Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Cimpago, Riwayatmu...


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-02-13 15:18:00 WIB    Dibaca : 53 kali

 

Fauzi Bahar - Wali Kota Padang 2004-2014


Kunjungan kerja Presiden Jokowi selama tiga hari di Sumbar, akan dicatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Begitu juga dengan apa saja yang sudah menjadi komitmen Presiden untuk memajukan Sumbar. Bagi saya pribadi, kunjungan RI-1 kali ini terasa amat spesial. Ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri yang sulit saya lukiskan. Dan, saya pikir masing-masing kita tentu punya kesan sendiri-sendiri tentang helat tiga hari peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tersebut.

Kesan mendalam yang tak bisa saya surukkan adalah pelaksanaan puncak peringatan HPN yang dipusatkan di kawasan Danau Cimpago dan Muaro Lasak Pantai Padang. Di sana Presiden Jokowi, para menteri, duta besar negara asing, kepala daerah, tokoh pers, masyarakat pers, dan tokoh masyarakat berbaur melahirkan komitmen-komitmen untuk kemajuan bangsa ini. Tentu bagi kemajuan Sumbar juga. Pasti! Sungguh, saya terharu…

Ingatan saya langsung melayang, kembali ke tahun 2004 silam. Sudah lama berlalu, tapi bagi saya masih terang benderang apa yang terjadi mulai tahun itu. Ketika itu, saya baru memulai langkah sebagai Wali Kota Padang bersama Wakil Wali Kota Yusman Kasim. Saya menyaksikan ada embung yang dipenuhi sampah di kawasan Pantai Padang.

Namun, waktu itu tak bisa disentuh. Jalan menuju embung kecil penebar bau busuk itu dijejeri rumah-rumah warga. Saya berpikir, warga yang tinggal di sana mesti pindah, karena tinggal di kawasan sekitar itu pasti akan buruk bagi kesehatan mereka. Tentunya, juga tak baik bagi penataan Kota Padang secara keseluruhan, khususnya Pantai Padang.

Di awal pengabdian saya yang 10 tahun, telah dibangun komitmen bahwa kawasan itu harus ditata sebagai bagian dari penataan Pantai Padang secara keseluruhan. Maka, singkat cerita saya langsung datangi warga untuk menyampaikan niat saya. Tak mudah memang. Sekuat warga bertahan, sekuat itu pula saya memberi pengertian. Tiap subuh, saya datangi warga itu satu demi satu ke rumahnya. Lalu, sekelompok demi sekelompok saya undang mereka ke kediaman wali kota. Berulang-ulang, dan terus-menerus. Alhamdulillah, semua warga akhirnya berkomitmen untuk pindah dengan imbalan ganti rugi.

Jalan ke embung itu kemudian dibebaskan, dan atas bantuan dana dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar, dikeruklah embung, ditata, dan dibangun lagi. Jadilah embung itu mirip danau kecil, seperti sekarang. Namun, itu saja belum cukup. Sebab di kawasan sekitarnya masih banyak tempat-tempat seperti tenda-tenda yang dulu dikenal sebagai tempat maksiat.
Oleh sebab itu, saya sebagai wali kota senantiasa mengarahkan kegiatan di sana. Tiap pekan, selalu saja ada acara pemerintah yang dibuat di kawasan tersebut. Bersamaan dengan itu, kami bersama PSDA Sumbar juga merekayasa aliran muara -yang sekarang dikenal dengan Pantai Muaro Lasak- agar terbentuk pantai baru. Berkat rekayasa teknologi itulah kemudian, timbunan yang tidak terlalu besar perlahan-lahan membentuk tanjung kecil.

Namun, persoalan tak berhenti. Warga justru memanfaatkan pantai itu sebagai tempat arena sabung ayam. Tantangan baru lagi, semangat baru lagi. Saya terus jalan memberi pengertian, dan membuat kegiatan-kegiatan di sana. Perlahan, tak terlalu lama kawasan itu bisa ditata. Sekitar tahun 2006, muncul ide dari pikiran saya. Saya lalu menyampaikan ide itu ke (Almarhum) Panji Alam, yang waktu itu adalah tokoh masyarakat Purus sekaligus Wakil Ketua DPRD Padang. Kami sepakat, kawasan itu menjadi “titik kumpul”, sehingga mesti diberi nama, sekaligus branding baru. Kawasan yang dulu busuk karena sampah yang menumpuk, akan diberi nama yang “harum”, yang “wangi” sesuai kondisi terkini. Maka, muncul sejumlah nama bunga untuk sebutan kawasan itu kelak. Dari sejumlah pilihan, akhirnya dipilihlah nama “Cimpago”, bunga khas yang bearoma wangi. Dulu busuk sekarang harum! Begitu image yang ingin dibangun!

Walau begitu, bicara tentang Pantai Padang, khususnya Danau Cimpago dan Muaro Lasak, saya sebetulnya juga hanya sebagai pelanjut. Penataan kawasan itu jauh sebelumnya juga sudah dimulai Wali Kota Padang Zuiyen Rais. Atas dukungan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang dan Permukiman (sekarang Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat/PUPR) Hediyanto, telah mulai dibangun jembatan Muaro Lasak dan jalan awal. Termasuk kemudian dibangun “sunset road” (batu yang menjorok) ke laut, yang hingga saat ini menjadi tempat favorit pengunjung Pantai Padang menikmati panorama laut.

Tahun 2012 saya menyurati Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), memohon agar kegiatan yang melibatkan Angkatan Laut (AL) juga diadakan di Padang. Alhamdulillah, permohonan saya dikabulkan, meski pelaksanaan kegiatan internasional yang dikenal dengan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) atau Sail Komodo baru diadakan tahun 2016, setelah saya tak lagi menjabat wali kota. Pada momentum inilah, kawasan Pantai Padang bisa dibersihkan dari tenda-tenda dan bangunan-bangunan liar secara menyeluruh. Pantai Padang pun rapi.

Syahdan, tahun berganti, tepat pada 9 Februari lalu, di kawasan itu ada panggung besar yang megah menjadi pusat perhatian seluruh Indonesia, juga dunia. Di panggung itu Presiden Jokowi berdiri. Di atas tanah, kawasan Danau Cimpago dan Muaro Lasak. Saya terpaku sejenak, saya mengucap syukur berulang-ulang. Kerja keras yang menguras tenaga, pikiran dan dana, dari pemimpin ke pemimpin berikutnya, telah menjadi legacy.

Saya percaya, apapun yang dimulai dengan niat baik, dikerjakan dengan sepenuh hati akan berbuah baik. Tak mungkin padi ditanam ilalang yang tumbuh. Dan, apa yang kita tanam itulah yang kita tuai! Kini, dan pada hari-hari ke depan Danau Cimpago dan Muaro Lasak akan makin harum. Akan menjadi pusat perhatian, salah satu tujuan kunjungan wisata yang bersejarah. Dan, maknanya bagi saya tentu lebih dalam, yakni sebagai bagian sejarah hidup saya, pengabdian saya untuk Kota Padang.

Melalui tulisan pendek ini, saya hanya ingin berpesan singkat pula. Bahwa segala sesuatunya tak pernah terjadi tiba-tiba. Ada proses yang mengawali, ada effort yang kuat sebelumnya, ada pengorbanan di dalamnya. Ada hulunya sebelum sampai ke hilir. Yang terdahulu tak bisa diubah, ia hanya butuh pengakuan. Filsuf Friedrich Oetinger mengatakan Tuhan memberikan kekuatan untuk menerima yang tidak bisa kita ubah. Keberanian untuk mengubah yang memungkinkan. Dan, kebijaksanaan untuk memahami perbedaan keduanya.

Semua perubahan yang terjadi adalah buah dari keberanian. Namun, ini tentu tak membuat kita bertepuk dada apalagi jemawa. Masih banyak yang bisa dilakukan, masih panjang waktu untuk terus melompat lebih tinggi. Bagi masyarakat Padang, selamat, kita punya Danau Cimpago, Muaro Lasak, juga objek-objek wisata lainnya.

Kini, kawasan Pantai Padang yang kita banggakan dan menjadi andalan wisata Kota Padang makin cantik, di tangan Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah bersama Wakil Wali Kota Emzalmi. Pada akhirnya, saya mengajak semua kita untuk menjaga aset berharga ini. Menjaga kebersihannya, dan terus memperindahnya. Kita punya sejarah, kita punya semangat! Selamat untuk Kota Padang, untuk masyarakatnya. Setiap zaman ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada karyanya. (*)

© 2014 - 2018 Padek.co