Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Porto vs Liverpool: Dihantui Magis Portugis


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-02-14 16:02:00 WIB    Dibaca : 48 kali

 


Juergen Klopp tidak perlu jauh-jauh seperti Liverpool yang kembali dari Do Dragao tanpa kemenangan. Faktanya, Kloppo sepanjang karirnya melatih belum sekalipun pernah main melawan klub-klub dari Portugal, apalagi main di Do Dragao, markas Porto. Meski begitu, para pelatih Portugis yang selalu sukses mengecewakannya.

Jose Mourinho, Marco Silva dan Carlos Carvalhal barisan Portugis yang sudah membuat Klopp tak mampu memberi kemenangan bagi The Reds. Nah, apa yang terjadi jika Klopp diadu dengan pelatih Portugis lainnya seperti Sergio Conceicao? Itu yang akan terjawab ketika Klopp merasakan Do Dragao untuk kali pertama, dini hari nanti WIB (siaran langsung beIN Sports 2 pukul 02.45 WIB). Tepatnya pada leg pertama Babak 16 Besar Liga Champions.

”Itu (tren buruk melawan pelatih-pelatih berkebangsaan Portugal) takkan saya pikirkan,” koar Klopp, seperti dikutip Mais Futebol. Klopp, kali terakhir mampu memenangi adu taktik di laga kompetitif melawan pelatih Portugis itu pada 31 Oktober 2015. Kala itu, dia masih ”anak” baru di Liverpool, dan mengalahkan Mourinho yang masih di Chelsea 1-3.

Setelah itu dewi fortuna tak pernah berpihak pada Klopp. Enam head to head berikutnya melawan pelatih-pelatih Portugis, Klopp yang selama berkarir di Liga Champions baru berhasil mencatatkan 47,6 persentase menang itu lebih sering tertahan. Empat kali imbang. Marco Silva dan Carlos Carvalhal jadi duo Portugis yang sukses adu taktik dengannya.

Silva bersama Hull City musim lalu, dan Carvalhal baru dua pekan lalu mempecundangi Klopp di Liberty, kandang Swansea. Susahnya Klopp membekuk klub-klub yang diasuh pelatih berkebangsaan Portugal itu segaris dengan tren kurang bagus Liverpool ketika berkunjung ke Do Dragao.

Dua kali datang, dua kali imbang, dan terakhir terjadi pada satu dekade silam dalam fase grup Liga Champions 2007-2008. Gelandang Liverpool Georginio Wijnaldum menganggap, ini bisa jadi momen pembuktian bagi Klopp dan Jordan Henderson dan kawan-kawan. ”Leg pertama sangat vital, dan itu tak boleh kami lewatkan,” sebut Gini, dikutip situs resmi klub.

Apalagi selama main di Liga Champions satu dekade terakhir, Liverpool tak mengakrabi kemenangan. Dari 16 kali lawatan di Liga Champions cuma enam di antaranya yang dimenangi klub juara edisi 2004-2005 itu. Dengan bekal agresivitas terbaik kedua di Premier League, Gini percaya diri bisa mengubah nasib di Do Dragao.

Sebiji gol tandang pun akan bermanfaat bagi Liverpool yang sudah merindukan bermain di fase knockout Liga Champions itu. ”Itu akan sangat menentukan berapa gol yang dapat Anda catatkan pada laga kandang,” sebutnya. Statistik pada fase grup, dari 23 golnya, 11 di antaranya didapat pada laga tandang.

Artinya, baik pada laga kandang atau tandang Liverpool sama-sama berbahayanya. ”Tapi kami akan coba mencetak gol sebanyak-banyaknya di sana. Meski itu bukan jadi garansi (untuk lolos), tapi kami akan tetap mencobanya,” tambah gelandang berkebangsaan Belanda itu. Sebab itu, Liverpool kini berharap pada agresivitas trio lini depannya.

Antara Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah, nama terakhir yang menjadi top scorer Liverpool musim ini malah belum mampu mencetak sebiji gol pun di Do Dragao. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co