Date Kamis, 31 July 2014 | 20:30 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Kapolri Baru, (Ini) Baru Kapolri

Bambang Widodo Umar

Kapolri Baru, (Ini) Baru Kapolri

Berbagai kriteria kepemimpinan Polri yang disampaikan masyarakat setelah muncul Kapolri baru dengan berbagai kiprahnya sering jauh dari harapan. Kondisi itu tentu mengecewakan. Hal inilah yang membuat masyarakat menjadi pesimis melihat akan naiknya Kapolri baru, apalagi ia menunjukkan perasaan akan sukses dan kepastian mampu untuk menyelesaikan segala macam masalah (over-optimist). Kepemimpinan semacam itu mudah dilaksanakan pada masa dan situasi di mana antara kebaikan dan keburukan mudah dipahami dan dibedakan. Sedangkan masa kini kondisinya sudah jauh berbeda dan beban tugas Polri sangat berat.

Masih lekat diingatan kita. Calon Kapolri Komjen Pol Timur Pradopo pada waktu mengikuti fit and proper test di Komisi 3 DPR-RI, menunjukkan sepuluh program prioritas: 1. Pengungkapan dan penyelesaian kasus-kasus menonjol; 2. Meningkatkan pemberantasan preman, kejahatan jalanan, perjudian, narkoba, illegal logging, illegal fishing, illegal mining, human trafficking, dan korupsi; 3. Penguatan kemampuan Densus 88 Antiteror melalui peningkatan kerja sama dengan satuan antiteror TNI dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme; 4. Pembenahan kinerja reserse dengan program ”keroyok reserse” melalui peningkatan kompetensi penyidik; 5. Implementasi struktur baru dalam organisasi Polri; 6. Membangun kerja sama melalui sinergi polisional yang proaktif; 7. Memacu perubahan mindset dan culture set Polri; 8. Menggelar sentra pelayanan kepolisian di berbagai sentra kegiatan publik; 9. Mengembangkan layanan pengadaan sistem elektronik; 10. Membangun dan mengembangkan sistem informasi terpadu dan pengamanan Pemilu 2014. Setelah akan mengakhiri jabatannya, sepuluh program itu seperti sulit untuk dikatakan tercapai. Kondisi kamtibmas juga belum menunjukkan ke arah kondusif justru muncul peristiwa sangat dramatis, empat anggota polisi ditembak oleh orang tak dikenal dan hingga kini belum terungkap pelakunya. Demikian pula terungkap kasus korupsi yang fantastis di Korlantas dan juga seorang Bintara polisi dalam tugasnya mampu memiliki kekayaan hingga triliunan rupiah.

Kini, diusulkannya Komjen Pol Sutarman oleh Presiden sebagai satu-satunya calon Kapolri mendapat beragam komentar. Namun umumnya, baik dari anggota Komisi 3 DPR-RI dan para pengamat menyatakan sudah tepat (on the track), bahkan ada yang mengatakan Sutarman merupakan the right man on the right place sebagai Kapolri. Dari kisaran pendapat tersebut, apa sesungguhnya yang tercermin di balik pernyataan itu? Di lingkungan masyarakat seperti ada semacam kerinduan untuk mendapatkan seorang pemimpin polisi yang ideal. Mungkin seperti RS Soekanto atau seperti Hoegeng. Pertanyaannya adalah, mengapa kondisi masyarakat sampai sedemikian besar harapkannya terhadap Komjen Pol Sutarman?

Hal ini dapat dijelaskan, pada dasarnya dalam suatu kehidupan masyarakat maupun dalam suatu organisasi sangat dibutuhkan pemimpin yang tidak sekadar ditentukan oleh ”surat keputusan”, tapi pemimpin yang dapat dijadikan panutan karena memiliki ketauladan yang paripurna. Hal ini berangkat dari suatu premis, bahwa: manusia dalam memasuki eksistensinya lewat jalan persekutuan dengan manusia-manusia lain membutuhkan berbagai rasa, seperti rasa cinta, rasa hormat, rasa bangga, rasa kagum, rasa percaya yang tidak dibuat-buat kepada seseorang sebagai pemimpin. Lewat suatu jabatan, seseorang harus mampu menumbuhkan perasaan-perasaan tadi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Jika tidak dipenuhi, maka ia akan tereduksi dari lingkungannya.

Dengan alasan itulah diperlukan seorang Kapolri yang memiliki terutama kualitas moral, dedikasi, dan kualitas intelektual yang prima. Mengapa demikian? Nitibaskara (2001) mengatakan bahwa: profesi polisi adalah profesi mulia (nobile officum) sebagaimana profesi terhormat lainnya yang memberikan layanan kepada masyarakat. Jasanya sangat dibutuhkan untuk melindungi warga masyarakat dari berbagai gangguan penjahat, memelihara ketertiban, dan membimbing masyarakat agar taat hukum. Tetapi profesi semulia apapun, bila dikotori oleh para pelakunya, apalagi pimpinannya maka hal itu akan menurunkan derajat kemuliaan profesi yang bersangkutan dan orang-orang yang duduk di dalamnya. Dari sini Sutarman akan menghadapi berbagai masalah yang dilematis baik yang belum terselesaikan maupun yang terabaikan, yang berpacu dengan munculnya masalah-masalah baru. Konflik sosial disertai tindakan anarkis seakan telah menjadi bahaya laten. Tak tertahankan pula jumlah kriminal yang terus meningkat, korupsi, teror, narkotika, perampokan, perjudian, penipuan dan lain-lain yang hal itu bisa merusak kapasitas pemimpin. Belum lagi menghadapi masalah dalam organisasi dan menyesuaikan diri dengan dinamika politik yang terjadi. Demikian pula dengan situasi keamanan dalam negeri dan sistem peradilan pidana juga belum kondusif.

Kapolri baru pada dasarnya menghadapi masalah yang tidak lagi bersifat teknis, masalah yang dihadapi semakin kompleks, rumit, dan pelik. Suatu masalah yang bersifat substansial. Di luar tugasnya juga menghadapi masalah yang tidak ringan, berbagai masalah yang menyangkut dampak dari masih tingginya angka pengangguran, sempitnya lapangan kerja, kemiskinan, dan dekadensi moral. Hal itu bisa menjadi semacam sclerosis leadership, perasaan ragu atas kemampuannya sendiri. Untuk mengatasi, biasanya muncul kebijakan yang bersifat populis tanpa menghitung dampaknya. Operasi preman, rasia kendaraan bermotor, operasi judi, operasi minuman keras pada dasarnya tidak menyentuh akar masalah, justru hal ini bisa menyakiti masyarakat jika tidak tepat pendekatannya.

Problem-problem masa kini dapat menyeret polisi kejurang keputusasaan, namun sebaliknya hal itu justru menuntut perlunya dilakukan suatu perubahan. Dari berbagai masalah yang sangat kompleks dihadapi polisi, hal yang mendasar perlu dilakukan adalah restrukturisasi Polri dalam ketatanegaraan RI. Akhirnya kepada calon Kapolri saya sampaikan pepatah: ”Justum et tenacem propositi virus”, orang yang adil dan teguh pendiriannya tidak akan goyah dan terguncang oleh kemarahan rakyat. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar