Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Jangan Jadikan Masjid Mimbar Politik


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-02-13 15:01:00 WIB    Dibaca : 35 kali

 


Pengurus tak Boleh Terhasut Kepentingan Golongan

Sejumlah pengurus masjid di Padang angkat bicara mengingat bakal memanasnya suhu politik menjelang Pilkada Serentak 2018. Bahkan, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI telah merancang materi khutbah gar tak memicu pro dan kontra. Pengurus masjid menegaskan, tanpa rancangan khutbah sekalipun, pihaknya sudah mewanti-wanti agar masjid tidak digunakan sebagai tempat kampanye.

Pengurus Masjid Jabal Nur di Seberangpadang, Kecamatan Padang Selatan, Yonisman mengatakan, sebelum khutbah atau berceramah, khatib diingatkan agar tak menyinggung soal pilkada. “Kami tanya apa tema yang akan disampaikan. Jika merujuk kepada kepentingan pribadi, bukan umat, maka kami batalkan langsung,” ungkapnya saat ditanya Padang Ekspres, kemarin (12/2).

Yonisman mengaku, pihaknya tidak ingin masjid dijadikan tempat untuk meraih hati jamaah agar mendukung salah satu calon.
Menurutnya, menyeleksi penceramah atau khatib merupakan bagian dari tugas pokok para pengurus. Selama tiga tahun menjabat sebagai pengurus masjid, jika ada kelompok-kelompok yang berceramah atau menginap di masjidnya, selalu ditanya tujuan dan keinginannya.

“Tentu saja ada komunitas yang saya curigai. Tapi setelah saya lihat aktivitas dan pemberian ceramahnya, masih dalam batasan, saya tak komplain,” jelas pensiunan tata usaha RRI tersebut.

Sekretariat Mushala Tarbiyatul Ihsan Koto, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Andik Arman mengatakan, sebagai sekretaris mushala yang terbilang muda, ditambah lagi lulusan IAIN, dirinya sangat paham sekali tabiat para penceramah. Setiap ada acara besar dirinya akan mengundang seorang penceramah kenalannya. “Saya benar-benar paham karakter kepribadiannya, itu yang saya hadirkan untuk berceramah. Bisa dikatakan terkontrol isi ceramahnya,” jelasnya.

Ia mengatakan, saat ini sedang panas-panasnya suhu politik. Sehingga pihaknya mengantisipasi sekali untuk mengundang alim ulama yang punya kelompok politik bahkan partai. “Saya tak punya partai, saya netral. Jadi kalau ada seorang buya yang akan berceramah dan dia anggota partai, tentu saja pihak kami akan mengingatkan jangan sampai menjurus ke hal-hal politik,” pungkasnya.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatera Barat, Yulius Said menegaskan, jangan sampai masjid dijadikan sebagai ajang berpolitik. “Masjid termasuk sarana keagamaan yang tak boleh dipakai lain-lain. Kecuali untuk keagamaan. Intinya kepentingan umat,” ungkapnya.

Ia memaparkan, jangan sampai masyarakat mengenal masjid milik salah satu calon. Masjid milik umat dan untuk kepentingan umat. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co