Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Lima Sebelum Lima


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-01-12 16:14:00 WIB    Dibaca : 163 kali

 

Irsyad Syafar - Pendiri Perguruan Islam Ar-Risalah


Nikmat itu baru terasa kalau sudah tidak ada. Kalau masih ada atau masih di tangan, sering terlupakan. Kalau sudah habis atau hilang, timbullah kerisauan dan angan-angan. Seandainya begini, seandainya begitu....

Bila kita tidak ingin menyesal, maka manfaatkanlah segala nikmat—selama masih ada—untuk kebaikan. Bila kita ingin rasa memiliki nikmat itu semakin kuat, maka tengok dan perhatikanlah orang yang telah kehilangannya, di saat kita masih punya.

Ada limat nikmat yang disebut khusus oleh Rasulullah SAW: Pertama, masa dan usia muda. Adalah nikmat yang sangat berharga dari Allah. Di saat masih muda, berbagai potensi dan kemampuan Allah berikan. Tenaga, semangat, daya juang, daya tahan, obsesi dan sebagainya, sangat kuat dan maksimal di saat masih muda. Ingin berbuat apa, ingin bekerja apa, ingin pergi kemana, ingin merancang apa dan sebagainya, masih sangat mungkin direalisasikan.

Kalau ingin terasa betapa muda itu adalah nikmat yang mahal, kunjungilah orang yang sudah tua. Banyak hal yang dia sudah tidak mampu dan tidak kuat melakukannya. Tenaga sudah jauh berkurang, kulit sudah keriput, daya tahan untuk lama-lama bekerja sudah menipis, pandangan dan pendangaran juga melemah, dalam banyak hal akan bergantung pada pertolongan orang lain. Sudah sulit diajak berjalan cepat, apalagi berlari kencang.

Kedua, nikmat sehat. Itu adalah nikmat yang sangat berharga. Dengan nilai berapapun orang mau menebusnya. Sebab, dengan kesehatan orang terbebas dari banyak halangan, pantangan dan rintangan. Sayangnya, pepatah Arab mengatakan, “kesehatan itu adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat. Tidak banyak yang melihatnya kecuali orang yang sakit.”

Kalau kita betul-betul ingin merasakan betapa nikmatnya sehat itu, kunjungilah (lihatlah) orang yang sakit. Apalagi orang yang kita kenal dahulunya energik, aktif, penuh kerja dan karya. Saat dia sudah terbaring tak berdaya, pisiknya sudah berubah, tenaga sudah sangat berkurang, bahkan mungkin pasrah dengan “taqdir” Allah, saat itulah kita akan mengakui nikmat pemberian Allah yang bernama sehat.

Tidak jarang karena jenis penyakit tertentu, banyak nikmat yang menjadi hilang, padahal kita mampu memilkinya. Bila sudah darah tinggi terlaranglah sebagian makan. Bila sudah tinggi kolestrol, terhalanglah dari berbagai makanan. Bila sudah kena sakit gula, maka berkuranglah nikmat sebagian makanan. Dan banyak lagi pantangan-pantangan lain.

Ketiga, nikmat kaya atau berpunya, juga merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah. Dengan kekayaan seseorang bisa berbuat dan melakukan banyak hal. Apalagi kalau orangnya shaleh dan taat kepada Allah. Ia bisa beribadah dengan baik, pergi haji dan umrah, berinfaq dan bersedekah, membangun masjid dan lembaga pendidikan, membantu orang lain yang dalam kesulitan. Terpikir hendak berinfaq, langsung bisa dieksekusi. Terangan-angan ingin membantu orang lain, langsung dapat direalisasikan.

Bila kita ingin lebih merasakan nikmatnya kekayaan itu, maka kunjungilah orang yang gak punya (faqir miskin) disaat kita punya. Duduklah sejenak bersamanya, melihat dan mendengar “deritanya”. Dengarkan harapan dan angan-angannya, agar kita ikut bersamanya dalam suasana “ketidakmampuan”. Paling tidak, kita akan semakin bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmatNya.

Keempat, sangat mahal harganya nikmat lapang. Di mana kita punya waktu memadai untuk mengerjakan sesuatu, menuntaskan tugas-tugas, menunaikan janji dan amanah, memenuhi permintaan orang lain dan sebagainya.

Kalau kita ingin merasakan betul nikmatnya waktu lapang, datangilah orang yang sangat sibuk dan padat agenda. Terutama yang sudah “kepepet” dengan jadwal penyelesaian tugas. PR belum selesai, skripsi belum tuntas, kerjaan kantor menumpuk, utang jatuh tempo dan sebagainya, sementara waktu sudah sangat kasib.

Dalam kondisi tersebut biasanya banyak tugas yang terabaikan, kualitas kerja yang sangat rendah dan kadang asal-asalan. Jangankan yang sunat, yang wajib-wajib pun kadang jadi tertinggal. Birrul walidain tak jalan, silaturahim macet, janji-janji terkendala dan lain sebagainya.

Yang kelima, nikmat yang paling sering kita lupakan adalah nikmat hidup. Saat masih hiduplah kita bisa menambah tabungan akhirat, pundi-pundi amal shaleh dan peluang-peluang tingginya derajat di sisi Allah. Kalau sudah mati, berakhirlah semuanya, kecuali yang memang sempat “diinvestasikan” saat masih hidup.
Bila kita ingin terus merasakan nikmatnya hidup, maka kunjungilah orang yang baru saja wafat. Lihatlah jasadnya yang sudah tak berdaya, pasrah menunggu proses-proses terakhir di dunia. Berikutnya jalan panjang di akhirat yang tak ada lagi amal, tinggal pembalasan. Pastilah begitu banyak rencana, obsesi, keinginan dan cita-cita yang belum kesampaian. Karena memang, obsesi (angan-angan) seseorang selalu saja melampui batas-batas ajalnya.

Bila lima hal tersebut kita coba mengamalkannya, tentu akan kita pahami kenapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh kita untuk menggunakan yang lima sebelum datangnya yang lima.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Manfaatkanlah yang lima sebelum datangnya yang lima: Masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum faqirmu, lapangmu sebelum sempitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Hakim, dishahihkan Albani). Wallahu A’laa wa A’lam. (*)

© 2014 - 2018 Padek.co