Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Rela Rogoh Kocek Sendiri Cetak Atlet Berprestasi


Wartawan : 0 - Editor : Elsy Maisany - 2018-01-12 16:02:00 WIB    Dibaca : 27 kali

 

Nanda Telambanua, Mantan Atlet Angkat Berat Dunia

Nama Nanda Telambanua melambung setelah sukses meraih The Best Lifter semasa menjadi atlet angkat berat. Sebelum menginternasional, pria kelahiran 11 April 1965 itu mengawali profesi sebagai pemanjat kelapa, kuli angkut, dan pernah bekerja di pabrik mi di Kota Padang. Bagaimana nasib Nanda yang pernah disebut “Manusia Aneh” oleh majalah di London itu sekarang?

Tahun 1979, pria kelahiran Domo, Telok Dalam, Nias Selatan sampai di Kota Padang. Usia putra pasangan Salajobei (alm) dan Helena itu masih remaja, 14 tahun. Tak ada tempat tinggal tetap. Sering tidur di emperan toko di Kota Padang. Meski begitu, kenyataan hidup yang dialami pada saat itu, tak membuatnya patah semangat.

Lambat laun Nanda memulai karier dengan menekuni olahraga bela diri karate dan tinju. Sayang, patah arang. Lalu dia mengikuti olahraga angkat berat dengan memasuki klub Hasta Yudha di Padang. Pelatihnya, atlet senior Edi Hermanto. Tahun 1982 adalah debut pertamanya di kejuaraan nasional angkat berat yang dilaksanakan di Yogyakarta. Nanda langsung memecahkan rekor nasional di kelasnya.

Mulailah Nanda melanglang buana di kejuaraan internasional, termasuk Kejuaraan Dunia Angkat Berat Yunior di Perth, Australia, pada 20-23 September 1984. Juara demi juara pun disabet.

Lambat laut prestasi Nanda Telambanua mulai dikenal masyarakat Indonesia. Tepatnya setelah mengikuti berbagai ajang kejuaraan dunia. Bahkan, saat kejuaraan di London, Inggris, Nanda pernah memecahkan rekor terbesar dalam sejarah angkat berat dunia. Tercatat dalam sebuah majalah di London.
“Saya dibilang “Manusia Aneh”. Karena tubuh saya yang kecil tapi bisa memecahkan rekor itu. Bahkan, darah saya juga sempat diperiksa, dikira saya pake dopping,” kenang Nanda.

Pada kejuaraan di Perth, Australia, Nanda berhasil memecahkan rekor dunia dengan total beban 500 kg. Rekor ini sebelumnya dipegang R Caputo (AS), dengan total beban 482,5 kg. Rekor selanjutnya dipecahkan Nanda pada PON XI di Jakarta pada 1985, untuk beban 56 kg, squat 210 kg, deadlift 250 kg, dengan total beban 567,5 kg. Hingga saat ini, rekornya itu belum terpecahkan.

Sepanjang kariernya dalam mengikuti kejuaraan, Nanda banyak menghasilkan mendali emas. Bahkan hingga saat ini, tiga medali emas dan sabuknya dipajang di Museum Olahraga Nasional Jakarta.

Ceritanya, juara dunia yunior di Perth, Australia tahun 1984 menjadi gelar juara dunia pertama yang diraihnya. Berselang 12 tahun usai meraih gelar juara dunia yunior pertamanya, atlet kebanggaan Indonesia ini berhasil mencapai gelar Juara Dunia 1996.

Di dunia angkat berat, menurutnya, belum ada yang mampu menyamai prestasi Nanda Telambanua hingga saat ini. Dalam perjalanan kejuaraan yang dilalui, Nanda 10 kali menjuarai rekor kejuaraan dunia, dan 2 kali dinobatkan sebagai “The Best Lifter”. Di kejuaraan nasional, Nanda juga 11 kali menjadi juara I, satu kali juara II dan satu kali dinobatkan sebagai The Best Lifter.

Namun yang menyedihkan, setelah mundur sebagai atlet, nasibnya sempat terpuruk karena tidak mendapatkan pekerjaan layak. Padahal semasa Nanda masih aktif menjadi atlet, Pemko Padang berjanji memberinya pekerjaan. Setelah 10 tahun terkatung-katung, nasib Nanda akhirnya membaik. Diakui Nanda, ada seseorang yang menghargai prestasinya waktu itu dan menjadi pedoman bagi dirinya untuk memajukan olahraga angkat berat di Sumbar.

“Pak Azwar Anas, waktu itu Menteri Perhubungan. Sebelumnya Gubernur Sumbar, dia yang memotivasi saya agar tetap di sini (angkat berat, red). Kemudian saya diberi pekerjaan di PT Semen Padang tahun 2003. Kini, selain bekerja, saya aktif melatih di Pusat Pelatihan Angkat Berat PT Semen Padang. Ini amanah yang saya jalankan,” tuturnya.

Nanda mengaku, sebelumnya pernah mendapat tawaran untuk menjadi atlet dan melatih di luar Sumbar. Imbalannya cukup luar biasa. Di sana dirinya disediakan rumah mewah, mobil, uang yang cukup lumayan dan pekerjaan di bank. Namun tawaran itu tak diterimanya. “Jikok datang tampak muko, kalau pai nampak punggung. Saya paham karena kekayaan itu tak bisa dibawa mati, uang dapat dicari dengan cara lain. Makanya saya memilih tetap di Padang,” ujarnya.

Nanda menikahi tambatan hatinya Meilivita Ramli tahun 1986 dan dikaruniai dua putri, yakni Tiffanie Telambanua dan Imelda Telambanua. Nanda sempat melatih klub Hasta Yuda Padang, 1996 hingga 1999, kemudian pindah ke klub PT Semen Padang dan melatih atlet-atlet muda. Dia juga ikut mempersiapkan atlet-atlet muda Sumbar yang berlaga PON XXVIII bulan September 2012 di Pekanbaru, Riau.

Tak sedikit atlet-atlet binaan Nanda yang mencetak prestasi internasional. Salah satunya, Mella Eka Rahayu. Atlet angkat besi putri yang telah 2 kali menjadi juara Asia.

Menurut dia, mencetak atlet angkat berat berprestasi sebuah kebanggaan dan kepuasan batin. “Saya ikhlas, meski terkadang kocek pribadi juga keluar,” tuturnya yang sekarang tinggal di Jalan Kali Kecil II No 1 A, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat.

Pada kejuaraan nasional 2010 di GOR Ragunan Jakarta, anak-anak asuhan Nanda sukses membuktikan pamor sang pelatih. Mereka menyabet sebelas emas, enam perak dan delapan perunggu, serta memecahkan dua rekor nasional.

Dua atlet binaan Nanda yang memecahkan rekor nasional itu, yakni, Ilwan Ferdiansyah, dengan total angkatan 356 kg. Kemudian Mella Ekka R, memecahkan rekor baru dengan total angkatan 240 kg, dari 210 Kg sekor sebelumnya. Pada PON XVII tahun 2008 di Kalimantan Timur, dua atlet angkat berat binaan Nanda juga menyumbangkan dua medali perak untuk kontingen Sumbar.

Meski membanggakan Sumbar, Nanda menyayangkan minimnya perhatian pejabat pemerintahan terhadap para atlet di Sumbar. Bahkan, pelatihan angkat berat di Padang, sering mengalami keterbatasan dana. Nanda berharap setidaknya pemerintah mulai memberi perhatian kepada cabang-cabang yang tidak populer seperti angkat berat, tetapi mampu membawa harum nama Indonesia di kancah dunia. “Semoga ke depan bisa mendapat perhatian pemerintah daerah,” harap Nanda, yang 13 Desember 2017 menerima penghargaan atlet legenda dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Menurutnya, penghargaan Atlet Legenda 2017 merupakan bentuk komitmen Presiden Jokowi untuk terus memperhatikan secara serius masa depan atlet dan mantan atlet. Setidaknya sekitar 200 mantan atlet berprestasi dalam beberapa dasawarsa terakhir di berbagai cabang olahraga diberi penghargaan. Beberapa nama atlet terkenal di masa lalu, antara lain ada Rudi Hartono, Liem Swie King, Rully Nere, Ricky Yacobi dan Susi Susanti. (*)
© 2014 - 2018 Padek.co