Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Perang Bahasa Semakin Membara


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-02-14 16:48:00 WIB    Dibaca : 78 kali

 

Edomi Saputra, M.A- Dosen IAIN Bukitinggi

Keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan ada pada kemampuan berbahasa. Bahasa memegang peran krusial dalam kehidupan manusia. Betapa sulitnya mengungkapkan sesuatu tanpa bahasa. Tanpa kemampuan berbahasa, manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab jika bahasa tidak ada maka hilanglah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya ke generasi selanjutnya. Tanpa bahasa manusia tak berbeda dengan hewan. Mereka sama-sama tidak bisa mengkomunikasikan pengetahuannya kepada yang lain.

Kemampuan berbahasa mempengaruhi cakrawala berpikir seseorang. Semakin canggih bahasa yang digunakan seseorang maka semakin maju pula tingkat pemikirannya. Bahasa kalangan terpelajar berbeda jauh dengan bahasa kaum awam. Demikian pula cara berpikir mereka. Orang yang menguasai banyak bahasa akan memiliki sudut pandang yang luas. Wittgenstein, seorang filsuf terkemuka, mengatakan, batas bahasaku adalah batas duniaku.

Ada banyak bahasa di dunia ini. Masing-masing bangsa punya bahasa sendiri-sendiri. Tiap-tiap bangsa berupaya untuk memperkenalkan bahasanya kepada mitra dialognya. Bahasa yang sering digunakan atau yang paling banyak komunitas penggunanya akan bertahan. Sementara bahasa yang sedikit penggunanya terancam hilang ditelan zaman. Inilah yang dikatakan dengan “Perang Bahasa”. Hukum perang menandaskan siapa yang kuat dialah pemenangnya, yang lemah mesti mengibarkan bendera putih. Hal yang sama juga berlaku dalam perang bahasa.

Dewasa ini bahasa Inggris telah menjadi salah satu bahasa yang paling berpengaruh di dunia. Bahasa Inggris berkuasa di Amerika Serikat, Kanada, Australia dan di beberapa negara lainnya. Bahasa Inggris juga telah melebarkan sayapnya sampai ke Indonesia. Namun, bangsa Indonesia cukup beruntung punya pertahanan bahasa yang kuat yaitu bahasa Indonesia. Walaupun bahasa Indonesia belum setenar bahasa Inggris, akan tetapi bahasa tersebut dipastikan akan bertahan selagi Indonesia masih berdaulat, jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia sebagai garansinya.

Indonesia selain memiliki bahasa persatuan, juga memiliki bahasa daerah yang cukup banyak dan variatif. Beberapa bahasa daerah ada yang sedang “sekarat” karena penggunanya tidak lebih dari puluhan orang. Ada pula yang sudah hilang karena tidak ada lagi penggunanya. Bahasa daerah punya musuh yang banyak. Bahasa Indonesia tampil sebagai musuh utama bahasa daerah.

Kemudian beberapa bahasa asing juga mendapatkan momentum untuk menjarah bahasa daerah seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Mandarin dan bahasa-bahasa lainnya yang diajarkan di sekolah, perguruan tinggi atau pun tempat-tempat kursus. Di samping itu, satu bahasa daerah harus pula bersaing dengan bahasa-bahasa daerah lainnya.

Perang bahasa terjadi di mana-mana. Dalam satu hari saja, kita mendengar ribuan kata dari rumpun bahasa yang berbeda-beda diucapkan oleh berbagai kalangan. Kata-kata seperti mas (Jawa), abang (Palembang), uda (Minang), kakak (Indonesia), bro (singkatan brother, Inggris), akhi (Arab), biasa kita dengar pengucapannya pada tempat yang sama oleh orang berbeda. Kata-kata ini akan saling kalah mengalahkan. Kata-kata yang konsisten dipertahankan oleh penggunanya, akan bertahan. Namun, jika mereka lebih suka menggunakan kata bahasa lain ketimbang kata dalam bahasa daerah mereka sendiri, maka kata dalam bahasa daerah mereka tersebut akan hilang dengan sendirinya. Hal ini dapat ditemukan di mana saja, misalnya orang Minang yang seyogyanya menggunakan kata uda, tapi malah menggunakan kata abang. Ini mengindikasikan bahasa Minang telah dikalahkan oleh bahasa Palembang. Seharusnya ia teguh menggunakan bahasa ibunya. Kalaupun kebetulan lawan bicaranya adalah orang di luar Sumatera Barat, penggunaan kata uda, juga bukan suatu dosa. Sama halnya dengan orang Jawa yang memanggil lawan bicaranya dengan sebutan mas atau mbak, tanpa memperhatikan apakah orang tersebut berasal dari Jawa atau bukan. Setidaknya ia telah berupaya untuk memperkenalkan salah satu kosa kata bahasa daerahnya kepada orang lain.

Dalam menyikapi perang bahasa, posisi bahasa daerah perlu dipertahankan, agar generasi selanjutnya tidak kehilangan jati diri sebagai putra-putri daerah setempat. Mereka mesti menghayati kandungan bahasa daerah mereka, sebab setiap bahasa punya muatan perasaan (emotif), sikap (afektif), penalaran/pemikiran (kognitif) yang khas. Walaupun bahasa yang satu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain, akan tetapi terjemahan tidak akan pernah sama dengan yang aslinya. Di sinilah kita dapat memahami mengapa ada cerita lucu dalam salah satu bahasa daerah, ketika diterjemahkan ke dalam bahasa daerah lain malah jadi tawar, atau paling tidak tingkat lucunya menjadi sedikit berkurang. Oleh karena, tidak ada suatu bahasa yang dapat menggantikan bahasa lainnya secara utuh, maka bahasa daerah perlu dilestarikan.

Dalam melestarikan bahasa daerah, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh. Di antaranya; pertama, selalu menggunakannya, terutama saat bercengkerama dengan orang yang satu daerah. Jangan sampai berkomunikasi dengan orang satu kampung, malah menggunakan bahasa daerah lain. Kalau bukan kita yang menggunakan bahasa daerah kita sendiri, siapa lagi yang mau mengucapkannya. Tidak perlu merasa rendah diri atau merasa kuno bila berbicara dalam bahasa daerah sendiri, sebab semua bahasa mempunyai posisi yang sama. Jika anda menemukan satu bahasa lebih unggul dari bahasa yang lainnya, itu dikarenakan penggunannya telah menumbuhkembangkannya. Kedua, menjadikan bahasa daerah sebagai sebuah disiplin ilmu atau mata pelajaran muatan lokal, baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Tiap-tiap bahasa daerah mesti punya pakar yang menggelutinya baik pada tingkat sarjana, magister, doktor, dan bahkan profesor. Mereka inilah yang akan menumbuhkembangkan bahasa daerah secara ilmiah.

Ketiga, menyusun kamus bahasa daerah dengan memperhatikan kosa kata serapan dari berbagai bahasa yang ada. Banyaknya penggunaan kata asing, menjadikan bahasa daerah tidak murni lagi. Sedangkan menolak kosa kata baru berarti menghambat perkembangan bahasa daerah itu sendiri. Bahasa daerah tersebut menjadi miskin akan kosa kata. Selain itu, ada banyak kosa kata yang tidak ada padanannya dalam satu bahasa daerah. Kata-kata dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan tidak akan dijumpai padanannya dalam bahasa daerah. Oleh karena itu, untuk memperkaya perbendaharaan kosa kata bahasa daerah, kosa kata baru dari berbagai bahasa harus diserap sebagai kosa kata daerah sendiri. Perlu diingat, penyerapan kosa kata baru dilakukan selagi kata yang sama tidak ada padanannya di dalam bahasa daerah itu sendiri.

Di samping itu, dalam pengembangan suatu bahasa haruslah memperhatikan dua fungsi utama bahasa. Yakni pertama, sebagai sarana komunikasi antar manusia. Bahasa merupakan simbol bagi manusia untuk menyampaikan maksudnya. Simbol tersebut mencakup aspek perasaan (emotif), sikap (apektif), dan penalaran/pikiran (kognitif). Kedua, sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang menggunakan bahasa tersebut. Bahasa bersifat arbiter (mana suka). Jadi, simbol apapun yang mau digunakan tidak masalah asalkan disepakati minimal oleh dua orang. Fungsi yang pertama disebut sebagai fungsi komunikatif dan fungsi yang kedua sebagai fungsi integratif. Kedua fungsi ini diperlukan agar terjadi keseimbangan yang saling menopang dalam pertumbuhan suatu bahasa. Semoga dengan bertumbuhkembangnya bahasa daerah dapat melahirkan generasi yang tidak tercabut dari akarnya. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co