Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Prihatin 4 Karateka Tinggalkan Pelatnas


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-02-14 15:54:00 WIB    Dibaca : 45 kali

 


Empat Pelatih Juga Mundur

Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki) sangat prihatin atas perkembangan mundurnya empat atlet karate dari Pelatnas Asian Games 2018. Kondisi itu membuat persiapaan tim pelatnas karate menjadi kurang kondusif jelang multieven terbesar di Asia tersebut.

Sekretaris Jendral PB Forki Lumban Sianipar mengatakan keputusan empat atlet yaitu Sisilia Ora (kata perorangan), Srunita Sari Sukatendel (kumite-50 kg), Cok Istri Agung Sanistyarani (kumite -55 kg), Ahmad Zigi Zaresta Yuda (kata perorangan putra) karena tidak mengikuti peraturan yang sudah di keluarkan PB Forki. Apalagi, semuanya sempat menghilang dan dicari untuk meminta penjelasan alasan mereka kabur dari pelatnas. Akhirnya, saat dipertemukan keempat atlet itu memutuskan keluar dari pelatnas dengan alasan yang tidak jelas.

Bukan hanya empat atlet, empat pelatih juga mundur dari pelatnas karena kemauan sendiri tanpa alasan, termasuk Frans Nurseto. Setelah melayangkan surat pengunduran diri, 3 jam kemudian dia justru kembali menelpon Sekjen Forki untuk kembali dimasukan menjadi pelatih. Akan tetapi. Permohonan tersebut sudah terlambat karena sudah dilaporkan ke Ketua Umum PB Forki Gatot Nurmantyo.

”Terkait dengan mundurnya 4 atlet dan 4 pelatih semuanya didasarkan pada keinginan sendiri (pilihan sendiri) dalam arti tidak ada tekanan dan tidak ada masalah di dalam PB Forki. Untuk atlet, dia beralasan tidak mau dilatih oleh pelatih yang di tunjuk oleh PB Forki dan merasa nyaman jika dilatih oleh pelatih pelatnas yang lama,” ungkap Lumban Sianipar di kantor PB Forki, Jakarta, kemarin.

Selain itu, Lumban juga mengatakan bahwa keempat atlet itu mengaku keberatan jika diseleksi kembali selama di pelatnas yang akan dilakukan dua kali. Bahkan, mereka hanya ingin pelatnas di lakukan di Belleza (tempat pelatnas yang sebelumnya). Padahal, PB Forki telah menyusun 1 program pelatnas yang di mulai terhitung 4 Februari lalu, seperti latihan fisik, pemeriksaan psikologus, pemeriksaan kesehatan, dan latihan teknis.

Mengingat penting dan strategisnya Asian Games untuk Indonesia, maka PB Forki melaksanakan program pelatnas meskipun dukungan dari pemerintah belum turun. Tapi, kondisi pelatnas PB Forki pada umumnya berjalan lancar, dan atlet sangat memiliki semangat yang tinggi karena mereka merasa baru kali ini mendapatkan kompetisi secara sehat. Oleh sebab itu, Lumban berserta pengurus lain merasa yakin tim ini akan menyumbangkan hasil terbaik untuk Indonesia.

Saat ini, tim pelatnas Karate ada 28 atlet yang diproyeksikan untuk tampil di Asian Games 2018. Nantinya, atlet pelatnas akan dilakukan seleksi sebanyak dua kali untuk membentu tim inti Karate Asian Games 2018 pada akhir Maret (150 %), dan Mei (100%). Begitu juga dengan pelatih yang diisi delapan orang. Pada akhir Februari, akan menjadi empat pelatih dan Mei akan di ambil 3 orang pelatih untuk tim inti pasukan karate di event tersebut.

Di tempat terpisah, empat karateka tersebut mengadu ke Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Mereka berharap semuanya bisa secepatnya kembali ke pelatnas Karate. Bahkan, keeempatnya pun meminta agar berita negatif yang menyebutkan mereka kabur dari pelatnas karena menolak pelatih baru yang ditunjuk Pengurus Forki, serta takut tidak lolos seleksi tidak lagi dimunculkan.

Menurut Sisilia Ora, salah satu karateka yang dicoet, mengaku bukan takut kalah bersaing dari seleksi. Tapi, dia hanya menolak menolak ikut pelatnas persiapan Premiere League di Paris, 26-27 Januari lalu. Karena permintaannya agar pelatih yang telah dua tahun menanganinya diikutkan. Namun, keputusan itu sangat bertolak belakang dengan kebijakan yang dilakukan PB Forki. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co