Date Rabu, 23 July 2014 | 17:01 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Telat Daftar Ulang, Anak Pedagang Sayur ”Ditendang”

Ironi Lulus PSB Online

Selasa, 12-07-2011 | 12:53 WIB | 368 klik
Ironi Lulus PSB Online

(*)

Senyum sempat mengembang di mulut Deni Novita Nasution. Namanya tercantum dalam daftar lulusan SMKN 1 Padang, Jurusan Teknik Gambar Bangunan. Tapi, hanya sebentar. Senyum di wajahnya menghilang begitu tahu namanya tercoret hanya gara-gara terlambat daftar ulang.


Orangtua Deni, Leni Anisa mengaku keterlambatan anaknya mendaftar ulang disebabkan kurang biaya membayar dana pembangunan pendidikan tahap I, iuran bulanan (sebanyak dua bulan), baju praktik, baju olahraga, masa orientasi siswa (MOS), baju koko, asuransi, dan kartu pelajar sebesar Rp 990 ribu.


Dia menuturkan, ketika membayar daftar ulang ke sekolah tersebut, Rabu (6/7), uang di tangannya hanya Rp 500 ribu, dan berjanji menutupi kekurangan esoknya. Oleh petugas penerimaan pendaftaran ulang, pedagang sayur di Pasar Raya itu disarankan membayar sekaligus.


Untuk menutupi kekurangan, Leni meminta bantuan zakat dari PT Semen Padang pada Kamis (7/7). Namun, karena harus mengikuti antrean, Leni terpaksa menunggu hingga malam sampai dana tersebut dicairkan. Sehingga, Leni baru bisa mendaftar ulang Jumat (8/7), sehari setelah penutupan PSB tahap 1.


Ketika mendaftar kembali, Leni mendapati nama anaknya sudah tidak tercantum lagi papan pengumuman. “Saya tidak tahu, apa karena saya tidak punya uang anak saya tidak bisa mendaftar ulang,” kata Leni sendu kepada Padang Ekspres, Minggu (10/7).


Menurutnya, akan sangat berat baginya jika sang anak harus mengikuti pendidikan di sekolah swasta. “Saya tidak punya biaya kalau anak harus sekolah jauh. SMKN 1 ini kan dekat rumah. Bisa hemat biaya,” ujarnya. Leni bertekad akan terus memperjuangkan anaknya agar bisa sekolah di SMK tersebut.


Ketika dikonfirmasi ke Kepala SMKN 1 Padang, Syofrizal, ia menegaskan tetap mengikuti aturan PSB. “Saya konsisten mengikuti aturan. Sementara ibu Leni tidak memberi tahu kami, atau mendaftarkan anaknya terlebih dahulu. Saya tekankan, sekolah tidak pernah mempersoalkan biaya. Kalau memang belum ada dananya, komunikasikan dengan sekolah,” jelasnya seraya memperlihatkan data 26 orangtua siswa yang juga terkendala biaya.


“Ini daftar siswa yang terkendala dana, ada yang baru bayar setengah. Bahkan ada yang belum bayar sama sekali,” ujarnya tegas, kemarin (11/7).
Namun begitu, Syofrizal akan berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Padang terkait masalah Leni.


Secara terpisah, Wakil Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansarullah menambahkan, PSB online masih perlu dievaluasi untuk mencapai kesempurnaan. Di satu sisi, cara online menandakan majunya pendidikan Padang, tetapi di sisi lain, ternyata masih ada yang harus diperbaiki.


“Terkait kasus Ibu Leni, seharusnya kepala sekolah bisa berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Jika ada calon siswa yang belum mampu melengkapi syarat ketika mendaftar ulang, bisa dicarikan solusinya,” ujarnya disela-sela acara pembukaan MOS di SMAN 1 Padang, kemarin.


Sebuah sistem hanyalah instrumen menuju lebih baik. Jika dalam pelaksanaannya masih ada ditemui kekurangan di sana-sini, “tidaklah berdosa” untuk merevisi PSB online. (mg8/e)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA