Date Senin, 28 July 2014 | 13:14 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Teras Utama

Izin Lingkungan Selamatkan Lingkungan

Nasfryzal Carlo

Ketua Pusat Studi Lingkungan Universitas Bung Hatta

Izin Lingkungan Selamatkan Lingkungan

Setiap 5 Juni dilakukan perayaan hari lingkungan hidup. Tanggal tersebut ditetapkan dalam sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menandai dimulainya Konferensi Lingkungan Hidup di Stockholm, Swedia tahun 1972. Perayaan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran global tentang lingkungan dan mendorong perhatian dan tindakan politik di dunia. Sayangnya, tonggak sejarah kepedulian terhadap lingkungan baru terjadi hampir 2 abad setelah revolusi industri (1780).

Revolusi industri telah mengubah peradaban manusia dalam membangun dengan mengeksploitasi sumberdaya alam tanpa batas.

Peringatan hari lingkungan hidup untuk memberi kesempatan kepada semua orang untuk menjadi bagian aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan, serta gaya hidup ramah lingkungan. Untuk itu setiap tahun dibuat tema berbeda, terutama berdasarkan situasi, kondisi lingkungan dan negara mana yang menjadi tuan rumah. Tahun 2012 tema diusung “Green Economy: Does it include you?” dengan Brazil sebagai tuan rumah.

Brazil negara dengan jumlah penduduk nomor lima terbanyak dunia dinyatakan sebagai salah satu negara sukses mengurangi emisi karbon dalam mengelola hutannya, memanfaatkan peraturan secara ketat dan pemantauan secara rutin. Selain itu, UNEP (2012) menilai Brazil berhasil menerapkan green economy dalam pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Di Indonesia tema ini diselaraskan menjadi Ekonomi Hijau: Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”.

Tahun 2013, tema perayaan lingkungan adalah Eat, Think, Save dengan negara Mogolia sebaga host. Tema ini lebih menekankan pada konsumsi pangan berkelanjutan (sustainable consumption). Manfaatkan bahan pangan sesuai kebutuhan, sehingga meminimalisir atau menghindari produk pangan yang tidak dikonsumsi menjadi makanan sisa. Padahal, makanan tersebut masih utuh dan layak dikonsumsi.

Menurut FAO setiap tahun sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang dan menjadi sampah, akibat perilaku manusia. Dampak dari limbah makanan bukan hanya merugikan secara finansial, tapi juga berdampak buruk pada lingkungan. Semakin banyak sisa makakan terbuang, berarti semakin besar pemborosan sumberdaya alam, penggunaan pupuk dan pestisida, dan bahan bakar yang dihabiskan untuk transportasi pun kian banyak.

Semakin banyak makanan membusuk akan semakin banyak gas methan dihasilkan. Pemakaian bahan bakar akan menambah gas CO2. Gas methan juga meningkatkan kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global, karena keduanya merupakan gas rumah kaca. Dampak pemanasan global sudah dirasakan seperti banjir rob (naiknya permukaan air laut), hujan tidak beraturan, dan semakin sering orang mengeluh: “aduh panasnya hari ini”, dan sebagainya.

Peringatan lingkungan hidup di Indonesia tahun ini menyelaraskan tema diusung dunia, menjadi ubah perilaku dan pola konsumsi untuk selamatkan lingkungan. Perilaku bagaimana harus diubah? Perilaku serakah dan tanpa peduli aturan, seperti membangun tanpa izin lingkungan, pembalakan liar (illegal logging) dan penambangan liar (illegal mining), mendirikan bangunan pada sempadan sungai, pembukaan hutan dengan cara pembakaran, pemangkasan bakau pantai, penangkapan ikan menggunakan bom (sentrum) atau pukat harimau, dan lainnya. Semuanya melanggar etika lingkungan, pada akhirnya mendatangkan bencana silih berganti. Padahal, Allah telah mengingatkan manusia dalam Al Quran Surat Ar-Ruum 41; telah terjadi (nampak) kerusakan/malapetaka di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka sendiri, agar mereka kembali ke jalan benar. Makna ayat ini menggambarkan betapa eratnya keterkaitan perilaku manusia dan kelestarian lingkungan.

Perilaku lain perlu diubah: bagi pemrakarsa kegiatan harus melakukan kajian lingkungan dan meminta izin lingkungan sebelum melakukan pembangunan. Pahami bahwa izin prinsip bukanlah izin mendirikan bangunan (IMB)/kegiatan atau izin lingkungan. Bagi pengambil keputusan, berikan IMB setelah adanya izin lingkungan. Jangan berdalih karena ada investor atau kepentingan tertentu, lalu IMB diberikan tanpa izin lingkungan. Pastikan ada dokumen kajian lingkungan sebagai prasyarat IMB. Dokumen dimaksud adalah AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) atau UKL/UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan/Upaya Pemantauan Lingkungan).

Kajian lingkungan diyakini akan mengurangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif dari kegiatan akan dilaksanakan. Kajian lingkungan merupakan kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Hasil kajian lingkungan memuat apa harus dilakukan pemrakarsa dan institusi pemantau lingkungan, untuk meningkatkan dampak positif dan mengeliminasi dampak negatif suatu kegiatan. Dengan mengubah perilaku berarti telah melaksanakan amanat UU Nomor 32 Tahun 2009 yang menjadi acuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. (*)

Teras Utama lainnya

Komentar