Date Kamis, 31 July 2014 | 18:25 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Ekonomi Bisnis

Ekspor- Impor Melambat

Kamis, 18-10-2012 | 11:52 WIB | 372 klik

Padang, Padek—Dampak krisis ekonomi di Eropa mulai memberikan dampak terhadap perekonomian Sumbar. Berdasar data Bank Indonesia Padang, pertumbuhan ekspor Sumbar pada triwulan II tumbuh 5,6 persen (yoy) , jauh lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya tumbuh mencapai 16 persen (yoy). Pada triwulan II, nilai ekspor nonmigas Sumbar USD 386,4 juta lebih rendah 26,4 persen (yoy) dibanding periode sama tahun lalu

”Ekspor Sumbar menunjukkan pelemahan pertumbuhan sebagai imbas masih terjadinya ketidakpastian pemulihan ekonomi global. Kendati begitu, kinerja ekspor nonmigas masih dapat bergerak positif karena didorong oleh volume ekspor China menunjukan trend peningkatan,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VIII Joko Wardoyo kepada wartawan usai seminar level forum di Gedung BI, kemarin.

Dia menyebutkan faktor perlambatan ekspor bersumber dari rendahnya volume ekspor crude palm oil (CPO) dibanding tahun sebelumnya. Ini dampak permintaan dunia yang sedang mengalami pelemahan. Pada bulan April-Mei volume ekspor CPO mencapai 231,1 ribu ton atau mengalami penurunan 20,3 persen dibandingkan periode tahun lalu.

Kemudian, pergerakan harga komoditas ekspor utama seperti CPO dan karet mentah yang melemah di pasar internasional. Rata-rata harga CPO di pasar internasional pada akhir triwulan II berada pada level USD 933,0 per metrik ton atau mengalami koreksi hingga 14,3 persen dibanding posisi rata-rata harga triwulan sebelumnya USD 1.089,3. Rata-rata harga karet mentah pada periode yang sama juga mengalami penurunan dari USD 410,6 sen per kg menjadi USD 353,9 sen per kg atau mengalami koreksi harga hingga13,8 persen.

“Meski demikian, kinerja nonmigas masih dapat bergerak positif didorong volume ekspor ke China menunjukkan peningkatan.Volumenya pada periode terakhir di triwulan II mencapai 142,5 ribu ton, masih mampu meningkatkan 1,4 persen dibanding periode sama pada tahun sebelumnya,” sebut Joko.

Perkembangan impor mulai menujukkan pelemahan bahkan pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan ekspor. Pertumbuhan impor pada triwulan ke II 4,1 persen (yoy), jauh lebih lambat dibanding triwulan sebelumnya 19,3 persen (yoy). Perlambatan impor akibat pergerakan kurs rupiah melemah serta berkurangnya pengadaan pupuk impor untuk pemenuhan kebutuhan kelapa sawit.

”Daya saing pelabuhan juga perlu ditingkatkan. Kami yakin dengan dilakukan perbaikan pada pelabuhan, maka dampak krisis ekonomi tidak akan terlalu memukul perekonomian kita,” ucapnya.

Asisten II Pemprov Sumbar Syafrial mengaku perbaikan pelayanan pelabuhan menjadi prioritas. “Baru-baru ini ada keluhan dari gabungan eksportir –importir. Mereka meminta barang-barang mereka bisa didahulukan untuk dibongkar,” ucapnya.

Katanya, Dirut Pelindo sudah menandatangani MoU dengan gubernur untuk pengembangan pelabuhan senilai Rp 1,6 triliun. “Dengan adanya perbaikan ini, kami harapkan kinerja ekspor membaik lagi,” ucapnya. (ayu)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA