Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Bocah 11 Tahun Dirantai


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-01-13 13:12:00 WIB    Dibaca : 87 kali

 


Dipaksa Mengemis oleh Ortu Tiri

Miris! Eksploitasi anak berujung perantaian ditemukan di Padang. ZH, bocah perempuan berusia 11 tahun, dirantai ayah tirinya karena tak mau mengemis. Kondisi ini berlangsung kurang lebih setahun.

Dari informasi yang dihimpun Padang Ekspres, Jumat (12/1), kondisi ini dipicu akibat perceraian orang tuanya. Awalnya ZH tinggal bersama ayah kandungnya. Lalu dijemput ibu kandungnya.

Sewaktu hidup dengan ayah kandungnya di Pasia Nantigo, Kecamatan Kototangah ZH besekolah sampai kelas 3 SD. Setelah tinggal bersama ibu kandungnya, ZH terpaksa putus sekolah. Karena ibunya menikah lagi, ZH hidup bersama ayah tirinya berpforesi sebagai pemulung. Setelah hidup dengan ayah tiri, ia tidak pernah menikmati bangku sekolah lagi.

Mirisnya, ZH dipaksa bekerja sebagai pengemis setiap malam di restoran siap saji di sekitaran Kota Padang. Pengasilan mengemis sekitar 30 ribu, lalu disetor ke ibu tirinya. Pasalnya, ayah tirinya punya empat istri selain ibu ZH.

Jika bocah malang ini tidak pergi meminta-minta, maka ayah tirinya akan menggembok kaki ZH dengan rantai. Rantai itu kemudian dililitkan ke kaki meja di rumah, supaya ZH tidak kabur saat orang tua tirinya pergi memulung. Rantai sepajang sekitar 50 cm itu akan dibuka setelah orang tua tirinya pulang dari memulung.

Kondisi itu telah terjadi kurang lebih setahun. Dari pengakuan ZH, kedua kakinya sering digembok. Akibatnya kaki ZH bengkak karena digembok terlalu kuat. Saat itu, ZH tak mengetahui di mana keberadaan ibu kandungnya yang juga seorang pemulung.

Pada Kamis malam (11/1), bocah perempuan memakai gelang warna-warna ini berhasil kabur setelah mengelabui ibu tirinya. Dengan alasan mau buang air kecil, ZH meminta rantai yang terikat di kaki meja dilepaskan. Ia berhasil kabur dari rumah tersebut.

Dalam keadaan kaki terikat rantai, bocah menggunakan rok warna merah jambu itu masuk ke salah satu rumah di kawasan asrama polisi Rimbokaluang, Kelurahan Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat, Kamis (11/1) sekitar pukul 23.00. Ternyata rumah yang dimasukinya adalah rumah Dirreskrimsus Polda Sumbar, Kombes Pol Margiyanta.

Saat itu, polisi berpangkat tiga melati itu melihat ada seorang anak masuk ke rumahnya. “Saya kira anak tetangga. Kakinya digembok dengan rantai, lalu anak itu meminta agar rantainya dilepaskan,” ucap Kombes Pol Margiyanta kepada wartawan menirukan perkataan ZH.

Bocah itu mengaku kerap mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bahkan anak tersebut mengaku dieksploitasi oleh ayah tirinya dan dipaksa mengemis. “Dari pengakuan anak itu, ia dirantai agar tidak kabur dari rumah. Saat ditanya rumah, ia tidak tau,” ucap Margiyanta.

Setelah mendengar semua cerita anak tersebut, Margiyanta kemudian memanggil Kapolsek Padang Barat AKP Armijon untuk datang ke rumahnya. Lantas memerintahkan agar dilakukan upaya hukum karena kondisi anak tersebut sangat memprihatinkan dan butuh perhatian khusus.

“Saya sangat kasihan melihat kondisi anak itu. Harapan saya, si anak harus bisa sekolah lagi untuk masa depannya. Perceraian orang tua memang menjadi pemicu anak kerap mengalami KDRT dan bahkan dipaksa untuk mencari uang. Miris sekali, zaman now masih ada seperti ini,” pungkasnya.

Pada paginya Kanit PPA Polresta Padang, Iptu Rosza Rezky Pebrian berserta anggotanya menjemput bocah malang ini dari Polsek Padang Barat dan dibawa ke Polresta Padang.

Di Polresta Padang gembok rantai bocah malang ini dibuka oleh ahli kunci, disaksikan langsung oleh Kapolresta Padang, Wakapolresta dan jajarannya. 

Setelah gembok rantai bocah malang ini dibuka, petugas dari PPA Polresta Padang lalu memandikan serta mengganti pakaian ZH dengan yang baru. 

Kapolresta Padang, Kombes Pol Chairul Aziz mengatakan, pihaknya akan segera mencari tahu keberadaan kedua orang tua korban yang mengeksploitasi. Selanjutnya akan segera dilakukan penangkapan.

“Orang tuanya bisa dikenai Undang-Undang 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman minimal enam tahun penjara. Untuk selanjutnya, kita akan berkoordinasi dengan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak),” kata Kapolresta.

Kasat Reskrim Polresta Padang Kompol Daeng Rahman mengatakan, setelah mendengar penjelasan dari korban, pihaknya lalu mencari keberadaan ayah kandungnya. Tidak butuh waktu lama bagi anggota Polresta Padang menemukan rumah ayah kandungnya di Pasia Nantigo. “Ayah kandung korban, Dek Moris sudah membuat laporan polisi di Polresta Padang,” kata Daeng Rahman.

Sementara itu, ayah kandung korban, Dek Moris mengatakan tidak mengetahui kejadian yang menimpa anaknya. “Saya sudah lama tidak bertemu dengan anak saya. Saya akan bawa pulang dan merawatnya,” tuturnya. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co