Date Sabtu, 2 August 2014 | 07:23 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Tajuk Rencana

Ranah Minang Ditelanjangi

(*)

(*)

Masih segar dalam ingatan, kasus video porno siswi SMA 8 Padang yang dibuat di kawasan Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Kini kita disentakkan dengan penggerebekan penari telanjang (striptis) di salah satu karaoke di Jalan Hayam Wuruk Padang Senin (26/9) malam.

Alamak! Pelakunya, perempuan Minang pula! Satu mengaku dari Batusangkar satu lagi dari Agam. Masih berusia muda, 21 tahun. Jika sebelumnya, setiap WTS yang tertangkap Pol PP selalu mengaku berasal dari luar Sumbar. Tapi kedua wanita ini dengan lugu mengaku dari Sumbar.


Kejadian ini tidak saja bikin malu keluarga mereka tapi juga mencoreng muka rang Minang. Ninik mamak dan alim ulama di mana? Ke mana mengirabnya filosofis adat basandi syarak syarak basandi kitabullah itu?


Seakan sia-sia saja upaya Wali Kota Padang Fauzi Bahar menanamkan nilai-nilai religius di Padang Kota Tercinta Kujaga Kubela ini. Ternyata mewajibkan berjilbab ke sekolah agar tertutup aurat tak begitu ampuh membendung anak sekolah tak berbuat maksiat. Buktinya, salah seorang siswa SMA malah merekam adegan porno yang dilakukan bersama pasangannya. Itu baru yang terungkap. Mungkin masih banyak yang tersembunyi.


Sepertinya menggalakkan bacaan asmaul husna di sekolah-sekolah hanya hafalan di bibir saja. Lalu, menghidupkan kembali majelis taklim bagi kaum ibu nampaknya juga belum sepenuhnya berhasil mendidik dan mengontrol perilaku anak. Pihak sekolah sendiri sepertinya lengah. Pengawasan lemah.


Kalau sudah tertangkap tangan, malah saling menyalahkan. Akhirnya anak jadi korban.
Sementara terungkapnya penari telanjang, membuat semua orang tercengang. Benar ada di Padang? Padahal sebelumnya, para hidung belang perlu ke ibu kota atau ke luar negeri bila ingin menonton pertunjukan ini. Terlepas, pengelola tempat hiburan mengaku dijebak. Entah siapa yang menjebak? Yang jelas, praktik ini tertangkap tangan ada di ranah yang menjunjung tinggi adat dan agama ini.

Si penari pun mengaku, sudah dua bulan melakoni “profesi” itu di Padang. Lebih memprihatinkan lagi, mereka penduduk asli Sumbar. Anak rang Minang? Lantas kenapa mereka bisa melakukan perbuatan yang sangat memalukan itu. Apa urat malunya sudah putus? Atau sama sekali tak lagi punya rasa malu hingga bisa menari tanpa sehelai benang pun di hadapan pria hidung belang. Habis itu diekpose pula di media massa. Mau ditarok di mana muka?


Inilah jadi tak habis pikir. Jika benar mereka rang Minang, apalagi asal kampung, banyak sedikitnya pastilah belajar agama. Tapi sepertinya bagi mereka ajaran itu mengirab begitu saja. Alasan keduanya sederhana saja. Demi uang.


Semuanya tak terlepas dari adanya permintaan dan fasilitas. Tempat hiburan lahan empuknya. Bahkan desas-desus adanya pertunjukkan striptis di Kota Bengkuang ini sudah lama beredar dari mulut ke mulut. Informasi itu tentu saja berasal dari orang-orang yang pernah keluar-masuk tempat hiburan malam. Tapi sepertinya bisik-bisik itu hilang timbul ditelan tetap hidupnya dunia gemerlap Kota Padang.


Padahal pihak terkait, seperti Polisi dan Pol PP tetap melakukan razia untuk membasmi maksiat di Padang Kota Tercinta ini. Tapi kok tak kunjung hilang, justru kian berkembang.


Agaknya, jika ingin membebaskan Ranah Minang dari maksimat, aparat harus komit dan serius menjalankan tugas. Semua elemen merapatkan barisan. Ninik mamak kembali menjalankan perannya. Alim ulama tak sekadar kata, tapi harus ada gerakan. Orangtua harus lebih ketat mengawasi anak. Insya Allah, maksiat bisa enyah! (*)

Tajuk Rencana lainnya

Komentar