Date Kamis, 24 July 2014 | 13:25 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Cucu Magek Dirih

Bagaimana Pers Mamandang DPRD

H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Bagaimana Pers Mamandang DPRD

DPRD Provinsi Sumatera Barat mengikutsertakan Cucu Magek Dirih sebagai pemateri pada pelatihan para kepala humas DPRD kabupaten/kota dan dari Sekretariat — dan Humas — DPRD provinsi Sumatera Barat, dan wartawan yang mangkal di DPRD. Pemateri lainnya, Ketua DPRD Yulteknil, Mestika Zet, dan Saldi Isra. Kata yunior Cucu Magek Dirih, Kepala Humas DPRD Provinsi Sumatera Barat, Edy Janur, kesertaan Cucu Magek Dirih sebagai mewakili kalangan pers. Berikut ini adalah summary makalah Cucu Magek Dirih, yang mungkin melelahkan karena dilengkapi footnote/kutipan buku (disederhanakan menjadi author/tahun terbit/halaman)—sudah dikurangi bagian uraian penjelasan (bukan dari buku).

TENTU Cucu Magek Birih berbicara terlebih dahulu tentang pers dalam arti wartawan cetak (Point 1, 2, 3, Pasal 1, Bab I: Ketentuan Umum UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers; Indriyanto Seno Adji, 2008:10; Mochtar Lubis & Ramadhan Karta Hadimadja (Editor), 1995: 229; Abdul Muis, 1996:13, 155, 160; Jeremy Pope, 2003: 444; Karin Wahl-Jorgensen & Thomas Hanitzsch, 2009: 239; Wahyu Wibowo, 2011: 2, 57, 216; Jakob Oetama, 2001: 48, 162; Rizal Mallarangeng, 2010; Kees Bertens, 2004:177; Aim Abdulkarim, 2006:70; Jay Newman, 1989; Jim Willis, 2010). Tentang wartawan elektronik (IJTI, didirikan Agustus 1998, KJR berdiri di Jawa Tengah) dari Stasius TV, yaitu TVRI (Point 4, Pasal 1, Bab I: Point b, Ayat (1), Pasal 13, Bagian Ketia, Bab III; Ayat (2), Pasal 13, Bagian Ketiga, Bab III, UU No. 32/2002) dan stasiun TV lokal swasta (Agus Sudibyo, 2007:105; Ana Nadhya Abrar, 2008:23, 36,100; Masduki, Muzayin Nazaruddin, 2008:16; R Siti Zuhro, 2008:391), tentang radio siaran: RRI (Point 3, Pasal 1, Bab I: Ketentuan Umum; Point a, Ayat (1), Pasal 13, Bagian Ketia, Bab III, Ayat (2), Pasal 13, Bagian Ketiga, Bab III, UU No. 32/2002) dan stasiun radio swasta (PP No. 55/1970; Kumpulan Peraturan Tahun 1970 s/d 1992; Krishna Sen, David T. Hill, 2000:103; Ade Armando, 2011:227; Monroe Edwin Price, Beata Rozumilowicz, Stefaan G. Verhulst, 2002; Masduki, 2007).

Lalu, Cucu Magk Dirih berbicara tentang pers dalam arti perusahaan pers/lembaga media massa (Point 2, Pasal I, Bab I, UU No. 40/1999; Hinca Ikara Putra Pandjaitan, Amir Effendi Siregar, Mahtum Mastoem, 2006; Indonesia Media Law & Policy Centre, 2007:41, 11,53, 11, 54; Muhamad Hisyam, 2003:412, 414; Oemar Seno Adji, 1990:169, 175, 186; Himpunan Keputusan Dewan Pers 1966-1987:12, 33, 44; SPS, 1971: 7, 24, 168; Jakob Oetama, 2001:310; Todung Mulya Lubis, 2006:249; Sukarno, 1986:283, 294, 300; Aim Abdulkarim, 2006:82, 95; Rizal Mallarangeng, 2010:60; Ignatius Haryanto, 2006:39; Ibnu Hamad, 2004:68). Perusahaan pers/penerbit pers (usaha media massa cetak: surat kabar, majalah, dan tabloid); perusahaan pers/pengelola radio siaran swasta; perusahaan pers/pengelola stasiun TV lokal swasta; dan perusahaan pers/pengelola media online (UU No. 11/2006; Sukarmi, 2008:171; Hiqmad Muharman Piliangsani, 2010:45; Muchtar AF, 2010:27).

Lalu, tentang keberadaan pers/posisi pers secara peraturan peundangan: sebagai lembaga sosial (Point 1, Pasal 1, Bab I, UU No. 40/1999) , lembaga ekonomi (Ayat (2), Pasal 3, Bab II, UU No. 40/1999), harapan pers menjadi pilar keempat demokrasi/the fourth estate (Ahmad Suhelmi, 2001:314; Mochtar Lubis, Ramadhan Karta Hadimadja, 1995: 224; Mohammad Amien Rais, 208:115; R Eep Saefulloh Fatah, 2004:17; Richard Claproth, 2011:38; Hafied Cangara, 2009; Ade Armando, 2011:27; Ignas Kleden, 2004:xxxix; T. Mulya Lubis, 2008:148; Hotman Siahaan, 1993:470; Tjipta Lesmana, 1985:iii; Faisal Ismail, 1984:37; Dewan Pers, Unesco, 2003: 51, 52; Wikrama Iryans Abidin, 2005:71, 72; Adolf Heuken, SJ, 2008:38; Masduki & Retno Suffatni, 2008: vi; workshop SEAPA-Dewan Pers-FES, 10 Oktober 2002, 2003:4, 18, dan 40), pers menjalankan amanat Konstitusi (Pasal 28F, Pasal 28, Bab XA/Bab X, UUD 1945). Fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial (Ayat (1), Pasal 3, Bab I, UU No. 40/1999), peranan pers memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujud supremasi hukum/hak asasi manusia; menghormati kebhinekaan; mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat/akurat dan benar, melakukan pengawasan/kritik/koreksi/saran tentang hal-hal berkaitan kepentingan umum memperjuangkan keadilan/kebenaran (Pasal 6, Bab II, UU No. 40/1999), mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa

(Jakob Oetama, 2001:234; Harmoko, 1989:177; Aim Abdulkarim, 2006:80; HPN 1995:xi, 76; HPN 1993:vii, 22; PWI, 1991:82), mendidik (Jakob Oetama, 2001:410; Hj Suyuti S. Budiharsono, 2010:29; A Mustofa Bisri, 2011:48; F. Rachmadi, 1990:v, 16, 180; Wahyu Wibowo, 2009:100; Herry Zudianto, 2008:133; Yusuf Qardawi, 1998:130; Aim Abdulkarim, 2006:113; HPN 1995, 1997: 31, 32; Biom Lebon, 2009:192). Membela kebenaran dan menegakkan keadilan (Tribuana Said, 1987:14; Wina Armada Sukardi, 2007:205; S. Satya Dharma 2004:153; Hamid Basyaib & Ibrahim Ali-Fauzi, 1997: 382; Roberto Bangun, Harmoko (H), 1995:284, HPN 1995,1995:74), melakukan kontrol sosial (Soetrisno PH, 1994:342; Muhamad Hisyam 2003:400; Harmoko (H), 1988:197, 244, 245; J. Anto, 2007:148; Sukarno, 1986:30; T. Atmadi, 1985:45, 93, 354; Satrio Arismunandar, 2005:180; Oka Kusumayudha, 1987:66, 102, 136; Aim Abdulkarim, 2006:73; Neni Nurmayanti Hasanah, 2006:66; HPN 1992:8; Hinca Ikara Putra Pandjaitan, Amir Effendi Siregar, Mahtum Mastoem, 2004:5, 15, 38), dan menghibur (M. Dawam Rahardjo, 1997:301; GM Sudarta, 2007:15; Unpad/PWI, Tjabang Bandung, 1972:22; Harmoko, 1989:73, 102. 148; Merry Magdalena, Adinto Fajar, 2010:44; Frans M. Royan, 2004:101; Aim Abdulkarim, 2006:111; Biom Lebon, 2009:192).

LALU, Cucu Magek Dirih berbicara tentang bagaimana Pers Memandang DPRD (provinsi dan kabupaten/kota): azas legalitas formal, UU No. 32/2004 (Point a, Menimbang: UU No. 32/2004, perubahan UU No. 22/1999). Mulai beberapa pengertian otonomi daerah (Point 5, Pasal 1, Bab I), daerah otonom (Point 6, Pasal 1, Bab I), desentralisasi (Point 7, Pasal 1, Bab I), dekonsentrasi (Point 8, Pasal 1, Bab I), dan tugas perbantuan (Point 9, Pasal 1, Bab I). Pemerintahan Daerah (Point 2, Pasal 1, Bab I), tentang pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat daerah (Point 3, Pasal 1, Bab I), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Point 4, Pasal 1, Bab I). Tentang kedudukan (Pasal 40, Paragraf Kedua, Bagian Kelima, Paragraf Kesatu, Bab IV), fungsi DPRD: busgetting, legislasi, pengawasan (Pasal 41, Paragraf Kedua, Bagian Kelima, Paragraf Kesatu, Bab IV), tugas dan wewenang DPRD (Ayat (1), a-k, Pasal 42, Paragraf Ketiga, Bagian Kelima, Paragraf Kesatu, Bab IV UU No, 3/2004).

Tentang DPRD dalam perspektif otonomi daerah: sebagai penyelenggara pemerintahan/penentu kebijakan atau regulator (Indra Bastian, 2005:18; Rikardo Simarmata, 2003:63; Faisal H. Basri, 2002:278; Donni Edwin, 2005:18, 50; M Djadijono, I Made Leo Wiratma, TA Legowo, 2006:129; Syamsuddin Haris 2007:41; Wawan Sobari, Fahmi Wibawa, Moch Yunus, 2004:27, 119; Indra J Piliang, Dendi Ramdani, Agung Pribadi, 2003:282; Arohman Prayitno, Bambang Soedoro Mintargo, 2001:222; Soegeng Sarjadi, Sukardi Rinakit, 2004:100; Sadu Wasistiono, Ondo Riyani, 2002:68), kedua mendorong penyelenggaraan Musrenbang (Pasal 17 Ayat (1), Pasal 16 Ayat (1) dan (4), Pasal 17 Ayat (2), Pasal 18 Ayat (2), Bagian Pertama, Bab V, UU No. 25/2004) sebagai sistem/mekanisme keikutsertaan rakyat dalam perumusan kebijakan/partisipasi/prakarsa daerah (Antonio P Hardojo, 2008:67; Hanif Suranto & Agus Mulyono, 2007:186; M. Najih, 2006:162; Bappenas, 2006:68; Dede Wardiat, 2005:69, 73; Nor Hiqmah, 2009:160-161; Aris Arif Mundayat, Edriana Noerdin, Sita Aripurnami, 2006:77, 93, 119; W Riawan Tjandra, Kresno Budi Darsono, 2009:120; Syamsul Hadi Thubany, Fahmi Wibawa, 2005:134; Irine Gayatri, 2009:97); mengkases/menyalurkan aspirasi masyarakat (Asrori S. Karni, 2009:79, 81; Agus Dwiyanto, 2011:255; R Widodo Triputro, Supardal, 2005:68; Dede Wardiat, 2005:300; Djohermansyah Djohan, 1997:26; Ngakan, PO, Achmad, A, Wiliam, D, Lahae, K, Tako, A, 2001:38; Syamsuddin Haris 2005:104; Tomi Lebang, 2006:62; Syamsuddin Haris 1999:168; TA Legowo, Sebastian Salang, Libertus J, 2008:119); mengembangkan praakarsa dan inisiatif daerah (M Thalhah, 2007:243; Hetifah Sjaifudian, 2009:291; Wawan Sobari, Fahmi Wibawa, Moch Yunus, 2007L97, 113, 133; Srijanti, A Rahman HI, Purwanto SK, 2007:197; R. Widodo Triputro, Supardal, 2005:69, 74; Syamsuddin Haris 2007:327; Budi Gutami, 2009:14, 45; CIFOR, 2003: 14).

DALAM pembahasan/diskusi, Cucu Magek Dirih kembali menekankan tentang esensi keberadaan/posisi DPRD sebagai representasi rakyat, regulator, dan menjamin pelaksanaan kebijakan politik/penyelenggaraan otonomi daerah dalam perspektif/paradiga baru dalam hal inisiati/prakarsa daerah dalam kesertaan warga dalam perumusan kebijakan, setidaknya melalui sistem/mekanis Musrenbang sebagaimana diatur/dijamin dalam UU No. 25/2004 tentang Strategi Pembangunan Nasional. Bagi Cucu Magek Dirih, fugsi/peran DPRD mengkases kesertaan masyarakat dalam perumusan kebijakan dan realisasi prakarsa/insisiati daerah dalam pembangunan daerah melalui penyelenggaraan Musrenbang yang aspiratif/produktif, jauh lebih penting daripada fungsi/peran DPRD: legislasi, budgetting, dan pengawasan. Penyelenggara Musrencang memang tetap Pemda/Bappeda, tapi, menjamin penyelenggaraannya secara baik dan benar adalah tugas pokok DPRD.***

Cucu Magek Dirih lainnya

Komentar