Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Interprestasi Bebas, Mangaka Puas


Wartawan : 0 - Editor : Yogi - 2017-12-17 13:15:00 WIB    Dibaca : 245 kali

 

Ketika Arakawa Hiromu memperkenalkan serial Hagane no Renkinjutsushi (Hagaren/Fullmetal Alchemist) 16 tahun lalu, publik langsung dibuat jatuh cinta kepada kakak beradik Edward dan Alphonse Elric. Perjalanan hidup mereka yang kompleks, dramatis, serta menegangkan sangat menarik untuk diikuti.
Setelah dua versi serial TV anime, dua OVA, dan dua movie, tahun ini Hagaren resmi menambah koleksi adaptasi. Film live-action Hagaren yang diotaki sutradara Sori Fumihiko diputar di 400 bioskop di Jepang mulai 1 Desember lalu.

Seperti live-action lain yang diadaptasi dari manga atau anime, Hagaren mengalami sentuhan ulang di beberapa aspek. Warna rambut pirang Winry Rockbell diubah menjadi brunette. Usia Ed pun di-mark up dari 15 tahun menjadi 20 tahun.

Sori merangkul tiga artis fans berat Hagaren untuk proyek ambisius tersebut. Mereka adalah Yamada Ryousuke (Edward Elric), Honda Tsubasa (Winry Rockbell), dan Hongou Kanata (Envy). Cast itu sudah mendapat restu Arakawa-sensei.

Saat Sori mengutarakan keinginannya untuk menggaet Yamada sebagai pemeran Ed, Arakawa-sensei langsung “klik”. Mangaka dari Hokkaido tersebut terpikat akting Yamada yang memerankan pembunuh dalam film Grasshopper (2015).

“Gerakan-gerakan Yamada-san di film itu luar biasa. Cara dia membunuh geng berandalan bagaikan sedang menari. Sejak saat itu, aku berpikir bahwa dia bakal hebat ketika melakoni adegan laga,’’ puji Arakawa-sensei.

Saat menonton hasil akhirnya, Arakawa-sensei puas. “Yamada-san bisa melakukan adegan laga dengan gaya komikal seperti dalam manga. Bahkan, dia mampu merealisasikannya dengan detail,” tuturnya.

Namun, Arakawa-sensei agak sungkan kepada Yamada dkk. “Aku merasa mungkin mereka terikat pada image karakter (Ed, Winry, dan Envy) versi manga. Padahal, nggak ada masalah buatku kalau mereka menginterpretasikan karakter versi mereka sendiri,’’ katanya.

Ketika disodori peran Ed, Yamada sangat happy. Sebagai hard-core fan Hagaren, memerankan Ed adalah dream comes true bagi cowok kelahiran 9 Mei 1993 tersebut. Dia membaca ulang semua manga Hagaren koleksinya dan menonton kembali semua episode animenya.

Yamada pun berani memberikan sentuhan yang fresh pada perannya. “Ed versi manga kukombinasikan dengan Ed ala Yamada Ryousuke. Hasil akhirnya ya seperti itu,’’ ujarnya.

Effort Yamada untuk merealisasikan sosok Ed patut diacungi jempol. Adegan-adegan berisiko tinggi dilakoninya tanpa stuntman. Padahal, sebagai anggota boyband Hey! Say! JUMP, dia wajib bertanggung jawab terhadap kondisi fisiknya. Karena itu, saat syuting, Yamada sangat berhati-hati. “Jangan sampai terluka. Itulah yang terus ada di benakku selama syuting adegan action,’’ ungkapnya.

Pengambilan gambar adegan Ed melompat dari atap pun diambil pada hari terakhir syuting untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Bagi Yamada yang takut ketinggian, adegan itu bak nightmare. Atas nama profesionalisme, Yamada tetap melakukannya walaupun akhirnya agak limbung setelah terjun dari ketinggian 5 meter. “Supaya bisa sukses sekali take, aku melompat dengan sungguh-sungguh. Untung saja, sutradara langsung oke,’’ kenangnya.

Adegan lain yang juga berkesan bagi Yamada adalah ketika harus berantem dengan Al. Asal tahu saja, sosok Al sepenuhnya hasil computer-graphic imagery sehingga Yamada harus menggunakan imajinasinya. “Aku harus memukul lawan yang nggak terlihat dan tingginya 2,2 meter,’’ cetusnya.

Agar aksinya sebagai Ed lebih meyakinkan, pemeran Shiota Nagisa dalam film Ansatsu Kyoshitsu itu juga berlatih shadowboxing di rumah. “Soalnya, aku harus memukul dengan tangan kiri,’’ ucapnya.

Terlepas dari segala usaha ngoyo Yamada dan rasa puas yang diungkapkan sang kreator, Hagaren gagal mendapat nilai sempurna. Ya gimana hasilnya bisa maksimal kalau durasi superpanjang dalam serial asli harus dijejalkan ke film yang hanya dua jam lebih sedikit.

Meski agak terseok-seok “dihajar” para kritikus karena gaya penceritaan dianggap lemah, toh nasib Hagaren masih lebih baik ketimbang dua film live-action Shingeki no Kyojin. Hagaren terselamatkan oleh efek khusus yang digarap matang dan musik dramatis karya Kitasato Reiji. Plus, faktor Yamada Ryousuke yang punya basis fans kuat.

Pada pekan perdananya di box office, Hagaren bertengger di puncak ranking dengan perolehan 264.065.100 yen (sekitar Rp 32 miliar). Jumlah tersebut didapat pada periode 1–3 Desember 2017. Hingga akhir pekan lalu, film yang didistribusikan Warner Bros. itu meraup 663.813.950 yen (sekitar Rp 80,4 miliar). Angka tersebut diperkirakan masih terus bertambah karena Warner Bros. sudah berencana memutar Hagaren di 190 negara. Apakah negara kita juga tercyduk? Kita tunggu saja! (berbagaisumber/cr27/jpg)

© 2014 - 2018 Padek.co