Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-01-12 16:11:00 WIB    Dibaca : 26 kali

 

Mengawali 2018, harga-harga kebutuhan pokok makin menjulang. Mulai cabai, telur hingga daging ayam ras. Terutama beras yang harganya melonjak di daerah lain. Harga beras kualitas medium, misalnya, rata-rata naik Rp 800-Rp 2.000 per kilogram di tingkat pedagang besar. Angka itu jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kementerian Peradangan, yakni Rp 9.450 per kilogram.

Bagi sebagian besar masyarakat yang berpenghasilan tetap, kenaikan harga tersebut tentu memberatkan. Dengan penghasilan yang tidak berubah, konsumen harus membeli barang dengan harga yang jauh berbeda. Tentu saja, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok otomatis mengurangi daya beli konsumen secara paksa.

Jika ditarik ke belakang, ada beberapa penyebab harga beras atau cabai bisa menjulang. Salah satunya keterlambatan pasokan sehingga menimbulkan kesenjangan antara permintaan dan penawaran. Kondisi itu bisa terjadi lantaran hasil panen di beberapa daerah kurang optimal. Bisa akibat cuaca atau kondisi lain yang mengganggu.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah spekulasi harga yang dilakukan para spekulan. Spekulasi jelas membuat harga terus melonjak. Sebab, para spekulan menyimpan barang kebutuhan pokok dengan sengaja dan mengeluarkan ke pasar ketika harga sudah tinggi.

Berangkat dari situ, sebenarnya pemerintah sudah bisa memetakan langkah-langkah apa yang mesti diambil untuk menstabilkan harga. Bila penyebabnya ternyata rantai suplay yang tersendat, pemerintah bisa memperbaiki kualitas pertanian dan jalur distribusi. Pemerintah juga perlu mengembangkan basis produksi padi baru. Bukan hanya di Jawa yang menyumbang 70 persen produksi nasional.

Peran Bulog sebagai penyangga apabila terjadi stok langka juga perlu dioptimalkan. Bulog sebagai instrumen pemerintah harus bisa memenuhi cadangan minimal. Dengan demikian, bila terjadi kekurangan pasokan, pemerintah bisa hadir untuk mengembalikan kondisi normal. Selain itu, diperlukan terobosan baru dari sekadar operasi pasar yang sudah rutin dilakukan bila terjadi kenaikan harga. Impor harus menjadi solusi terakhir.

Di sisi lain, bila penyebabnya adalah spekulan yang menimbun barang, pemerintah harus memberikan sanksi tegas karena tindakan tersebut merugikan banyak orang.(*)
© 2014 - 2018 Padek.co