Date Sabtu, 26 July 2014 | 10:05 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Cucu Magek Dirih

Ramai-ramai jadi Calon Wali Kota Padang

H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Ramai-ramai jadi Calon Wali Kota Padang

SEBAGIAN warga Kota Padang dan atau warga Sumatera Barat yang datang ke Padang, mungkin bertanya-tanya menyaksikan ada banyak foto dalam format baliho dipajang di kiri/kanan/tengah (jalur hijau) jalan-jalan di Ibukota Provinsi Sumatera Barat tersebut. Selain itu, foto-foto bentuk headshot (foto kepala) itu dapat dikatakan penuh gaya, karena orang-orang yang memajangkan foto-foto mereka dalam ukuran besar itu tahu benar kalau foto itu dimaksudkan untuk keperluan mejeng (bergaya/penuh aksi/in action). Ada yang cukup dengan wajah kalem—nyaris tanpa senyum, ada yang tagalak sengeang, ada yang bergaya miring—tengah melihat ke mana, dan atau menghadap/memantang. Pokoknya, semua foto-foto itu adalah penampilan wajah dengan penuh gaya dan menarik perhatian bagi yang melihatnya—harapannya pula adalah untuk menimbulkan kesan baik/simpatik.

Sangat mungkin, beberapa dari mereka menggunakan jasa konsultan gaya atau mantan peragawan/peragawati dan atau mantan Uni/Uda—soal lain kalau bayaran tinggi atau biaya badunsanak dan atau konsultannya masih orang dekat/keluarga sendiri. Mereka diharapkan membagi pengalaman tentang bagaimana bergaya di depan kamera—maklum foto terbaik nanti akan difoto digital ukuran besar atau baliho, serta akan dipajang di sepanjang jalan atau di perempatan jalan strategis. Memang mungkin begitu yang paling aman. Menggunakan jasa konsultan ahli/berpngalaman di bidangnya. Maklumlah, selain foto-foto itu memang bermasud mejeng/bergaya dengan penuh aksi/in action, juga ada banyak foto serupa—artinya ada persaingan pula di antara foto-foto yang tengah mejeng itu dalam merebut kesan/simpati dari yang melihatnya. Sangat sayang bukan? Kalau tidak bergaya dengan tepat dan benar, nanti bisa menyesal kelak di belakang hari nanti?

Sebagian dari foto-foto tersebut kebanyakan tanpa alamat/maksud berjelas-jelas—masih disembunyikan apa maksud/tujuannya. Sebagian dari foto-foto itu sudah agak jelas apa maksudnya. Antara lain karena ada label/lambang partai. Jadi, maksudnya, yang tengah mejeng memberi isyarat, bahwa ia/dia akan bakal menjadi calon anggota legislatif (belum tahu pula, apakah akan menjadi calon anggota DPR-RI dan atau DPRD provinsi/kabupaten/kota dan atau calon anggota DPD-RI—sebab orang dari partai boleh menjadi calon anggota DPD-RI). Ada yang semula belum memberi arah kesan/label, dan baru belakang ini menambahkan label/logo dari sebuah partai. Lalu, ada banyak foto pula yang masih belum menentukan arah/labelnya, apa maksud foto-foto mereka dalam ukuran besar/baliho dipajang? Ada banyak orang secara spontan menebak, mereka yang foto-fotonya dipajang/tengah mejeng itu kemungkinan calon wali kota (mungkin pula calon wakil wali kota?).

MEMANG, helat atau kenduri besar pemilihan umum kpala daerah (Pemilukada/Pilkada) wali kota Padang memang insya Allah digelar akhir tahun 2013 ini. Wali Kota petahana (incumbent) Dr. H. Fauzi Bahar M.Si. tidak akan maju kembali untuk periode yang akan datang, karena ia sudah dua kali masa jabatan. Petahana Wakil Wali Kota Padang H Mahyeldi Ansharullah SP yang akan bertarung untuk naik kelas menjadi calon wali kota Padang menggantikan Fauzi Bahar. Hanya saja, kabar-kabarnya, saingannya sangat banyak. Apakah Mahyeldi mempunyai untuk terpilih? Entahlah—tidak ada jaminan petahana wali kota dan atau wakil wali kota akan memenangkan Pemilukada Kota Padang!? Patahana bisa dipandang sebagai modal dasar bilamana selama masa jabatan ia/dia dipandang sukses. Selain saingan-saingan banyak—mungkin juga relatif berat, para pemilih di Kota Padang, kabar-kabarnya, sangat cerdas/pintar dalam menentukan siapa pilihannya.

Sampai saat terakhir, kabar-kabarnya, sudah hampir 30 bakal calon akan bertarung memperebutkan kursi calon wali kota. Kenapa masih disebut ”memperebutkan bakal calon wali kota”. karena, pada tahap seleksi calon ada yang disebut memperebutkan kursi calon dari partai-partai. Sama ada partai tersebut memenuhi minimal kursi di DPRD Padang/prosentase minimal perolehan suara pada Pemilu 2009 lalu, dan atau koalisi partai-partai. Secara sederhana, maksimal calon wali kota dari partai sekitar lima pasang atau bahkan kurang—itu pun sudah termasuk kumpulan sisa suara pada Pemilu 2009 yang tidak sampai memperoleh satu kursi di DPRD Padang. Bilamana partai yang cukup minimal electoral threshold dan atau jumlah kursi minimal di DPRD Kota Padang kemungkinan masih tetapi berkoalisi untuk memperkuat basis dukungan, misalnya. Itu, bisa saja terjadi. Jadi, tetap ketat untuk memperebutkan satu kursi pasang untuk satu partai (tanpa koalisi) dan atau koalisi partai—bahkan di antara para kader sendiri/sesama kader dari partai yang sama.

Lalu, persaingan calon wali kota menjadi semakin ketat, bilamana terdapat sejumlah pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota melalui jalur bebas partai alias dari calon independen. Secara peraturan-perundangan, sesiapa bakal calon wali kota/calon wakil wali kota yang mampu memenuhi persyaratan, maka mereka akan ditetapkan KPUD Kota Padang untuk menjadi calon. Karena Pemilukada tingkat kota/kabupaten dengan wilayah jangkauan yang lebih sempit, maka kemungkinan akan terdapat/terbuka peluang untuk banyak calon pasangan. Jadi, sekitar 30 calon wali kota tersebut, nantinya akan mengerucut menjadi lima pasangan dari partai koalisi partai dan kemungkinan pula ada tiga-empat (?) calon pasangan dari jalur independen. Jadi, bisa saja ada tujuh atau delapan atau sembilan pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota!? Jadi, persaingan akan sangat ketat.

Tidak hanya sangat ketat, kemungkinan juga tidak akan diperoleh satu pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota yang mampu mendapatkan minimal 30 persen ditambah satu suara—tentu kemungkinan tetap ada!? Jadi, kemungkinan energi para pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota akan dikuras/terkuras secara alang kepalang. Sebetulnya, juga energi para pemilih/warga Kota Padang akan dikuras. Terkuras akut (melelahkan) bilamana pemilukada wali kota/wakil wali Kota Padang berlangsung sampai dua kali putaran. Kemungkinan, baik KPUD Kota Padang dan atau maupun para semua pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota mempersiapkan diri atau mengantisipasi dengan cermat/seksama. Para pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota berpeluang sama untuk memasuki putaran kedua. Jangan sampai, saat sabuang salapeh ari patang justru keok/energi habis—lampu padam!?

ADA sejumlah nama yang beken/cukup beken dan atau juga kawakan—setidaknya dalam anggapan/pandangan seorang Cucu Magk Dirih—yang kelihatan/naga-naganya akan maju dalam pemilukada wali kota/wakil wali kota Padang (kelihatan/kemungkinan pemilihan wali kota/wakil wali kota Padang masih belum akan menggunakan pemilihan lewat DPRD, walaupun draft academic rancangan perubahan undang-undang Nomor 32/2004 tentang Pemerintah Daerah dan atau rancangan undang-undang pemilukada sendiri saat ini masih tengah dibahas di DPR-RI, dan kemungkinan akan bersepakat menetapkan pemilihan bupati/wakil bupati dan atau wali kota/wakil wali kota dipilih oleh DPRD saja, serta pemilihan gubernur/wakil gubernur yang tetap secara langsung). Nama-nama tersebut yang sudah beredar dan berpendar. Bahkan, sebagian nama sudah beredar/berpendar sejak lebih awal. Apa boleh buat, mengenal wajah untuk para pemilih adalah sebuah kelaziman/kenisbian!!

Yang secara nyelekit—setidaknya bagi Cucu Magek Dirih yang kuno/tidak mengerti—masih tetap mengherankan: kenapa begitu banyak mereka yang melihat jalur pengabdian sebagai kepala daerah (gubernur/wakil gubernur dan bupati/wakil bupati dan atau wali kota/wakil wali kota) sebagai begitu exciting base/memukau!? Apa sesungguhnya yang menjadi daya pikat/pukau posisi/jabatan kepala daerah—hatta ada yang sampai habis-habisan!? Adakah keinginan untuk mengabdi/mendermabaktikan diri/tenaga dan pikiran/hati serta waktu/perhatian yang begitu besar dan atau ada latar belakang atau motif lain!? Latar belakang/motif apa, selain keinginan untuk mengabdi atau mendermabaktikan diri/tenaga, hati/pikiran, dan waktu/perhatian? Karena Cucu Magek Dirih mengetahui betul, tidak mungkin latar belakang/motif honorarium/tunjangan dan bdana taktis yang mesti tercatat/diperiksa/dipertanggungjawabkan? Honor/tunjangan setiap kepala daerah, di luar berbagai fasilitas dinas/resmi, minimal sekitar Rp 70-80 juta/bulan.

Sebagai salah seorang eksekutif bisnis puncak/pengusaha pula, honorarium/berbagai tunjangan dan fasilitas resmi seorang Cucu Magek Dirih mungkin sekitar enam-tujuh kali lipat seorang kepala daerah (bahkan seorang gubernur). Hanya kepala daerah dibayarkan semua kegiatannya, di kantor dan di rumah dinas. Kalau soal perjalanan dinas, sama dibayarkan kantor. Jadi, secara tingkat penghasilan, posisi/jabatan kepala daerah benar-benar tidak menarik bagi seorang Cucu Magek Dirih—maklum Cucu Magek Dirih seorang surau dengan pikiran lurus yang kuno/takut bersalah kepada orang banyak dan apalagi berbuat dosa/masuk neraka/siksa Allah sangat pedih! Jadi, Cucu Magek Dirih tidak berani menduga-duga kalau motif/latar belakang seorang bakal calon kepala daerah adalah bias/deviatif. Mudah-mudahan memang benar demikian—soal lain kalau ada sejumlah gubernur/bupati/wali kota dan atau wakil-wakilnya yang terjaring KPK atau kejaksaan tinggi karena manipulasi jabatan/korupsi. (*)

Cucu Magek Dirih lainnya

Komentar