Date Jumat, 1 August 2014 | 16:49 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Fauzi Bahar Luncurkan Buku Biografi

Kamis, 16-08-2012 | 13:29 WIB | 458 klik

M Yamin, Padek—Wali Kota Padang Fauzi Bahar genap berusia 50 tahun, hari ini (16/8). Untuk merayakan ulang tahunnya, Fauzi Bahar menggelar buka puasa bersama 5.000 anak yatim di Masjid Raya Sumbar, Jalan Khatib Sulaiman, Padang.

Dalam kesempatan itu, juga akan diluncurkan buku biografi bertajuk “50 Tahun Fauzi Bahar Mengabdi dalam Guncangan Bencana”. Buku tersebut menceritakan kehidupan Fauzi Bahar yang lahir di Ikuakoto, Kecamatan Kototangah, Padang pada 16 Agustus 1962.

“Ayahnya bernama Baharudin Amin, lebih dikenal dengan sebutan Wali Bahar. Sebab, semasa agresi antara 1949 – 1951 menjabat sebagai wali nagari di Kototangah. Watak kepemimpinan nampaknya dia terima dari ayahnya. Menjadi wali nagari di zaman agresi, zaman yang amat sulit, bukanlah pekerjaan yang mudah,” ujar Kabid Humas, Richardi Akbar, kepada wartawan, kemarin.

Ibunya Nurjanah Umar, tamatan Diniyah Putri Padangpanjang, seorang guru yang juga aktivis Muhammadiyah.

“Darah” ibundanya yang Muhammadiyah ini pulalah menanamkan dasar agama yang baik bagi Fauzi dalam membuat kebijakan bernuansa religi.

Misalnya mewajibkan kaum muslimah, terutama para pelajar memakai jilbab, anak-anak menghafal Asmaul Husna serta Pesantren Ramadhan, wajib zakat dan menghafal Juz Ama.

Kedua orangtuanya kini sudah tiada. Ibunya yang lahir 1925, meninggal tanggal 30 Maret 1996. Jangan membayangkan, sebagai seorang anak yang ayahnya pernah menjabat wali nagari, maka dia dan saudara-saudaranya akan hidup senang di masa itu. Di masa kanak-kanak, sehari-hari ayahnya bekerja sebagai petani dengan penghasilan pas-pasan.

Pada buku yang ditulis Makmur Hendrik, Khairul Jasmi dan kawan-kawan, itu juga diceritakan, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, anak laki-lakinya mulai dari Taufik Bahar, Fakhri Bahar, Fauzi Bahar hingga Fadli, diharuskan berjualan sayur-mayur. Karena masih kecil, Fahmi belum diikutsertakan.

Kangkung dijual di Ikuakoto dan sekitarnya, sedangkan bingkuang dijual di Pasar Raya. Kangkung dijual Rp 5 per ikat. Mereka membawa 100 ikat-150 ikat setiap hari. Rata-rata bisa terjual Rp 500 sehari. “Uang hasil penjualan sayur-mayur itulah yang membantu biaya sekolah kami,” kenang Khalida Hanum tentang sekelumit keluarga Fauzi Bahar, yang kini jadi guru MTsN kakak tertua Fauzi Bahar. (ek)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA