Date Kamis, 24 July 2014 | 21:45 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Soalnya bukan Sekadar Teori Dakwah

Mestika Zed

Sejarawan

Soalnya bukan  Sekadar Teori Dakwah

KALAU saja esei wartawan senior Zaili Asril mengakui bahwa ada yang patut dicemaskan dalam gejala dakwah Islam akhir-akhir ini, saya tak perlu menanggapi tulisannya yang bagus itu (Padek 10/9/12). Tetapi itulah soalnya. Tan Zaili merasa tidak terjadi apa-apa dengan kenyataan dakwah dewasa ini, yang bagi saya cukup memprihatinkan. Terutama akibat dampak ikutan dari manipulasi teknologi media massa terhadap kemerosotan spiritualitas dakwah.

Kalau begitu, orang bisa saja menduga-duga alasannya, pertama ia jarang datang ke masjid, kedua jarang mengikuti dakwah di tv, ketiga ia adalah jamaah “surau Palupuah”, yang suka berlinang air mata, bukan karena termakan kaji, melainkan karena “ass”-nya terjepit lantai bambu yang labil itu, sehingga saat jamaah lain bergerak di sekitarnya ia rela menahan sakit.

Detak hati saya, tak satu pun di antara ketiga dugaan itu berlaku atas diri wartawan senior kita ini. Tak mungkin. Beliau adalah seorang tholib yang sangat terpelajar dan rajin membaca sejak masa mudanya.

Luas ilmunya dan suka menulis tentang apa saja. Terlebih lagi karena posisinya sebagai juru berita. Tetapi, ia juga seorang pengamat yang kritis, dan jangan lupa Tan Zaili juga seorang manejer yang berhasil, kebanggaan banyak orang, terlebih karena kedermawanannya, suka menolong teman-teman lamanya.

Kalau ada orang yang berani menyanggah tulisannya, itu pastilah karena kurang ilmunya. Saya menulis esei ini semata-mata hanya karena bersetuju dengan komentarnya terhadap esei saya sebelumnya (Padek, 8/9/12). Ia benar ketika mengatakan bahwa saya ’gamang’ dengan kenyataan dakwah akhir-akhir ini. Terutama dalam kaitannya dengan manipulasi teknologi kemunikasi dakwah Islam.

Deviasi atau Keganjilan Kronis?

Otoritas akademik tentang seluk-beluk dakwah haruslah dikembalikan ke Fakultas Dakwah di mana pun, khususnya di sini, ialah IAIN Imam Bonjol Padang. Bupati Solok Pak Syamsu Rahim, yang merancang ide seminar di Solok itu, sangat arif dengan ini. Makanya beliau mengajak Fakultas Dakwah IAIN IB Padang untuk menggarap seminar itu. Lalu, dihadirkan tiga kategori pembicara: yang mewakili akademisi, praktisi dan pengamat.

Saya menolak ketika diminta mewakili akademisi, semata-mata karena soal etis dan demi menghormati kawan-kawan di Fakultas Dakwah, karena menurut hemat saya, merekalah sejatinya yang disebut akademisi di bidang dakwah, dan kebanyakan mereka juga praktisi dan mestinya juga sekaligus pengamat. Maka saya lebih suka memposisikan diri saya di luar ketiga kategori yang ditetapkan panitia itu. Makalah saya lebih baik diletakkan sebagai suara ’makmum’ yang awam, yang mengalami sehari-hari bagaimana dakwah dijalankan dan kegusaran saya terhadap ’keganjilan kronis’—yang ditemukan dalam kegiatan dakwah belakangan ini. Tan Zaili menyebutnya sekadar ’deviasi’ manusianya dan media massa. Tetapi kalau gejalanya sudah demikian biasa, ia tak lagi dapat disebut deviasi, penyimpangan kecil. Ia sudah menjadi pola umum yang kronis.

Sekadar ilustrasi, izinkan saya di sini mengutip tulisan saya lagi. “Di masjid-masjid dan mushala (di kota dan di nagari-nagari) juga terdapat pemandangan ganjil. Terlebih di hari-hari pertama Lebaran (Idul Fitri dan Udul Adha). Hiruk pikuk takbiran lewat alat pengeras suara bergema di mana-mana. Tetapi ketika melongok lebih dekat ke dalamnya, tidak ada orang. Kosong. Media teknologi dimanipulasi untuk menyemarakkan syiar agama. Sementara mubalig dan umat sibuk dengan diri mereka masing-masing. Lagi-lagi jebakan teknologi media meninabobokan dan mengecoh keberagamaan umat dan pengurus masjid.”

Kita merasa telah berbuat banyak menyemarakkan syiar agama. Nyatanya kita di situ-situ juga. Yang disuruh bekerja ialah kaset tanpa kenal lelah. Ini sudah kronis sejak lama, tetapi dibiarkan. Sungguh saya sangat mendambakan dan implisit menyarankan agar frekuensi menyuruh kaset bertakbir dan mengaji kaset Timur Tengah itu dikurangi dan makin lebih banyak melantunkan suara asli kita, entah itu oleh garin masjid, jamaah atau oleh yang ahlinya. Itu lebih orisinal, lebih afdhal, lebih attached ketimbang memperalat teknologi, sehingga syiar Islam tak kian artifisial. Itu satu.

Kedua, kecenderungan penyampaian dakwah dalam kemasan budaya pop lewat media tv khususnya, makin marak sejak beberapa tahun terakhir ini. Sesuai dengan sifatnya, budaya pop berorientasi komersial, dangkal dan musiman (terutama di bulan Ramadhan). Yang lebih diutamakan ialah daya tarik dan fungsi hiburan. Itu lebih banyak ’sarok’-nya ketimbang substansinya. Apalagi dengan dipadati selingan hiburan ’permainan’ yang nyaris tak terkontrol, berikut masa jeda dengan jor-joran iklan. Yang tercipta bukan komunikasi dakwah yang aslinya membuat orang tergerak untuk berbuat kebajikan, melainkan sekadar senang, sesudah itu tak ada efeknya.

Lihatlah pasca-Ramadhan, hampir tak ada tanda-tanda bahwa umat Islam barusan keluar dari gemblengan mental-spiritual Ramadhan. Juga tidak tampak bekas perubahan perilaku dan perangai umat. Tengoklah kacau balau lalu intas di Kota Padang, misalnya, seperti itu juga. Di jalan orang-orang kurang sabar, kurang toleransi dan mau menang sendiri. Tapi ini mungkin tak termasuk bagian kaji wirid Ramadhan. Hasil kerja keras para mubalig, ustad, dan dai seperti sia-sia belaka.

Di sini saya berbicara tentang materi dakwah, maksudnya isi (konten) atau pesan dakwah. Kita memerlukan pesan dakwah yang mampu menerangi jalan bagi umat di dunia dan di akhirat. Tak terbatas hanya pada aspek normatif, spiritualitas hitungan untung rugi fadhilah Ramadhan, atau pahala dan dosa, surga dan neraka, melainkan juga berkenaan dengan persoalan-persoalan zaman yang dekat dengan keseharian umat.

Ketiga, lebih menyedihkan lagi, etiskah kalau ustad/ustadzah ikut beriklan menjadi corong produk komersial tertentu? Saya tak perlu jawab soal ini. Teknologi apa pun bentuknya memiliki pisau bermata dua. Tetapi kerisauan saya dalam hal ini ialah ketika aktor dakwah tidak menyadari betapa ia sedang diperalat oleh kuasa pasar atau kuasa politik tertentu. Yang terjadi berikutnya ialah para dai atau ustad sudah terkontaminasi, keluar dari garis demarkasi dakwah.

Kalau popularitas “dai kondang” sebagai figur publik atau “opinion leader” sudah dibelokkan motifnya untuk mendapatkan fulus, saya khawatir kader-kader dakwah masa depan akan mengikut pola “Indonesian Idol” produk tiruan asli Amerika yang digemari kawula muda kita. Motif utamanya tak lain soal “fulus” dan “fulus”. Dan itu toh sedang terjadi saat ini. Akibatnya ialah, hubungan dai dan jamaah sama dan sebangun dengan hubungan antara artis dan fans mereka. Di situ nilai-nilai spiritual-religius berdakwah kian terkikis.

Keempat, karena sejauh ini tidak ada kode etik dakwah yang dapat dipedomani, sembarang orang bisa maju naik mimbar. Tak ada yang melarang. Sebab, hadis juga membenarkan agar “sampaikanlah yang dari aku ... walaupun satu ayat”. Tetapi itu maksudnya barangkali bukan semuanya harus dengan naik mimbar. Dakwah bisa berlangsung di mana saja dalam setiap interaksi dengan sesama umat dan bahkan dengan saudara-saudara kita nonmuslim. Di Inggris dewasa ini banyak perempuan bule masuk Islam karena selain indahnya berjilbab, juga melindungi diri mereka dari mata maksiat kaum lelaki.

Ada juga yang masuk Islam karena mengagumi tata aturan ajaran Islam yang hebat dalam konsep halal dan haram. Kita disuruh makan yang halal dan baik. Semuanya sangat sejalan dengan konsep higienis modern. Namun kalau semuanya mau maju naik mimbar atau imam shalat, maka yang tersia-sia ialah pakem dakwah itu sendiri, termasuk pesan dakwah. Bukankah ajaran Islam sudah mengingatkan, “tunggulah kehancuran jika menyerahkan urusan kepada yang tidak ahlinya”. Jika kode etik ajaran Islam tak diindahkan, maka hal-hal buruk tak bisa dihindarkan. Entah itu “bacaan ayat imam shalat yang mubalig itu kerap tidak fasih, alias keliru tajwidnya. Atau fatwa-fatwa yang keluar dari keawaman, sehingga bisa memicu konflik sosial, tersembunyi atau terang-terangan.

Syukurlah jika ’kegamangan’ terhadap gejala yang dilukiskan sepintas di atas hanya menjadi kerisauan pribadi saya dan tak perlu merisaukan Tan Zaili sebagai orang media atau selaku anggota umat. Tetapi kalau membuka lebih dalam lembaran dakwah Islam kita dewasa ini, rasanya tidak adil menyalahkan ulama dan mubalig semata. Persoalannya jauh lebih kompleks daripada yang dikira. Juga kurang etis rasanya menguliahi ulama dan mubalig tentang apa itu dakwah. Sebab, mereka telah mengerjakannya sebelum Tan Zaili menuliskannya. Tapi sungguh dari esei Bung saya dapat belajar banyak. Keprihatinan saya di sini hanyalah keprihatinan seorang ’makmum’ yang awam merindukan mubalig dalam sosok pemimpin ruhaniah bergezag ’sufi’ dan ’fakih’ yang alim, pemegang otoritas keagamaan yang dipercaya umat. Bukan mubalig dadakan atau “ustad kondang” yang banyak penggemarnya, tetapi akhlaknya seolah-oleh bukan urusan publik. Padahal, inti total dakwah itu harus mulai dan berakhir pada perbaikan akhlak umat. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar