Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Hati-hati Devide et Impera


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-02-14 16:48:00 WIB    Dibaca : 49 kali

 


Melihat fenomena yang berkembang di tengah masyarakat beberapa waktu terakhir ini, mulai muncul rasa was-was bahwa secara tidak sadar kita bangsa Indonesia sedang diadu domba. Entah siapa perancang ulungnya. Namun beberapa peristiwa yang terjadi, sangat rawan terhadap konflik SARA.

Fenomena orang gila yang membawa senjata mematikan dan menjadikan ulama sebagai incarannya, ramai dan menjadi viral perbincangan baik di media massa maupun media sosial. Korban pun sudah berjatuhan, baik yang luka maupun yang meninggal dunia. Dalam satu pekan lalu telah terjadi penganiayaan terhadap dua orang tokoh Islam Jawa Barat. Setelah menimpa Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah, Kiai Umar Basri, terjadi lagi peritiwa yang menimpa Komandan Brigade PP Persis Ustaz Prawoto dianiaya usai Shalat Subuh.

Setelah menimpa ulama umat Islam, kejadian dengan modus incaran para tokoh agama kembali terjadi. Kini korbannya adalah Pastor Karl Edmuns Prier yang sedang memimpin misa.

Keresahan dan paranoia kembali menghantui masyarakat. Di beberapa pesantren, beberapa orang gila yang terlihat mencurigakan mondar-mandir ditangkap para santri dan warga. Para orang gila ini ditangkap saat Subuh karena beberapa kejadian penganiayaan ulama selalu terjadi usai Shalat Subuh. Dan ini kemudian menjadi pertanyaan dan keanehan tersendiri bagi umat Islam.

Kita sebagai bangsa tentu tidak ingin ada konflik antar umat beragama dan antar etnis terjadi di negeri tercinta ini. Selama ini, kehidupan di bumi pertiwi ini sudah aman tanpa ada konflik yang sangat mengkhawatirkan seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Perdamaian sudah menjadi kesepakatan bersama dan masyarakat di tempat yang dulu menjadi arena konflik. Kini sudah aman dan tenang. Namun nampaknya ada beberapa pihak yang tidak ingin Indonesia ini aman dan damai.

Hati-hati politik pecah belah (devide et impera). Indonesia ini adalah bangsa yang besar dengan berbagai macam ragam suku, bahasa, adat istiadat dan agama. Semua saling menghormati satu sama lain. Kata Bhinekka Tunggal Ika sudah mendarah daging di dalam tubuh nenek moyang hingga kita sekarang ini.

Kita tentu tidak ingin negara ini pecah seperti negara-negara Balkan akibat konflik Sara. Sejarah kehancuran bangsa-bangsa tersebut akibat konflik agama harus menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk bisa lebih mawas diri dan waspada sehingga tidak terjadi di negara kita tercinta ini. Waspada haruslah selalu kita tanamkan dalam diri terhadap agitasi-agitasi yang terjadi saat ini. Sebab jika kita terpancing maka umpan yang mereka serakkan, berarti mereka telah berhasil dan kita tentu harus siap-siap menanggung dampak buruknya. Mari tanamkan kewaspadaan diri kita dan jangan cepat percaya berita yang tidak jelas serta agitasi yang membuat kita saling berantuk antar saudara kita sebangsa ini. Kita ini bangsa yang besar dan hebat jika bersatu. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co