Date Rabu, 23 July 2014 | 00:40 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Tajuk Rencana

Mandiri Buah dan Sayur

REDAKSI

DALAM minggu-minggu ini kebijakan impor hortikultura menjadi sorotan banyak pihak. Mulai pihak internal hingga eksternal. Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia mendesak otoritas untuk menyederhanakan proses impor. Dari luar negeri, AS mengambil langkah notifikasi dan keberatan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kebijakan pembatasan impor.

Tekanan itu benar-benar menguji pengemban amanah di Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Tekanan itu semakin besar ketika maksud baik peraturan menteri untuk melindungi produksi buah dan sayur lokal tersebut berbalik menjadi kritik tajam karena berdampak pada kenaikan harga-harga. Cabai dan bawang memimpin kenaikan.

Akhirnya muncul opini bahwa kedua kementerian tidak cakap dalam mengurus supply and demand buah dan sayuran. Bagaimana menyikapi masalah ini? Kebutuhan komoditas hortikultura meningkat seiring kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dengan mengonsumsi buah dan sayur yang cukup. Jumlah kelas menengah yang mengonsumsi hortikuktura berkualitas juga meningkat. Secara nasional, permintaan buah-buahan tumbuh 12-15 persen per tahun dalam lima tahun terakhir.

Konsumsi buah meja untuk rumah tangga mencapai 35-40 persen dari total konsumsi buah-buahan nasional. Di antaranya pisang, jeruk, apel, pepaya, salak, dan pir. Kebutuhan hotel, restoran, dan katering sekitar 20 persen, yang meliputi pepaya, semangka, melon, nanas, dan alpukat. Konsumsi buah untuk industri mencapai 30 persen, seperti untuk industri jus, minuman, dan lain-lain, terutama jeruk, apel, mangga, dan jambu. Konsumsi buah musiman atau eksotik hanya 10 persen, yang meliputi mangga, durian, buah naga, sawo, dan rambutan.

Sayang, peluang ini belum diantisipasi pemerintah dan dimanfaatkan secara optimal oleh pengusaha. Komoditas hortikultura nasional dikelola apa adanya, sehingga belum tersedia komoditas berkualitas dan bersaing. Kontinuitasnya belum stabil. Bahkan, biaya distribusike kota-kota besar relatif mahal sehingga daya saingnya rendah. Ini kelemahan hortikultura nasional.

Kita seharusnya tak malu belajar dari negeri tetangga, Thailand. Di negeri tersebut hortikultura menjadi daya saing nasional. Turis mancanegara terkesan dengan sajian buah dari Thailand. Bahkan, konsumen Indonesia, tanpa dipaksa, selalu memberikan sebutan buah Bangkok, untuk setiap jenis buah yang unggul ukuran dan rasa. Tak peduli buah tersebut berasal dari Indonesia juga sebenarnya.

Lihat saja lapak-lapak buah-buahan baik yang dijual di toko hingga kaki lima, semua diserbu buah impor. Buah-buah lokal terjajah buah bule di negeri sendiri. Keadaan ini tentu saja tak bisa terus-menerus dibiarkan. Sudah saatnya ada langkah komprehensif.

Kebijakan menghambat masuknya buah impor harus dibarengi dengan kebijakan peningkatan produktivitas petani lokal, terutama terhadap komoditas lokal yang diproteksi. Salah satunya dengan cara membudidayakan berbagai jenis buah-buahan yang selama ini bergantung pada impor. Pada masa mendatang, diharapkan pemerintah terus konsisten untuk menjadikan bangsa ini mandiri dalam kebutuhan pangan dan hortikultura. Bila tidak, lansek manih sijunjung dan duku manih dharmasraya yang kini digemari masyarakat Sumbar, bisa tinggal nama karena minimnya kepedulian pemda terkait membudidayakannya.(*)

Tajuk Rencana lainnya

Komentar