah mengenalkan dan menjelaskan tentang sebuah produk, orang mungkin sudah mulai tertarik dengan produk.

Nah, untuk menjaga ketertarikan tersebut dibutuhkan instruksi lebih lanjut terkait apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Karena itulah sebuah call-to-action yang jelas.

Jangan sampai penonton malah dibuat bingung dan bertanya-tanya setelah menonton video. Tanpa sebuah call-to-action, video explainer belumlah selesai.

Yang tak kalah penting, kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak orang yang mengenal bahkan membeli produk akan hilang karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan jika mereka tertarik dengan produk yang baru saja ditonton.

6. Kurang optimal dalam menggunakan SEO

Seringkali Search Engine Optimisation (SEO) hanya dikaitkan dengan konten tulisan. Padahal, kiriman di media sosial dan video juga membutuhkan SEO yang baik agar dapat dikenali oleh mesin pencari dan menempatkannya pada urutan atas hasil pencarian.

Dengan demikian kemungkinan orang melihat, lalu menonton, dan mengunjungi suatu situs akan meningkat. Dalam video, SEO biasanya ditempatkan pada bagian judul.

Gunakan kata-kata yang tak hanya menarik, membuat penasaran, sekaligus yang memiliki kaitan erat dengan industri atau produk. Tambahkan juga SEO pada bagian deskripsi video dan tags.

7. Kualitas video yang kurang bagus

Video dengan kualitas bagus adalah kuncian yang tak dapat diabaikan begitu saja. Usahakan untuk membuat video dengan kualitas High-definition (HD).

Selain itu, berikan perhatian pada setiap grafis yang muncul, jenis huruf, warna, dan lain sebagainya. Meski bukanlah satu-satunya jaminan dalam membuat video explainer yang sukses, setidaknya audiens akan lebih tertarik jika menyaksikan video yang kualitasnya tak menyakiti mata.

Terlebih lagi kualitas video yang dipublikasikan juga akan mempengaruhi citra perusahaan. Kualitas yang kurang akan membuat orang mempertanyakan kualitas dari perusahaan secara keseluruhan.

8. Penempatan poin yang menjual pada bagian yang kurang tepat

Call-to-action sudah ada, SEO juga sudah digunakan, tetapi video explainer masih belum memberikan hasil yang baik? Mungkin kekurangannya terletak pada penempatan selling point di lokasi yang kurang tepat.

Akibatnya penonton tidak menangkap selling point tersebut hingga video berakhir. Sebaiknya meletakkan poin tersebut pada 10-20 detik pertama. Nah, untuk memastikan keberadaannya ada beberapa pertanyaan yang bisa dijawab sebelum mengunggah sebuah video:

  • Apakah video sudah diawali dengan pengenalan yang menjadi daya tarik dari produk atau malah ada di akhir video?
  • Apakah informasi sudah cukup jelas pada 10-20 detik pertama?
  • Jika penonton meninggalkan video setelah detik ke-20, informasi apa yang akan mereka lewatkan?

Penutup

Layaknya membuat sebuah bangunan, pembuatan video explainer juga membutuhkan dasar yang kuat yakni perencanaan.

Mulai dari tujuan, target, hingga pesan yang ingin disampaikan harus sudah jelas dari awal sehingga proses penyusunan naskah, penerapan SEO, pemilihan musik serta konsep dapat disesuaikan.

Selain itu call-to-action menjadi bagian yang tak kalah penting agar penonton melakukan sesuatu setelah melihat video, bukan hanya meninggalkannya begitu saja.

Tinggalkan komentar