Date Selasa, 22 July 2014 | 20:23 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Cucu Magek Dirih

Festival (Internasional) Langkisau di Painan

H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Festival (Internasional)  Langkisau di Painan

DI ANTARA kabupaten/kota—bahkan untuk tingkat Provinsi Sumatera Barat pun—mengembangkan gagasan/mempunyai program festival daerahnya sendiri. Katakanlah festival atau pesta Tabuik di Kota Pariaman, festival Bajamba di Kota Sawahlunto, Pedati di Kota Bukittinggi, festival Desember di Kota Solok, festival Siti Nurbaya di Kota Padang, festival Danau Singkarak di Kabupaten Solok, festival Langkisau di Painan, Kabupaten Pessel, dan festival-festival lainnya di kabupaten/kota lain di daearah Provinsi Sumatera Barat. Tiap festival/karnaval/pesta daerah itu memiliki bentuk dan corak berbeda-beda. Di antaranya, ada yang lebih menonjolkan gagasan dan kehendak unsur pemko/pemkabnya, dan sebagiannya kelihatan kombinasi gagasan dan kehendak pemko/pemkab bersama elite daerahnya.


Yang sangat menarik, beberapa festival/karnaval/pesta daerah tahunan yang sudah berjalan sampai sejauh ini, kelihatan lebih menampilkan/menonjolkan industri lokal, seni budaya lokal, dan pariwisata daerah. Pemko/pemkab yang menyelenggarakan: berusaha mempromosikan/memasarkan hasil usaha dari perajin/kerajinan rakyat daerahnya masing-masing; menampilkan seni-budaya atau kesenian tradisi daerah masing-masing; dan tentu saja mempromosikan industri pariwisata dengan cara-cara/sesuai kesiapan daerah masing-masing. Pilihan untuk menonjolkan kerajinan rakyat dalam berbagai bentuk/jenis dan potensi kepariwisataan, diperhitungkan memberi multiplier effect terhadap berbagai subsektor lainnya dan atau ”mendorong paksa” subsektor lainnya untuk juga berbenah/berkembang.


Untuk Provinsi Sumatera Barat sendiri, ada festival budaya sekali setahun dengan biaya sampai miliaran rupiah dengan tungganai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat. Entahlah apa hasilnya bagi daerah dan rakyat Sumatera Barat. Kalau memakai patron pemerintah daerah, bilamana unit kerja pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten (Pemko/Pemkab) sudah membelanjakan dana alokasi anggaran yang disediakan dalam anggaran pendapatan dan belanja nasional (APBN) dan atau anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) yang dapat dipertanggungjawabkan secara akuntansi pemerintah/lolos dalam pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan atau Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)—walau hasilnya tidak ada/tidak jelas—sudah menjadi kinerja.


What ever, pemprov dan pemko/pemkab punya agenda festival/karnaval/pesta daerah yang lebih berdimensi/mengakomodasi kepentingan daerah/masyarakat daerah bersangkutan, sesungguhnya sudah patut diapresiasi. Memang, crucial point-nya dan menjadi konsekuensi logis dari gagasan yang datang/disusun sendiri oleh pemprov atau pemko/pemkab. Sebaliknya, otonomi daerah lebih mengharapkan tumbuh/berkembang insiatif atau prakarsa elite daerah yang diperhitungkan lebih mementingkan kepentingan dan memperoleh nilai tambah bagi daerah/masyarakat daerah. Misalnya, bilamana festival/karnaval/pesta daerah tersebut memberi kesempatan tak hanya berhibur, juga mempromosikan daerah/produk daerah—akhirnya memberi nilai tambah bagi kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah.


BEGITUKLAH, walau sudah dirintis sejak delapan tahun silam, dan khususnya lebih dikembangkan pada masa Bupati Drs H Nasrul Abit MBA, Cucu Magek Dirih berkesempatan menghadiri Festival Langkisau di Painan—yang juga dihadiri Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) H Irman Gusman SE MBA, dan anggota DPD-RI Dr H Alirman Sori SH, Hj Emma Yohanna M, dan Gubernur Sumatera Barat Prof Dr H Irwan Prayitno Dt Rajo Bandaro Basa Psi MSc. Kelihatannya Pemprov Sumatera Barat dan juga elite nasional Sumatera Barat mendukung Festival Langkisau.


Yang menarik perhatian Cucu Magek Dirih, Festival Langkisau ini berdimensi pariwisata—diperhitungkan mendorong perkembangan potensi dan industri pariwisata Kabupaten Pessel, mendorong industri kerajinan rakyat berbagai jenis/bentuk—ada bazaar dan pameran; menampilkan olahraga hobi (paralayang, selaju sampan, renang samudera—renang antarpulau di laut, balap sepeda dan fun bike); dan hobi lain seperti fotografi, panjat pinang, memancing di laut, dan mangaik ikan mungkuih. Iven pariwisatanya sendiri, ada pemilihan duta wisata, festival/pagelaran seni budaya Pessel. Ada pawai budaya dari 12 kecamatan, festival randai, festival tari, lomba lagu pop Minang, dan penampilan paket seni lainnya yang juga diikuti Kabupaten Solok, Sijunjung, dan Sawahlunto.


Sayang sekali, Cucu Magek Dirih tidak sempat melihat bazaar dan pameran, apakah memang menampilkan/menonjolkan produk khas daerah Pessel atau tidak—dari laporan panitia ada tercatat transaksi senilai Rp1,6 miliar. Juga sayang sekali, selain menghadiri acara pembukaan yang sangat meriah, Cucu Magek Dirih tidak mengikuti seluruh rangkaian acara Festival Langkisau dari awal sampai usai—walau memperoleh materi laporan Ketua Panitia Drs H Iqbal Rama Dipayana. Yang jadi pikiran Cucu Magek Dirih, seberapa jauh festival itu dipromosikan dan mendatangkan sebanyak mungkin pengunjung dari luar Kabupaten Pessel dan luar provinsi Sumatera Barat—bahkan mancanegara, sehingga festival terasa berskala nasional dan internasional.


Sejak semula, seperti umumnya potensi dan industri pariwisata di Indonesia relatif kurang dipromosikan. Sebagai wartawan yang cukup sering bepergian menghadiri acara dan atau diundang berkunjung ke berbagai negara di dunia, Cucu Magek Dirih akan sangat mudah memperoleh informasi potensi, agenda, peta/foto-foto/streaming, dan skala industri pariwisata berbagai negara—sebelum berkunjung ke negara dimaksud, hanya melalui browsing di internet—seakan sudah bisa menulis artikel/features tanpa harus berkunjung ke negara itu. Pun, memperoleh informasi potensi, agenda, peta/foto/streaming, dan skala industri pariwisata—di negara bagian China pun! Cucu Magek Dirih pernah menyampaikan kepada Bupati Nasrul Abit untuk memperhatikan promosi selain mengkondisikan kesiapan.


Yang sangat menarik perhatian Cucu Magek Dirih, Festival Langkisau seakan mendorong paksa perkembangan infrastruktur jalan dan jembatan, khususnya. Seperti dijelaskan/ekspos Bupati Nasrul Abit—tambahan informasi/data dari Kepala Bappeda Kabupaten Pessel Erizon, ruas jalan negara di Kabupaten Pessel amat panjang sebagai konsekuensi dari Kabupaten Pessel dan memanjang dari batas kota Padang di bagian utara, perbatasan Provinsi Bengkulu dan Jambi (Kerinci) di selatan. Lalu, jalan provinsi dan kabupaten masih terbatas. Padahal, untuk mendukung perkembangan potensi dan mendorong kemajuan industri pariwisata di Kabupaten Pessel diperlukan pelebaran jalan nasional dan pembangunan jalan baru dari arah Padang ke Painan.


Katakan pembangunan ruas jalan baru Sungaipisang (batas kota Padang), yang menyisir pantai sampai obyek wisata luar biasa Mandeh (45 km), misalnya. Ini adalah jalan/jembatan provinsi baru dirintis dengan dana APBD Pessel 2011 sebesar Rp6,285 miliar—kemampuan APBD kabupaten ini jelas terbatas, sehingga harus didukung dana APBD provinsi dan APBN. Begitu pun diperlukan pelebaran jalan dari Gaung (batas Kota Padang) sampai Painan—terus ke Tapan. Ruas ini adalah jalan negara dan dibiayai dana APBN. Juga realisasi pembangunan pelabuhan/ruas-ruas jalan pendukung ke pelabuhan Sungaipinang, sehingga pelabuhan ini menjadi pintu keluar bagi produk crude palm oil (CPO) dari hinterland Kabupaten Pessel (Kabupaten Solok, Sijunjung, dan Dharmasyraya, serta Provinsi Jambi bagian barat dan Bengkulu bagian utara).


INFORMASI diperoleh Cucu Magek Dirih dari Gubernur Irwan Prayitno, peluang pengembangan potensi kawasan Mandeh oleh pengusaha negara bagian Bavaria, Jerman—salah satu dari hasil dan tindak lanjut kunjungan kerja Gubernur Irwan ke Jerman yang ”kontroversial” (karena kurang memberi latar belakang dan penjelasan yang cukup dari biro hubungan masyaraat protokol). Tahapan perwujudan konsep kawasan wisata Mandeh yang akan ditata menurut arsitektur Islami, diperhitungkan akan memberi multiplier-effect luar biasa terhadap perkembangan industri pariwisata di provinsi Sumatera Barat—termasuk promosi pariwisata di Eropa—diperhitungkan akan mendorong peningkatan kunjungan calon wisatawan ke Sumatera Barat/lewat Bandar Udara (Bandara) Minangkabau International Airport—akhirnya ke Mandeh Pessel.


Peluang luar biasa ini akan ikut ditentukan oleh penyediaan infrastruktur pendukung, seperti jalan/jembatan seperti disebutkan di atas. Insya Allah semua itu akan menjadi kenyataan. Untuk itu, Cucu Magek Dirih—dan kita bersama di daerah ini—berharap kawasan Mandeh akan jadi kawasan wisata lengkap (hotel berbintang, lapangan golf, dan atau fasilitas berbintang lainnya) yang berarsitektur Islami, itu mendapat dukungan berbagai pihak, and the dream would be came true. (*)
H. Sutan Zaili Asril

Cucu Magek Dirih lainnya

Komentar