Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Perlu Komitmen Politik Kawal Hasil Riset Persemenan


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-02-13 13:41:00 WIB    Dibaca : 38 kali

 


Mantan Direktur Utama PT Semen Padang (Persero) Dwi Soetjipto menyatakan, era tahun 1980-an, teknologi industri persemenan di Indonesia sudah lebih canggih dibanding China. Saat itu, pelaku industri semen Indonesia sudah mendeklarasikan kemajuan teknologinya. Caranya memberi penegasan, jika negara lain ingin bangun pabrik semen, belajarlah ke Indonesia.

“Anehnya, sekarang dimunculkan branded baru. Kalau mau bangun pabrik semen di Indonesia, kenapa tidak pakai teknologi semen dari China?” kata Dwi, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (Ika ITS), membuka Focus Group Discussion (FGD), bertema “Perspektif Legislatif terhadap Kondisi Riset Nasional dan Tantangan Hilirisasi Hasil Riset” di Media Center DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (12/2).

Selain itu, selama 30 tahun berkarir di industri persemenan Badan Usaha Milik Negara, mantan Dirut PT Semen Gresik dan PT Semen Indonesia itu menegaskan, semua pabrik semen milik BUMN sudah ada banyak riset terkait inovasi industri semen di Indonesia.

“Saya sudah siapkan banyak riset tentang inovasi industri semen ini. Tapi saat ini, tidak dipakai karena muncul branded baru, kenapa tak pakai produk Tiongkok?” ungkap Dwi.

Dwi mengaku, sudah ada tiga bidang riset teknologi persemenan nasional yang dia nilai penting dan strategis yang sudah dilakukannya sebagai upaya mengantisipasi kemajuan teknologi industri semen di dunia.

“Tapi hasil riset tersebut, tak lagi dipakai untuk kemajuan industri semen dalam negeri. Karena kalau beli teknologi dari luar kan ada “anu-anunya”,” kata mantan Dirut PT Pertamina (Persero) itu.

Selain ada “anu-anunya”, Dwi juga mengungkap ada rasa takut salah dari para pelaku industri semen di Indonesia kalau menggunakan teknologi produknya sendiri.

“Paradigmanya, kalau teknologi diimpor dari Eropa atau Tiongkok, itu sudah yang paling benar. Padahal metodologi risetnya sama karena ini menyangkut keabsahan sebuah penelitian yang harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tegasnya.

Muara dari semua masalah ujarnya, bangsa ini akan selalu menjadi negara yag tergantung dengan negara lain. “Karena itu, diperlukan komitmen politik untuk mengawal berbagai hasil riset agar hasil riset tidak jadi kuburan,” pungkasnya. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co