Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Melihat Program Rumah Murah bagi MBR di Sumbar


Wartawan : 0 - Editor : Yogi - 2018-01-14 13:59:00 WIB    Dibaca : 46 kali

 

Dipilih karena lebih Baik dari Mengontrak

Pemerintah gencar mengajak pengembang untuk menyediakan rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Program sejuta rumah yang digembor-gemborkan pemerintah, realisasinya mulai terasa. Tidak hanya di kota-kota besar bahkan daerah-daerah seperti di Sumbar juga sudah mulai berlomba membangun perumahan murah tersebut.

Tak terkecuali Kabupaten Solok, terutama di kawasan dekat dengan pusat pemerintahan kabupaten yakni kawasan Arosuka. Salah satunya, Perumahan Griya Hanshela di Nagari Koto Gadang Guguk, Kecamatan Gunung Talang yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari Kantor Bupati Solok.

Perumahan yang dibangun awal 2017 lalu masih terlihat dalam tahap finishing (penyelesaian akhir). Di mana jalan kompleks masih belum tertata dan ada beberapa tumpukan pasir di pinggir jalan, cat-cat rumah masih dalam keadaan bersih, sepertinya baru selesai pengecatan. Begitu juga dengan atap rumah, semuanya satu warna, tipe rumah 36 berjajar rapi. Tiap-tiap gangnya tertata, lebih dari 100 rumah baru selesai dibangun sudah siap untuk ditempati. Bahkan lebih dari setengahnya sudah berpenghuni.

Lainnya ada yang masih dalam tahap penyelesaian baik itu penambahan dapur dan pengecoran halaman. Informasi dirangkum Padang Ekspres, biaya untuk mendapatkan rumah tipe 36 ini adalah Rp 135 juta jika mendaftar pada tahun 2018 ini dengan Down Payment (DP) sebesar 5 persen, dan angsuran Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. Saat ini seluruh unit rumah sudah ada pemesannya, dan beberapa di antaranya sudah ditempati.

Sophia Indria, 27, salah satu pemilik rumah di kawasan tersebut mengaku sudah mendaftar sejak awal, sebelum proyek pembangunan dilakukan. Waktu itu harga rumah masih di bawah Rp 130 juta, dan persyaratannya antara lain Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), KTP dan lainnya.

“Kita juga mendapat bantuan dari Bapertarum-PNS sebesar Rp 5,8 juta. Sehingga uang muka terasa lebih ringan. Daripada harus buang-buang uang untuk mengontrak rumah orang, lebih baik membayar angsuran rumah sendiri,” katanya kepada Padang Ekspres, Kamis (11/1).

Sebelumnya ia mengontrak sebuah rumah di kawasan Kota Solok, dengan biaya Rp 600 ribu per bulannya. Ditambah lagi suaminya bekerja di Arosuka, Kabupaten Solok yang jauh jaraknya dari Kota Solok. Itulah salah satu alasannya untuk mengambil rumah murah tersebut.

“Bedanya, dulu kita membayar rumah orang, sekarang kita melunasi rumah sendiri. Lagi pula kita memilih rumah tidak mengacu pada harga saja, tetapi jarak tempat kerja suami juga berpengaruh,” tambahnya.

Hadiansyah, 35, menyebut, selain harga, pendukung kehidupan lainnya juga menjadi atribut penting dalam memilih rumah dibeli, seperti kelancaran air, suasana, dan jarak dari tempat kerja. Tidak hanya itu, kualitas bangunan juga menjadi pertimbangannya.

“Selama ini, yang saya dengar setiap kompleks perumahan sulit persediaan air bersih. Karena setelah dua bulan saya di sini, air sangat lancar,” katanya.
Penghuni lainnya, Hendri Putra, 33 menilai kualitas bangunan baik. Ia merasa puas dengan rumah yang ia tempati sekarang. Ditambah faktor lainnya seperti air bersih dan lokasinya pun tidak sulit untuk mengaksesnya karena cukup dekat dengan jalan lintas Solok-Padang.

Masyarakat berpenghasilan rendah di Kota Solok juga mendapatkan kesempatan untuk memiliki rumah sendiri. Seperti halnya salah seorang penghuni Kompleks Perum Bukit Griya I, Lenny,33. Dia mengatakan dengan adanya program rumah bersubsidi ini ia merasa terbantu. Katanya, cicilan di perumahan ini juga bermacam- macam.

“Tergantung dalam jangka berapa tahun kitanya sanggup melakukan pembayaran. Kalau saya mengambil cicilan per bulannya Rp 835.000, dengan DP Rp 10 juta. Saat itu saya memang sudah menabung jauh- jauh hari supaya nantinya saya dapat cicilannya lebih kecil lagi,” katanya.

Ia telah menghuni rumah di kompleks ini sejak Februari tahun 2017. Rumah dengan tipe 36, yang luasnya 108 meter persegi, telah membuat ia dan keluarga kecilnya merasa nyaman. “Untuk rumah bersubsidi ini, berbeda- beda ukurannya. Ada dari ukuran lahannya sekitar 105 meter persegi hingga 120 meter persegi,” katanya seraya mengatakan segi fasilitas rumahnya, sudah cukup bagus. Ada dua kamar tidur, ruang tamu, dan dapur.

Hal senada juga diungkapkan salah seorang penghuni Perumahan Griya Batu Palano, Sawahsianik, Kota Solok, Fitri, 35. Dia lebih memilih menyicil perumahan dibanding mengontrak, karena mengingat biaya cicilan murah. Yakni sekitar Rp 1 juta per bulan.

“Saya memang memilih rumah bersubsidi karena cicilannya yang murah. Jika saya dan suami bisa melunasinya, maka secara otomatis rumah ini akan menjadi milik kami,” katanya.

Kekurangan yang dirasakannya, jalan menuju ke perumahan ini masih kurang mendukung dan belum di aspal. Begitu juga dengan pengakuan penghuni komplek perumahan Bukit Griya I, Rinanda, 33.”Cicilan saya Rp 895.000 per bulannya,” kata pedagang kain di Pasar Raya Solok ini.

Di Solok Selatan, geliat rumah murah ini juga nampak. Catatan Padang Ekspres, awal pengembangan pada tahun 2010 lalu dan menjamur di tahun 2013 hingga sekarang. Salah satu perumahan di Kompleks Sungai Lambai Permai. “Harga terjangkau dan prosedur mudah,” ungkap Afli Zarlih,32.
Dia memilih mengambil perumahan murah bersubsidi di kompleks ini karena hanya DP Rp 5 juta dan administrasi Rp 1 juta sudah bisa menempati rumah tipe 36 itu. Dengan angsuran per bulan Rp 486 ribu.

“Di kompleks perumahan saya ini lebih dominan guru, tenaga kesehatan dan pegawai pemkab,” kata pria yang akrab disapa Makyo itu. Warga perumahan lainnya, Hendri Anto, 34, mengaku adanya pengembang yang menyediakan rumah murah, dapat membantu kalangan menengah mendapatkan tempat tinggal.

“Di perumnas ini kita hanya bayar DP Rp 1,2 juta dan angsuran per bulan Rp 800 ribu. Biasanya ngontrak harus keluarkan biaya Rp 5 juta hingga Rp 7 jutaan per tahun,” katanya.

Sementara, Rifki Wahyudi, 37, yang tinggal di Perumahan Asri Pekonina mengaku mendapatkan perumahan di sana tanpa DP. Dengan angsuran per bulan Rp 650 ribu selama 20 tahun dengan model rumah tipe 36.

Tipe 36 itu, ada ruangan tamu kecil, dan dua kamar serta satu WC. Dengan keterbatasan luas lokasinya, dia menganggap hanya itu kelemahan perumahan yang ditempati kalangan menengah ke bawah. “Alhamdulillah, kita merasa aman termasuk keamanan. Lingkungan asri dan udaranya segar,” katanya.

Di Kabupaten Pasbar perkembangan pembangunan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah dinilai cukup banyak. Salah satu warga Perumahan Madani di Pasamanbaru, Ruswar, 37, merasa terbantu dengan adanya program pembangunan perumahan MBR. Cicilannya hanya Rp 800 ribu per bulan dengan uang muka sekitar Rp 20 juta. Bahkan, uang mukanya itu juga diangsur  sesuai kesepakatan antara konsumen dengan pihak developer.

Ruswar sudah masuk dua tahun belakangan ini menetap di perumahan tersebut. Bahkan dirinya senang, karena di lokasi sejumlah fasilitas juga sudah ada seperti mushalla, air, infrastruktur jalan dan lainnya. Dia memilih lokasi itu selain tidak jauh dari pusat pemerintahan juga tidak jauh dari jalan umum.

Hal yang sama juga disampaikan, Abd Hamid, 27. Dirinya juga tidak merasa sulit untuk membayar angsuran rumah sekitar Rp 800 ribu per bulan. Dia juga mengaku sudah menetap di perumahan tipe 36 ini sekitar 3 tahun.

DP dan angsuran murah ini juga menjadi minat bagi warga di Pesisir Selatan. Eni Marlinda 42, ibu rumah tangga sebagai salah satu warga di Perumahan Mega Permai Painan Timur mengatakan sebagai warga pendatang karena mengikuti suami sebagai seorang PNS di kantor Bupati Pessel di Painan, keberadaan kompleks perumahan dirasakannya membantu. 

Dengan uang muka sebesar Rp 3  juta sebagai uang pendaftaran, dirinya sudah bisa memiliki rumah di kawasan ini. Apalagi cicilan Rp 450 ribu per bulan. “Rumah dengan tipe 36 ini, saya tempati sejak tahun 2007 lalu,” katanya. 

Hal yang sama juga dikatakan Syamsuardin 50, warga lainya di perumahan Mega Permai Painan Timur. “Satu-satunya pilihan bagi saya untuk bisa memiliki rumah sendiri dengan cepat adalah dengan cara membeli rumah melalui Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Alhamdulillah harapan itu tercapai sebagaimana saat ini. Sebab melalui kredit perumahan itu, saya telah memiliki rumah tipe 36 yang sudah saya renovasi,” jelasnya. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co