Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Ayah Tiri dan Ibu Kandung Dibekuk


Wartawan : 0 - Editor : Yogi - 2018-01-14 14:05:00 WIB    Dibaca : 94 kali

 

Polisi Tetapkan Tersangka Perantai Anak 11 Tahun

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Padang akhirnya menangkap ayah tiri dan ibu kandung dari ZH, 11, bocah kaki berantai. Kedua orang tua bocah malang tersebut ditangkap di kediamannya usai memulung barang bekas di Kecamatan Padang Barat, Jumat malam (13/1), sekitar pukul 23.30. Kini keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan merampas kemerdekaan seseorang.

Di ruangan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Padang, ayah tiri ZH berinisial M, 47,  dengan baju berwarna hijau diperiksa oleh petugas. Begitupun ibu kandung korban, N, 30, terlihat pasrah saat diperiksa di ruangan berbeda.

Dari pengakuan N, terungkap ternyata rantai yang digunakan untuk mengikat kaki ZH merupakan rantai kendaraan becak yang digunakan untuk memulung barang bekas. Selain itu, dia mengklaim baru sehari merantai kaki anaknya.

“Kesepakatan berdua Pak (memasang rantai di kaki) agar tidak pergi bermain. Anak saya juga suka pergi ke tempat istri suami saya yang satu lagi, makanya sepakat untuk mengikatnya,” kata N kepada penyidik.

N mengakui, anaknya berhasil kabur setelah mengelabui dengan alasan ke kamar mandi untuk buang air. Makanya, ikatan rantai dilepas dan anaknya tersebut berhasil melarikan diri. Rantai itu biasanya diikatkan juga ke tiang rumah.

“Saya dan suami sempat mencari anak saya yang kabur pada malam itu Pak, tapi tidak ketemu. Selama ini saya tidak pernah menyiksa anak tersebut dengan kabel, cuma merantai kakinya agar tidak kabur dari rumah,” ungkap N.

Sementara, M saat ditanyai wartawan mengatakan ZH memang dipaksa olehnya untuk mengemis di kawasan Simpangharu setiap hari. Namun, ia membantah telah lama merantai kaki ZH, melainkan hanya merantai kakinya pada malam itu saja.

“Saya memang pernah mencambuknya dengan kabel, tapi hanya satu kali pada bagian kakinya. Saya merantai kakinya dengan rantai motor. Uang hasil mengemis itu untuk istri saya, bukan buat saya. Anak kandung saya tidak ada mengemis, cuma dia saja, itupun karena usulan dari istri saya,” ungkapnya.

Kapolresta Padang, Kombes Pol Chairul Aziz mengatakan pihaknya memang sudah menangkap ayah tiri dan ibu kandung dari ZH. Keduanya juga sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ayah tirinya ditahan di Mapolresta Padang dan Ibu kandungnya ditahan di sel tahanan Mapolsek Padang Timur.

“Dari hasil pemeriksaan, ide merantai itu mirisnya dari ibu kandung korban, tapi yang memasang rantai ayah tirinya. Korban setiap hari dibawa oleh ayah tirinya mengemis ke restoran-restoran. Alasannya dirantai, katanya biar si anak tidak lari dari rumah ke tempat ayah kandungnya,” kata Kapolres.

Kombes Pol Chairul Aziz menambahkan dari pengakuan si anak, memang ia kerap mengalami kekerasan dari ayah tirinya dengan cara dicambuk menggunakan kabel. Bahkan korban juga dirantai setiap malam selama satu tahun belakangan.

“Ayah kandung korban sudah membuat laporan polisi terkait kasus ini. Korban juga sudah kita serahkan kepada orang tua angkatnya yaitu mantan istri ayah kandungnya. Terhadap kedua tersangka akan kita kenakan Pasal 333 KUHP tentang perampasan kemerdekaan. Sedangkan untuk eksplotasi dan kekerasan terhadap anak masih kita dalami,” tukasnya.

Terpisah, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra, mengecam tindakan pelaku yang seharusnya menjaga anak tersebut. Pihak kepolisian diminta melakukan hukuman berat karena dilakukan oleh orang terdekat. KPAI juga meminta kepala daerah dalam hal ini Pemko Padang melakukan pemetaan dan langkah konkret terkait rehabilitasi anak tersebut yang tentu saja mengalami trauma dalam.

“KPAI juga meminta pemerintah melakukan upaya deteksi dini berbagai kasus kekerasan anak yang banyak terjadi belakangan ini. Hal ini penting dilakukan agar anak bisa terlindungi secara baik,” ujar Jasra Putra.

Menurutnya, peristiwa yang dialami sang anak merupakan eksploitasi dan tindakan perbudakan zaman barbar yang harus diatasi segera agar tidak terjadi lagi. “Untuk itu,  masyarakat harus peduli terhadap berbagai persoalan anak ini,” imbaunya.

Sebelumnya, eksploitasi anak berujung perantaian ditemukan di Padang. ZH, bocah perempuan berusia 11 tahun, dirantai ayah tirinya karena tak mau mengemis. Kondisi ini berlangsung kurang lebih setahun.

Dari informasi yang dihimpun Padang Ekspres, Jumat (12/1), kondisi ini dipicu akibat perceraian orang tuanya. Awalnya ZH tinggal bersama ayah kandungnya. Lalu dijemput ibu kandungnya.

Sewaktu hidup dengan ayah kandungnya di Kecamatan Kototangah ZH besekolah sampai kelas 3 SD. Setelah tinggal bersama ibu kandungnya, ZH terpaksa putus sekolah. Karena ibunya menikah lagi, ZH hidup bersama ayah tirinya berpforesi sebagai pemulung. Setelah hidup dengan ayah tiri, ia tidak pernah menikmati bangku sekolah lagi.
Mirisnya, ZH dipaksa bekerja sebagai pengemis setiap malam di restoran siap saji di sekitaran Kota Padang. Penghasilan mengemis sekitar Rp 30 ribu, lalu disetor ke ibu tirinya. Pasalnya, ayah tirinya punya empat istri selain ibu ZH.

Jika bocah malang ini tidak pergi meminta-minta, maka ayah tirinya akan menggembok kaki ZH dengan rantai. Rantai itu kemudian dililitkan ke kaki meja di rumah, supaya ZH tidak kabur saat orang tua tirinya pergi memulung. Rantai sepanjang sekitar 50 cm itu akan dibuka setelah orang tua tirinya pulang dari memulung.

Kamis malam (11/1), bocah perempuan memakai gelang warna-warna ini berhasil kabur setelah mengelabui ibu tirinya. Dengan alasan mau buang air kecil, ZH meminta rantai yang terikat di kaki meja dilepaskan. Ia berhasil kabur dari rumah tersebut.

Dalam keadaan kaki terikat rantai, bocah menggunakan rok warna merah jambu itu masuk ke salah satu rumah di kawasan asrama polisi Rimbokaluang, Kelurahan Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat, Kamis (11/1) sekitar pukul 23.00. Ternyata rumah yang dimasukinya adalah rumah Dirreskrimsus Polda Sumbar, Kombes Pol Margiyanta. (e)
© 2014 - 2018 Padek.co