Date Sabtu, 12 July 2014 | 18:32 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Opini

Membumikan TTG

Suhermanto Raza

Pada 26-30 September 2013 Sumatera Barat (Sumbar) akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan perhelatan nasional: Gelar Teknologi Tepat Guna ke-XV di GOR H. Agus Salim. Sekitar 6.500 orang dari 34 provinsi di Indonesia bakal hadir dan mengisi 320 stand. Iven besar ini tidak hanya kehormatan bagi Sumbar, tapi juga momentum strategis dalam menyebarluaskan informasi berbagai teknologi yang dapat memberi nilai tambah kepada masyarakat.

Sudah empat belas kali kegiatan ini diadakan bergiliran di setiap provinsi di Indonesia, dan untuk kelima belas kalinya di Padang, ibukota Sumbar. Sesuai tujuannya, gelar teknologi tepat guna untuk menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang pembangunan dan kemajuan teknologi serta manfaatnya.

Banyak kementerian yang dibutuhkan perannya. Sedikitnya 11 kementerian yaitu Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi, Kementerian Pertanian, Kementerian Hukum dan HAM serta kementerian lainnya.

Melalui tema “Dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal melalui pendayagunaan teknologi tepat guna, kita wujudkan kemandirian masyarakat”, diharapkan terbangun komitmen bersama di Sumbar dalam melakukan penguatan, pengembangan dan pendayagunaan teknologi.

Disadari bersama, masih banyak potensi lokal yang belum termanfaatkan dan dikelola secara baik sehingga membawa kondisi tak menguntungkan bagi masyarakat. Sekitar 7,8% rakyat Sumbar tergolong miskin. Apalagi dari sisi besaran pendapatan, yang tidak miskin pun masih kalah dibandingkan masyarakat negara maju yang telah berpendapatan tinggi.

Rata-rata masyarakat miskin berprofesi sebagai petani, yang hidup dari lapangan pertanian. Produk pertanian masih belum menjanjikan bagi perwujudan kesejahteraan. Hal itu akibat dari produk–produk pertanian yang belum diolah, dimanfaatkan secara efisien dan efektif, karena rata-rata masyarakat yang bermukim di pedesaan tidak didukung keberadaan teknologi. Misalnya, apabila petani menghasilkan produk ubi, mereka terkendala alat bantu memodifikasi ubi sehingga bernilai tambah. Ketiadaan teknologi yang dapat menggiling ubi menjadi menarik, serta alat olahan yang dapat digunakan menambah mutu, rasa dan tampilan produk olahan, yang pada gilirannya akan dapat menaikkan angka produksi dan meningkatnya nilai jual dari produk tersebut.

Pada gelar teknologi tepat guna ke-XIV di Batam, Kepulauan Riau beberapa produk teknologi yang ditampilkan semakin tinggi bobotnya. Muncul inovasi-inovasi dalam bidang teknologi di berbagai provinsi seperti di Sumbar, tampil teknologi sederhana yaitu alat pengeringan kakao/cokelat. Teknologi tersebut mendapat Juara III tingkat nasional. Alat pengeringan kakao merupakan ciptaan dosen Sekolah Tinggi Tenik Pertanian (STTP) Padang. Selain itu, ada alat pemotong rumput ternak dan berbagai alat lain yang digunakan untuk kegiatan usaha produktif masyarakat.

Gelar teknologi tepat guna mestinya mendorong berkembangnya teknologi di perdesaan yang bermanfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Di negara maju seperti Jepang dan Jerman yang sekarang mapan, produksi pertanian dan industrisnya berawal dari tumbuhnya teknologi perdesaan, kemudian menjadi besar dan kuat.

Pada gelar teknologi tepat guna ini, diharapkan tampil teknologi yang dapat dikembangkan, dan bisa membumi di Sumbar, dalam arti dinikmati serta dicintai masyarakat. Dengan begitu, pada masa mendatang di Sumbar akan berkembang inovasi-inovasi teknologi. Secara kelembagaan dan pemberdayaan, berdiri dan berkembangnya Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) di setiap kecamatan atau nagari untuk wadah berdiskusi masyarakat guna menemukan metode dan kiat mengatasi kesulitan melakukan proses produksi.(*)

Opini lainnya

Komentar