Date Rabu, 23 July 2014 | 06:51 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Mencari Batasan Maaf Lahir dan Batin

Fachrul Rasyid

Wartawan Senior

Mencari Batasan  Maaf Lahir dan Batin

Tiap datang Idul Fitri di antara kita banyak menerima ucapan “Selamat Idul Fitri, minal ’aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathin” via pesan singkat SMS. Banyak di antaranya yang disertai kalimat hikmah dan bahkan pantun-pantun.

Seperti tahun sebelumnya, Idul Fitri 1433 H ini saya juga banyak menerima ucapan serupa. Sekitar 200-an. Ada yang dari pejabat pemerintahan, politisi, akademisi, pengusaha, guru sekolah, guru mengaji, ulama, ustad, dai, mahasiswa/i, seniman dan budayawan serta teman-teman seprofesi. Sebagian besar saya balas.

Sekilas tak ada yang aneh dari ucapan selamat Idul Fitri itu. Apalagi kalimat minal ’aidin wal faizin sudah diketahui maknanya: semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan mendapat kemenangan (Ramadhan).

Tapi, makna kalimat mohon maaf lahir dan batin karena tak ada hubungannya dengan ucapan minal ’aidin wal faizin, tentu cukup menggelitik. Saya coba mencari jawabannya selama dua kali Ramadhan. Entah dianggap hal biasa, tak seorang pun penulis di surat kabar kita dan para ustad yang membahas hal itu dalam ceramah-ceramah Ramadhan.

Padahal, ucapan mohon maaf lahir dan batin, bukan hal sepele. Sebagaimana diketahui kata maaf (Bahasa Arab) berarti rela dan ikhlas melepaskan/menghabiskan segala sesuatu: kesalahan, kekeliruan (sengaja atau tak sengaja) kewajiban atau utang seseorang kepada orang lain. Kata lahir atau zhahir (Bahasa Arab) berati nyata, kasat mata atau tampak dilihat mata dan terasa disentuh anggota tubuh. Batin atau bathin (Bahasa Arab), adalah sesuatu yang bukan kasat mata tapi kasat rasa: perasaan, jiwa dan hati (aspek psikologis)

Lantas pertanyaannya, apakah dengan memberi atau menerima ucapan mohon maaf lahir dan batin itu secara ikhlas otomatis akan menghapus semua bentuk dosa/kesalahan yang bersifat perasaan? Kalau kedua belah pihak memang berniat saling memaafkan, boleh jadi dosa dan kesalahan itu sudah hapus.

Tapi bagaimana dengan dosa/kesalahan yang bersifat lahiriyah/zhahir? Misalnya, tindak pidana kriminal terhadap seseorang, terhadap orang banyak dan terhadap negara seperti pencurian, penganiayaan, penipuan, pembohongan, manipulasi dan korupsi. Atau yang bersifat keperdataan, seperti utang piutang, sewa menyewa, dan sebagainya. Apakah dosa/kesalahan tersebut akan hapus juga?

Pertanyaan yang kelihatan sederhana ini persoalannya tidaklah sederhana. Sebab, bukan tak mungkin satu hari kelak seorang pelaku kejahatan, pencuri atau korupsi, mengirim ucapan selamat dan mohon maaf lahir batin secara tertulis kepada korban atau kepada jaksa atau hakim dan dijawab dengan ucapan senada. Ucapan itu kemudian didalilkan terdakwa menggugurkan kejahatannya. Atau tergugat dalam perkara perdata, mendalilkan ucapan seperti itu untuk menolak gugatan, misalnya utang piutang. Bukankah di antara pelaku dan korban, termasuk jaksa yang mendakwa atau hakim yang mengadili perkara sudah saling memaafkan?

Kalau makna ucapan mohon maaf lahir dan batin itu tidak sampai sejauh itu, lantas apa makna sesungguhnya? Apakah itu hanya dipergunakan sekadar pemanis dan pelengkap pergaulan. Lalu buat apa memohon dan memberi maaf kalau tak dimaksudkan menghapus dosa/kesalahan?

Serangkaian pertanyaan tersebut di atas ada baiknya dibahas oleh para ahlinya, dalam hal ini pakar hukum dan ulama sehingga umat mendapat batasan yang jelas dan tegas tentang hal itu. Jika tidak, ucapan-ucapan berbau agama, apalagi yang mendalilkan Al Quran dan Hadis, seperti kini banyak muncul di tengah-tengah masyarakat, hanya akan menjadi kata-kata pemanis mulut atau penghias spanduk-spanduk. Padahal, agama dan beragama bukan hanya sebatas ucapan dan spanduk-spanduk itu. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar