Date Kamis, 31 July 2014 | 16:26 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Ketika Pedagang Pantai Padang Ikut Training ESQ

Tenda Ceper No, Tenda Tinggi Yes

Kamis, 25-10-2012 | 12:40 WIB | 665 klik
Tenda Ceper No, Tenda Tinggi Yes

Peserta ESQ bersama Ketua YPTK Padang Herman Nawas

Suasana Universitas Putra Indonesia (UPI) Convention Centre selama tiga hari ini tampak berbeda. Biasanya peserta training Emotional Spiritual Quotient (ESQ) kalangan terdidik, kini diikuti 102 pedagang kaki lima di Pantai Padang, baik tenda tinggi maupun ceper beserta keluarga. Seperti apa mereka mengikuti training ESQ ini?

KEMARIN (24/10), hari terakhir pelaksanaan training ESQ yang dilaksanakan sejak Senin (22/10) itu. Ketika Padang Ekspres tiba di lokasi sekitar pukul 13.00, para peserta sedang makan bajamba (satu dulang dikelilingi empat orang) sambil diselingi musik Islami. Suasana kebersamaan pun makin kental.

Sementara pemrakarsa training ini, Herman Nawas, mengunjungi satu per satu peserta ESQ dan mengajak mereka bercengkerama sambil makan. Terlihat keharuan di wajah mereka.

Usai makan, mereka berbaris dan bernyanyi bersama. Mulai dari nyanyian mars ESQ, hingga nyanyian Islami. Mereka juga punya yel-yel. Dengan tangan terkepal membentuk tinju dan dikepalkan ke atas dengan suara lantang mereka meneriakkan,

“ESQ Yes, Pantai Padang Jaya. Tenda Ceper No, Tenda Tinggi Yes”.

Itu hanyalah salah satu dari sekian banyak doktrin yang diberikan pada mereka. Awalnya, para pedagang Pantai Padang hanya diundang untuk mengikuti pelatihan, makan siang, sertifikat, dan uang transpor selama tiga hari.

Tidak semua peserta tahu, acara yang mereka ikuti dari pagi sampai sore itu, training ESQ. Tidak semuanya juga tahu nama orang yang mengundang mereka, Herman Nawas, pendiri UPI yang pernah tinggal di kawasan Danau Cimpago itu selama 15 tahun. Hal itu terbukti dari masih banyak yang kaku menyebut ESQ maupun nama Herman Nawas.

“Selama ikut training ini, pikiran saya terbuka. Saya sadar, banyak cara untuk memperoleh rezeki. Ke depan, saya akan memasang payung tinggi,” tegas Tis, salah seorang pedagang tenda ceper, setelah mengikuti training selama tiga hari, kepada Padang Ekspres, kemarin.

Hal senada juga disampaikan Linda, pengelola cafe Ayah Siska di kawasan Danau Cimpago. Mereka berkomitmen untuk membentangkan tenda yang lebih tinggi, sehingga Pantai Padang layak menjadi daerah wisata keluarga.

Lain lagi dengan Net. Selama training ini mereka diterima seperti keluarga. Mereka larut dalam suasana keagamaan yang tidak bisa dilukiskan. Mereka shalat bersama, diajak mengenali diri, tujuan hidup dan diajak mengenal Tuhan. Mereka tidak diuber-uber seperti razia penertiban, namun disentuh hatinya, sehinga timbul kesadaran sendiri.

“Biasanya kami dipojokkan. Kami dilarang dengan kekerasan. Sekarang, kami tidak dilarang. Kami akan berbenah dengan kesadaran kami. Kami ingin dibina terus oleh Pak Herman, dan kalau bisa kegiatan ini diadakan secara berkelanjutan,” ujar wanita yang sudah berjualan selama 9 tahun di kawasan itu.

Katanya, walau tidak semuanya berjualan dengan payung ceper, namun semuanya menggantungkan hidup dan masa depan mereka dari kawasan Danau Cimpago. Untuk itu, mereka butuh binaan.

Salah seorang peserta ESQ lainnya mengaku sangat bahagia mengikuti kegiatan ini selama tiga hari. Pergi pagi, pulang sore, lalu langsung berjualan untuk mengikuti training ini.

“Saya merasakan banyak hal. Sudah puluhan tahun hidup lupa dengan Tuhan. Sekarang, training ini mengingatkan saya. Saya dapat sesuatu, saya tak bisa menggambarkannya, tapi saya merasakannya,” ujar wanita yang enggan menyebutkan namanya ini dengan haru.

Sementara itu, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Komputer (YPTK) Padang, Herman Nawas mengungkapkan, ke depan dia bersama UPI akan membimbing pedagang di kawasan Pantai Padang. Biasanya hanya mengandalkan berjualan di tenda dengan hanya minuman dan makanan, menjadi pedagang kreatif.

Usai ESQ, pedagang di Pantai Padang akan diberi seragam, seperti baju kurung, baju koko, peci. Di tempat mereka berdagang akan dipajang sertifikat ESQ. “Jadi mereka berdagang dengan nuansa Islami. Pedagang sudah menyatakan tekadnya untuk itu,” jelasnya didampingi istri Zerni Melmusni.

Dia mengaku terinspirasi dengan banyaknya berita yang menggambarkan negatifnya pandangan orang terhadap Pantai Padang. “Di sana ada ratusan payung ceper. Setiap orang yang masuk ke dalam dan berbuat hal yang tidak baik, maka Allah akan menyegerakan azab-Nya,” ujarnya.

Selama tiga hari Herman dan istrinya terjun langsung dari pagi sampai sore mendampingi pedagang mengikuti training, bahkan dia juga memberikan materi.

“Kita ubah mind set, dengan cara bersih dan halal pun kita berdagang, maka Allah akan memberikan rezeki. Yang penting sabar dalam masa perubahan itu,” jelasnya.

Secara berkala, tenda ceper milik pedagang akan diserahkan ke UPI. UPI akan mengganti dengan tenda tinggi. Kemarin, secara simbolik 12 tenda tinggi diserahkan. (***)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA