Date Minggu, 27 July 2014 | 00:10 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Opini

Rida K Liamsi, dari Deru Ombak Sekanak hingga Stockholm

Esha Tegar Putra

Rida, Kenangan dan Perjalanan


Hampir sebagian besar puisi Rida K Liamsi dalam buku Rose memungut perca-perca kenangan di hari lalu, sebagian besar lagi merupakan catatan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain. Dari suasa negeri dengan kedekatan personal penyairnya hingga negeri yang barangkali aromanya baru saja dihirup udaranya.

“Ombak Sekanak” merupakan salah satu puisi dalam buku Rose yang menurut saya merupakan upaya untuk menghimpun lagi fragmen-fragmen puitik dari kenangan masa lalu. Puisi yang ditulis dengan kolofon 2001/2003 ini seakan hendak ditegasi oleh penyair, bahwa ada sesuatu dari masalalu yang harus dipungut lagi, masa lalu yang bingung dan masa depan yang entah.

O, Ombak sekanak/ Angin barat/ gelombang barat/ Laut sekanak/ ombak sekanak/ Kemana kita/ akan pergi/ Pergi/ Seperti sepotong sabut/ Terombang ambing/ Terkapung kapung/ di pucuk/ ombak/ di pucuk buih/ di pucuk angin/ di rasa ingin/ dirasa dingin/ di rasa sansai/ di rasa lepai….


Puisi, barangkali tidak akan mengekalkan sesuatu dari masa lalu secara utuh, tapi ada semacam pengharapan dalam puisi “Ombak Sekanak” Rida K Liamsi. Sesuatu yang dulu seperti sepotong sabut, terombang ambing, terkapung kapung di pucuk ombak hingga di pucuk angin, semua itu (pernah) di rasa sansai.

Saya pernah mendengar tentang ombak Sekanak itu, tapi belum pernah ke daerah tersebut, dan dalam puisi di atas Rida K Liamsi seakan memberi penegasan bahwa memang ada sesuatu kesakitan orang-orang, barangkali masyarakat, yang dulu pernah menempati dan merasakan angin kiriman ombak sekanak. Rida K Liamsi mungkin salah satu di anatara mereka yang merasakan. Dan memang, dalam biodata yang saya dapat di buku terbaru Rose, Rida berasal dari Dabo Singkep, Kepulauan Riau, dan ia memulai karir dari seorang guru, jurnalis, hingga enterpreneur. Seniman, atau tepatnya sastrawan, adalah bagian lain dari karir Rida. Karir yang barangkali tidak akan terhenti selagi energi puitik hadir dan ditajaknya dari hari ke hari.

Sebagian besar lain puisi Rida K Liamsi memang adalah puisi perjalanan. Saya membayangkan setiap tempat yang ia singgahi, ia serap suasananya, ia gali sebuah peristiwa yang pernah terjadi di tempat tersebut. Lihat saja puisi “Di Stockholm” (hal.72), “Di Seberang Gedung Putih” (hal.76), “Nguyen” (hal.98), Sanghai Baby” (hal.108), “Di Great Wall” (hal.112), “Perjalanan” (hal.150), hingga “Cerita-Cerita dari Korea” (hal.222).

Memang pada puisi “Cerita-cerita dari Korea” (hal.222-234) saya membaca bagaimana puisi mengisi sebuah perjalanan. Bukan hanya perjalanan yang kosong. Sepuluh (10) fragmen ditulis Rida K Liamsi dalam satu judul puisi. Seakan seorang penyair mendatangi sebuah negeri yang sebelumnya hanya ia lihat dalam televisi, negeri yang dipenuhi cerita “tentang perang” dan “ancaman misil berhulu nuclear” tulis Rida.

Meski gamang, aku datang, dengan puisi, mantel dan sweater musim dingin./ Di televisi cerit tentang perang dan ancaman misil berhulu/ nuclear, masih jadi berita mutakhir. Di laut kuning, sang penjaga dunia berkonvoi dengan meriam ternganga…./ Meski gamang, aku datang, dengan instrumentalia atas nama/ cinta… tulis Rida dalam “Cerita-cerita dari Korea” fragmen satu. Meski ada kegamangan, tapi dengan puisi kegamangan untuk datang ke sebuah negeri yang asing itu bisa ditepis. Begitulah Rida menuliskan ceritanya.

Rida menuliskan, dalam puisi, bagaimana di sebuah negeri orang-orang tetap percaya dalam membangun sebuah janji, dengan puisi menyemai damai, dengan puisi mendekati sahabat. Orang-orang membaca puisi di ruang tertutup, di gedung kesenian, di kampus, di café, semua itu ditulis dalam fragmen kedua “Cerita-cerita dari Korea”. Agaknya puisi naratif yang cukup panjang ini memang ditujukan untuk menghimpuan kelebat suasana perjalanan dalam puisi.

Saya sempat bertanya-tanya, kenapa Rida K Liamsi memberi judul Rose untuk buku puisi tersebut. Lantas saya berusaha untuk memaknai lagi puisi Rose di dalam buku tersebut yang terdiri dari lima fragmen ditulis sepanjang tahun 1977-2008. Saya berusaha menjangkau “Rose” yang barangkali memang pengganti bunga, atau “Rose” barangkali seseorang. Tapi saya urung menjangkaunya, saya membaca, dan saya membayangkan ada sesuatu yang tak sudah dengan “Rose” barangkali karena itulah Rida K Liamsi memberi judul buku tersebut “Rose”. Satu kata yang barangkali lama diingat-ingatnya dalam puisi.

Tidak semua puisi Rida K Liamsi bisa saya jangkau dalam tulisan pendek ini. Tulisan ini hanya sebuah pembacaan awal dan belum menukik pada hal yang paling esensial di dalam puisi. Sebuah apresiasi atas ketelatenan dan kepatuhan Rida K Liamsi dalam menulis karya sastra hingga usianya mencapai 70 tahun.

Satu hal, kenapa tulisan ini hadir. Saya membayangkan suatu ketakutan ketika Sutardji, barangkali tidak hanya kali ini, mengikat karya seorang penyair dengan lokalitas. Tapi pembacaan tentu bisa beragam, apalagi tafsir. Saya barangkali juga Rida K Liamsi, tetap meyakini anggapan Neruda yang mengatakan bahwa puisi adalah sebuah tindakan, sekelebat atau khidmat, dimana kesunyian dan solidaritas, aksi dan emosi, kedekatan pada diri sendiri, pada umat manusia, dan pada manifestasi tersembunyi alam masuk ke dalamnya (puisi) sebagai rekan sederajat. Dan bisa jadi karena itu buku puisi Rose itu lahir. (*)

Opini lainnya

Komentar