Date Sabtu, 26 July 2014 | 12:06 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Opini

Zalmon dan Revolusi Musik Minang

Agus Taher

Musisi dan Pencipta Lagu Minang

Dalam perspektif industri musik, meninggalnya Zalmon merupakan kehilangan besar bagi Sumatera Barat. Sudut pandangnya, penyanyi ini merupakan salah satu pelaku sejarah kebangkitan lagu Minang. Dia mempertahankan puncak karirnya selama 15 tahun (terpanjang dalam sejarah musik Minang). Dampak Zalmonisme memang mencengangkan. Dalam tempo satu setengah dekade, suksesnya ternyata mampu menghadirkan Sumatera Barat sebagai pusat industri rekaman kedua terbesar setelah Jakarta. Apabila 1980-an hanya ada satu studio rekaman yang kredibel, yakni Tanama Record, maka sejak tahun 1990-an studio rekaman ini berkembang bak cendawan tumbuh.


Zalmon menjadi inspirasi bagi banyak orang, baik bagi produser rekaman, maupun pencipta, pemusik, ataupun penyanyi baru. Di tahun 1990-an, demam Zalmon yang dipicu sejak meledaknya album Kasiak 7 Muaro, dan sekaligus mendorong banyak penyanyi berusaha menjadi duplikat Zalmon. Banyak pula pencipta yang berkutat membuat lagu yang diperkirakan pas dengan karakter vokal Zalmon. Bila album Zalmon meledak di pasaran, maka si pencipta juga ikut top. Bahkan, sosoknya membuat banyak produser saling berebut untuk bisa merekamnya. Sampai-sampai orang yang belum paham industri rekaman ikut mencari peruntungan dalam bisnis rekaman.


Sekarang ada sekitar 35 studio rekaman. Era 1980-an, hanya Tanama Record yang masih eksis dengan rekaman lagu-lagu Pop Minang, sedangkan yang satu lagi Sinar Padang Record hanya konsentrasi dengan rekaman lagu-lagu klasik rabab, Saluang Pauah, dan Kim. Secara fantastis pula muncul produser-produser baru, yang menurut catatan saya lebih dari 60 orang. Belum ada dalam sejarah musik Indonesia, seorang penyanyi menggerakkan sebuah industri musik semasif anak Lubukminturun ini. Penyanyi yang meninggal Sabtu (21/5) telah meletakkan standar musik berbeda dibanding zaman Elly Kasim, Yan Juned bahkan Gumarang. Jika kata revolusi bisa diletakkan dalam musik, maka tanpa disadari banyak orang, Zalmon anak revolusi musik Minang era 90-an.


Revolusi yang dihadirkan Zalmon juga ”berdarah”, penuh liku. Kata revolusi tidak hanya cocok diberikan pada perjalanan musiknya tapi juga keseluruhan hidupnya. Menikam jejak perjalanan hidupnya, Zalmon, di usia remajanya pernah juara MTQ se-Kecamatan Kototangah. Di usia belasan, si pemilik nama Syamsurizal Taher ini, hampir setiap minggu menggeluyur dari alek ke alek yang lain. Kerjanya bernyanyi menyumbangkan lagu. Baginya ajang melepas hobi, mengasah teknik vokal.


Tapi, peruntungan hidupnya di dunia musik tak kunjung berubah. Zalmon pun bonek. Tak kunjung diajak rekaman oleh produser, si Tukang Lelang Kue terpopuler di Kototangah ini nekad menjual motor ayahnya untuk modal rekaman perdananya dengan Raya Grup Band. Album pertama yang dirilis tahun 1974, lagu ciptaannya sendiri Kamariah menjadi lagu andalan. Akan tetapi, album perdana ini tak sukses. Sejak itu, anak tentara ini rekaman dari produser yang satu ke produser yang lain, meskipun predikat penyanyi top Minang belum jua singgah ke dirinya. Popularitas Zalmon disungkup penyanyi yang masih dan sedang berkibar saat itu, seperti Elly Kasim, Yan Juneid, Tiar Ramon atau Asben.


Buah Penantian Panjang

Peruntungannya berubah di 1993. Saat merilis album Kasiak 7 Muaro di bawah bendera Pitunang Record, Zalmon memancangkan benderanya, dan satu-satunya bendera, yang berkibar kencang waktu itu. Bisa dibilang, lbum ini merupakan produk rekaman fenomenal sepanjang sejarah rekaman lagu-lagu Minang di tanah air. Uniknya, hit Zalmon yang satu ini bisa diterima hampir semua kalangan, baik kalangan masyarakat gurem, maupun gedongan. Mampu menembus kampus dan disenangi etnik nonminang.


Zalmon identik dengan Kasiak 7 Muaro. Begitu juga sebaliknya. Penyanyi lain yang coba menyanyikan lagu ini tidak pernah yang sukses. Desah suara serak yang seakan menyimpan tangis, yang menjadi kekhasan Zalmon membuat Kasiak 7 Muaro menjadi lain diolahan ”tenggorokan” Zalmon. Keanehan kedua, hit album ini ”di luar kebiasaan”. Hampir tidak ada sejarahnya, seorang penyanyi menjadi idola, dan sangat popular setelah hampir 20 tahun memulai rekaman. Malah biasanya, setelah 5-7 tahun rekaman, popularitas seorang bintang langsung pudar. Fenomena ini juga terjadi di blantika musik internasional.


Fenomena itu patah di retak tangan Zalmon. Rekaman perdananya pada 1974, sedangkan si empunya hati lembut, namun pagarah, kadang-kadang pencimeeh ini, baru terpopuler dua dekade kemudian. Apa rahasianya? Pertama, karunia Allah untuk sebuah ketekunan dan penantian panjang Zalmon dalam karir musiknya. Kalau pun ada sedikit bumbu dalam penggarapan album itu hanyalah berusaha ”tampil beda” dari kemasan album-album Zalmon sebelumnya. Serta pula eksperimen mengawinkan nuansa tradisional dari warna vokal Zalmon dengan unsur kontemporer dari musik Ferry Zein, dengan pilihan lagu-lagu yang bervariasi motif dan iro. Tanpa sengaja, saya menggunakan naluri ”peneliti” saya dalam merancang album Kasiak 7 Muaro ini.


Menurut saya, nasi ramas digandrungi orang Padang. Karenanya, kesepuluh lagu di album ini juga dikemas dalam format nasi ramas. Ramas mengurangi cepat bosan. Di album ini ada lagu bernuansa pop, bertema melankolis, seperti dua lagu saya: Kasiak 7 Muaro, dan Diseso Bayang. Ada lagu bercorak Barat, seperti Lingka Suaso, karena memang lagu itu saya gubah bersama Oyon MS dari To Love Somebody-nya Bee Gees. Itu pun setelah ditantang Ferry Zein.


”Bisa nggak Bang Agus bikin lagu baru dari lagu Bee Gees ini,” kata Ferry Zein lalu menyodorkan musik minus one-nya. Setelah kami rombak sana-sini, jadilah lagu Lingka Suaso yang masih belum hilang ”bau” To Love Somebody-nya. Meskipun ditolak Zalmon, saya tetap memaksanya untuk menyanyikan lagu itu. Bagi saya, pasti aneh kedengarannya, bila seorang penyanyi berkarakter vokal Dendang Pauah menyanyikan lagu bernuansa Pop Barat.


Di album Kasiak 7 Muaro itu juga ada lagu Ginyang. Zalmon juga menolak lagu ini dengan alasan dia tak biasa dengan lagu garah. Ternyata ketika seorang penyanyi khas ratok dipaksa bagarah hasilnya menjadi lain, dan malah bisa memperkuat album. Di album itu juga ada karya Rhian D’Kincai yang khas dengan Ranah Pasisia, serta lagu Alm Z Moris yang berirama manis, Kasihan Ombak. Saya masih ingat, ketika master album Kasiak 7 Muaro ini saya perdengarkan ke Alm Masrul Mamudja, pencipta top ini langsung bilang, ini pasti meledak. Singkat cerita, sesuatu produk yang dihasilkan dari kombinasi berbagai kekuatan yang pas dan saling mendukung, biasanya akan membuahkan karya yang luar biasa.


Berbeda dengan penyanyi rekaman lainnya, sukses album Zalmon bukan hanya untuk album Kasiak 7 Muaro. Sang legenda melahirkan banyak album hit. Albumnya Nan Tido Manahan Hati, meraih Anugrah HDX tahun 1995 untuk kategori lagu daerah terlaris yang direkam di atas pita HDX. Mengalahkan Nia Daniati untuk lagu Sunda. Album Zalmon lainnya, seperti Ganggam Baro, Buruak Sisiak, Sapayuang Bajauah Hati, Ratok Padi Hampo, Padiah Diseso Janji merupakan album-album yang sangat populer. Bahkan, sebelum sakit, Zalmon di usia tuanya, 6 bulan yang lalu, telah menyelesaikan album terakhirnya.


Komentar beberapa orang seniman, satu lagu karya Rustam Raschani di album ini luar biasa hebatnya. Agaknya di album ini, Zalmon begitu habis-habisan mengeluarkan semua kekuatannya, untuk melahirkan sebuah album prestisius di usia senja. Album ini sudah memasuki sentuhan akhir. Agaknya, album terakhir Zalmon ini juga akan menjadi ajang rebutan antarproduser yang bergerak dalam rekaman lagu-lagu Minang.


Meskipun peran Zalmon tak langsung, akan tetapi kiprahnya sebagai motor penggerak dalam perkembangan industri musik Minang di tanah air tak diragukan lagi. Yang luput dari pengamatan banyak pihak, ”revolusi” yang dicetuskannya menggerakkan lapangan kerja bagi banyak orang. Baik bagi pelaku rekaman (pencipta lagu dan produser), maupun bisnis ikutan lainnya seperti pedagang kaset/VCD, elektronik, orgen tunggal dan jasa angkutan orgen, design cover/label, sanggar tari, ekspedisi dan lainnya.


Meski begitu, saya risih mendengar gumaman Sastry Bakri (sekretaris DPRD Padang). Ketika melihat kondisi rumah dan keadaan keluarga Zalmon di rumah duka, Sastri berbisik, ironi sekali nasib seniman. Dielukan orang di atas panggung dan telah berbuat banyak dalam pelestarian seni musik Minang, namun nasibnya tetap memilukan. Zalmon menempati rumah saat ini (kondisinya cukup memiriskan) karena kediamannya di Gunungpangilun, Padang hancur karena gempa 30 September 2009. Apa yang bisa kita lakukan bersama buat keluarga Zalmon? (*)

Opini lainnya

Komentar